MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
KEDATANGAN


__ADS_3

Bulan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Kepalanya berat, bukan karena helm yang ia pakai, melainkan karena ia terlalu lama menangis. Lihatlah kedua matanya, membengkak seperti jengkol.


Tepat pukul 17.30 Bulan sampai di rumahnya, ia lepas helm yang semula membungkus kepalanya, lalu turun dari motor dan melangkah lunglai menuju teras rumah. Namun di saat yang bersamaan Bumi tampak keluar dari rumah, pria paruh baya itu tak sendirian, ada seseorang di belakangnya.


“Bintang?” Lirih Bulan, kedua kakinya mendadak terasa kaku untuk berjalan, tubuhnya mematung dengan pandangan lurus menatap pria yang katanya sebentar lagi akan bertunangan. Tatapan nanar ia layangkan, dan ketika Bintang balas menatapnya, gadis itu berpaling.


“Baru pulang, nak?” Tanya Bumi.


Bulan mengangguk, berusaha tersenyum pada sang papa meski bibirnya bergetar menahan tangis.


“Om, terima kasih untuk waktunya, saya pamit. Dan saya harap om bisa datang di acara saya nanti,” kata Bulan. Pria itu menyalami Bumi penuh hormat, memeluk pri paruh baya itu sesaat lalu kembali melepasnya.


“Terima kasih untuk undangannya, om pasti datang. Sampaikan salam om sama mami dan papi kamu,” jawab Bumi seraya menepuk pundak Bintang beberapa kali.


“Sama-sama om, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, hati-hati nak..” pesan Bumi, kemudian ia pamit memasuki rumah. Ia tahu dua muda mudi itu perlu bicara, Bumi ingin memberikan waktu pada Bulan dan Bintang untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin mereka ingin sampaikan namun tak pernah tersampaikan.

__ADS_1


“Bulan..”


Bulan menoleh, menatap Bintang sekilas lalu kembali memalingkan wajah. Ia tak sanggup menatap wajah pria itu, air matanya seperti tengah berdemo untuk keluar.


“Apa kabar?” Tanya Bintang, ia melangkah mendekati Bulan, menatap gadis itu dengan tatapan entah.


“Aku baik,” jawab Bulan.


“Syukurlah, sudah lama kita gak ngobrol-ngobrol. Emmm, ada yang mau aku omongin, kamu ada waktu sebentar?”


Beberapa menit larut dalam keheningan, Bintang yang sudah mengumpulkan nyali untuk bicara akhirnya memulai pembicaraan, “Minggu depan aku tunangan, kamu bisa datang?”


Bulan menoleh, bersamaan dengan itu air matanya meluncur begitu saja tanpa bisa ia tahan lagi. Ternyata benar Bintang akan bertunangan. Bulan sudah tahu kabar itu benar, bahkan Angkasa pun membenarkan. Rasanya sakit, dan ternyata lebih sakit lagi saat Bintang yang menyampaikannya secara langsung. Ia tatap pria itu dengan air mata yang semakin membanjir, lalu kembali memalingkan wajah saat Bintang hendak menghapus air matanya.


“Selamat untukmu, aku pasti datang. Terima kasih udah ngundang aku secara langsung,” kata Bulan dengan bibir bergetar.


Bintang mengangguk, “Sama-sama. Oiya, aku mau minta maaf atas semua kesalahan yang udah aku lakuin ke kamu, baik itu yang aku lakukan dengan sengaja atau tidak, aku ingin memulai hidup yang baru tanpa beban kesalahan di masa lalu, dan aku harap kamu juga begitu. Aku yakin kamu juga akan bahagia,” ucap Bintang tanpa menatap Bulan. Tatapannya lurus ke depan, ia enggan menatap air mata Bulan, dari dulu ia tak pernah sanggup melihat gadis itu menangis.

__ADS_1


Mendengar kalimat itu Bulan semakin terisak. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati, kenapa ia bisa memperlihatkan kelemahannya di hadapan Bintang. Bukankah nantinya pria itu akan mengira dia masih mencintainya? tapi kenyataannya memang begitu bukan? Tidak ada yang perlu di tutupi lagi, toh mulai saat ini semuanya akan berakhir. Mereka akan berjalan masing-masing.


Aku ingin memulai hidup yang baru tanpa beban kesalahan di masa lalu, kalimat itu seperti belati yang menusuk hati Bulan hingga ke dasar. Sakit, perih dan sesak. Dari kalimat itu juga Bulan mengerti, bahwa Bintang ingin memulai kehidupan yang baru tanpa bayang-bayang Bulan, bahwa Bintang ingin melupakannya selamanya, bahwa Bintang tak ingin lagi mengingat semua tentang mereka.


Tentang mereka? Memang kenangan apa yang mereka punya? Bukankah tak ada kenangan manis yang harus mereka kenang? Semuanya hanya ada kesedihan, dan mungkin Bintang berpikir bahwa gonjang ganjing dan ketidak jelasan hubungan mereka harus benar-benar di hentikan.


“Iya, Bintang. Kamu benar, aku juga harus bahagia. Dan semoga kamu juga bahagia, aku pasti akan datang ke acara pertunangan kamu.” Putus Bulan pada akhirnya, ia hapus air matanya dengan asal, meski tetap saja pipinya kembali basah karena cairan bening itu tak mau berhenti keluar.


“Pasti, aku pasti akan bahagia. Aku akan lebih bahagia kalau kamu benar-benar datang nanti, aku akan menunggu kedatanganmu.”


Bulan mengangguk, ia berusaha tersenyum meski wajahnya tampak kacau.


“Aku harus pulang, terima kasih untuk waktunya. Assalamualaikum..”


“Waalaikumsalam,” lirih Bulan, ia beranjak dan segera memasuki rumah meski Bintang belum benar-benar pergi dari sana. Bulan sudah tak sanggup, ia ingin menangis sekencang-kencangnya, meraung meluapkan rasa sakit yang sakitnya baru kali ini ia rasakan.


“Maaf, Bulan. Maafin aku, aku harus melakukan ini, aku harus menghentikan semuanya agar kita bisa sama-sama bahagia nanti..”

__ADS_1


__ADS_2