
Hari ini adalah hari terakhir ujian, setelah itu, kelas 12 hanya tinggal menunggu pengumuman kululusan dan pesta perpisahan atau prom night.
Bulan tampak murung, membayangkan tak akan melihat Bintang dalam waktu lama membuatnya sedih, sudah terukur sejauh mana rasa rindunya nanti pada pemuda itu. Pasti jauh sejauh jauhnya.
Helaan nafas panjang terdengar berhembus dari mulutnya, ia sungguh tak bersemangat menjalani hari ini. Pandangannya mengedar, setiap sudut di sekolah itu mengukir kenangan tersendiri untuknya. Dari mulai ia masuk di kelas 10 hingga kelas 12 akhir, semuanya hanya tentang mengejar cintanya Bintang. Yang naasnya, hingga sekarang cintanya tak berbalas.
Mungkin ini jalan terbaiknya, ia harus menyerah karena perpisahan. Karena belum tentu ia dan Bintang bisa satu kampus nantinya. Lagi pula Bulan berencana cuti satu tahun, ia ingin mengumpulkan pundi-pundi untuk biaya kuliahnya nanti.
Langkahnya terhenti saat tangan seseorang merangkul bahunya, jantungnya berdebar-debar, wangi parfum yang tercium oleh indera penciumannya sangat ia kenali. Perlahan ia menoleh, matanya membulat lucu, bibirnya mengatup rapat, Bulan tak dapat berkata-kata.
"Hai.."
"H-hai.." jawab Bulan dengan suara tergagap.
"Kenapa murung?" Bintang bertanya lembut, kepalanya menunduk miring untuk menatap penuh wajah sedih Bulan.
Bulan menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa kering, "A-aku, aku.."
__ADS_1
"Aku?"
Bintang semakin menunduk saat Bulan juga menunduk. "Ada apa?" Tanya Bintang lagi.
"Hari ini hari terakhir ujian, itu artinya, hari ini hari terakhir aku bisa lihat kamu. Apa aku bisa yah?" Tanyanya dengan polos.
Bintang terkekeh, mengusap puncak kepala Bulan dengan lembut, ternyata dirinya lah yang menjadi penyebab gadis itu terlihat murung. "Bisa, pasti bisa."
Entah mengapa, Bulan jadi ingin menangis. Apa ia berlebihan? Tapi sungguh, rasanya pasti berat melalui hari tanpa melihat pemuda itu. Ia memang bertekad untuk melupakan Bintang dan cintanya pada pemuda itu, tapi hingga sekarang, nyatanya ia tak pernah bisa.
"Sini peluk, mumpung masih sepi," Bintang menarik Bulan pelan, membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
"Aku pernah bilang, aku gak suka lihat kamu nangis. Dan aku sungguh-sungguh dengan ucapan itu, ceria lah seperti dulu Bulan."
Bulan justru semakin menangis dan menenggelamkan pipinya di dada harum pemuda itu. "Gak bisa, kamu dunia ku. Aku gak tahu apa aku bisa menjalani hari-hari tanpa melihat kamu, Bintang." Terbiasa melihat Bintang setiap hari, membuatnya ragu apa ia bisa seceria dulu.
Bintang mengusap puncak kepala Bulan, "Kenapa kamu menjadikan aku dunia mu? Apa kamu tahu, dunia itu hanya sementara. Belajarlah untuk melupakan aku, karena isi dunia yang kamu harapkan indah, bisa saja hancur ketika bencana datang."
__ADS_1
"Kalau gitu aku akan menjadikan kamu langit, karena langit tidak pernah goyah meski pun badai dan hujan datang. Pelangi akan datang setelahnya, iya kan?" ucap Bulan seraya terisak.
Bintang terkekeh, ia melerai dekapannya lalu menghapus air mata yang mengalir di pipi Bulan. "Jangan, karena saat badai datang, belum tentu kamu akan bertahan. Cinta boleh, tapi sewajarnya aja, mau itu cinta ke aku, atau ke orang lain."
Bulan menggeleng, "Ke kamu aja. Kayanya aku gak akan bisa move on dari kamu."
Melihat kepolosan Bulan, Bintang menyentil kening gadis itu dengan gemas. "Bodoh.."
Bulan tertawa meski matanya tampak basah, ia lalu melihat dada Bintang, "Baju kamu basah," ucapnya. Ia menatap Bintang lalu mengambil tissue dari dalam tasnya, "Lap pakai ini," ucapnya.
"Gak papa, aku anggap kenang-kenangan dari kamu. Tapi gak ada ingusnya kan?"
Bulan memukul pelan dada Bintang, "Mana ada, enggak ih!"
"Yuk, ke kelas. Jangan nangis, nanti yang lain ngira aku apa-apain kamu lagi." Bintang meraih tangan Bulan, menggenggamnya dan membawa gadis itu menuju kelas.
"Mau dong di apa-apain," goda Bulan. Membuat Bintang tertawa tanpa suara lalu mengeratkan genggaman tangannya pada Bulan.
__ADS_1
Di ujung lorong, seseorang tersenyum getir melihat mereka. Dari beberapa menit yang lalu, Angkasa datang dan bersembunyi di balik tiang saat melihat Bintang memeluk Bulan. Ia juga menghentikan beberapa siswa yang hendak memasuki ruangan ujian. Membiarkan Bulan dan Bintang saling berpelukan dan bicara dengan leluasa.