MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
SATU RUANG


__ADS_3

Waktu terus berlalu, hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu semua siswa meski ketegangan mulai terasa. Hari ujian akhir yang akan menentukan apakah mereka akan lulus dan menempuh jenjang pendidikan selanjutnya atau tidak.


Bangku-bangku sudah berjejer rapi di enam ruangan berbeda. Para siswa akan duduk sesuai nomor ujian yang sudah tertera di atas meja.


"Gue se ruangan sama Lo gak ya, Lan?" Tanya Cici, gadis itu tampak gugup.


"Semoga aja iya, Ci."


Mereka lalu menghampiri ruangan 1, melihat daftar nama dan nomor ujian yang tertera di jendela kelas. Menelisik dengan teliti apakah nama mereka tertera di sana atau tidak.


"Nama gue ada, Lan. Lo gimana?" Tanya Cici yang sudah menemukan namanya.


"Yah, kayanya kita gak seruangan deh, Ci. Nama gue gak ada," jawab Bulan. Padahal ia berharap bisa satu ruangan dengan Cici.


"Masa sih? Cari lagi yang bener, Lo gak lupa nama panjang Lo kan, Lan?"


Bulan berdecak, "Masa iya gue lupa. REM BU LAN," Bulan mengeja namanya sendiri, membuat Cici tertawa lalu merangkul bahu sang sahabat. "Beneran gak ada, Ci."

__ADS_1


"Yaaaah, gue sendirian dong." Cici menyandarkan kepalanya di bahu Bulan, mereka terlihat lebay.


"Temenin gue nyari ruangan yuk, semoga aja gak jauh dari ruangan Lo."


Cici mengangguk mengiyakan, dengan saling bergandengan mereka lalu kembali melanjutkan perjalanan mencari ruangan Bulan.


Tiba di ruangan ke dua, Cici dan Bulan menghentikan langkah. Mereka kembali melihat daftar nama dan nomor ujian yang tertera di jendela ruangan.


"Semangat yah.."


Belum sempat menemukan namanya, bisikan itu membuat Bulan terperanjat, ia sontak menoleh, "Angkasa? Kamu ngagetin aja. Kamu di ruangan ini?"


"Apa hubungannya?" Bulan lalu kembali melihat beberapa daftar nama disana, namanya memang ada di ruangan itu. Ia lalu menoleh pada Cici yang tampak mengerucutkan bibirnya. "Gue di ruangan ini, Ci. Kita gak terlalu jauh," rayu Bulan.


"Bisa tukeran gak sih? Lo di ruangan itu aja, Sa," celetuk Cici. Membuat Angkasa menggeleng dan Bulan justru tertawa.


"Mana bisa begitu, Cici yang cantik. Good luck yah, semoga ujian Lo lancar," ucap Bulan dengan tulus. Ia lalu memeluk Cici dan menepuk punggung sang sahabat beberapa kali.

__ADS_1


"Good luck juga buat Lo, Lo mah gak perlu di ragukan lagi, LAN. Lo kan pinter," ucap balik Cici.


"Bisa aja Lo.."


"Gue gak di peluk juga, Lan? Gue juga perlu ucapan semangat ini.." Angkasa merentangkan tangannya, raut wajahnya begitu sangat berharap.


"Modus!" ejek Cici.


Alih-alih mendapat pelukan, Angkasa justru di tinggal begitu saja. Bulan kembali mengantarkan Cici ke ruangannya.


***


Suara riuh terdengar saat Bintang memasuki kelas, ia mengedarkan pandangannya, lalu tersenyum membalas sapaan beberapa temannya. Hal yang sangat jarang Bintang lakukan, apalagi membalas sapaan teman perempuan, Bintang nyaris tak pernah menanggapi mereka. Tapi kali ini pemuda itu tersenyum, entah ada angin dari mana Bintang seperti itu.


Pandangannya terhenti pada seseorang, senyumnya sirna seketika. Ia lalu melanjutkan langkahnya, mencari meja yang sesuai dengan nomor ujiannya. Entah suatu kebetulan atau bukan, tempat duduknya tepat di depan tempat duduk Bulan.


Bintang menghela nafas panjang, lalu duduk di bangkunya tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

__ADS_1


Sementara Bulan, gadis itu hanya bisa diam membisu. Bahkan untuk menelan ludahnya sendiri saja rasanya sulit, ia tak menyangka tempat yang masih kosong di depannya adalah tempat Bintang.


__ADS_2