
"Kamu beneran udah sarapan?" Bulan bertanya sesaat setelah mereka keluar dari rumah.
Angkasa hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian berjalan lebih dulu menuju ke mobilnya. Eh tunggu-tunggu, mobil? Bukankah biasanya pria itu menggunakan motor kesayangannya? Angkasa juga pernah mengatakan, bahwa ia lebih nyaman pergi kemana-mana menggunakan motor, menghindari macet pula, lalu kenapa sekarang pria itu menggunakan mobil?
Dan Bulan tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Kamu tumben pakai mobil? Motor kamu di bengkel yah?" Karena biasanya, jika Angkasa menggunakan mobil, motornya pasti tengah di bengkel.
Angkasa menggeleng, "Enggak, motor aku baik-baik aja."
"Terus? Kok pakai mobil?" Tanya Bulan lagi.
"Aku takut kamu gak nyaman naik motor terus, kepanasan, kehujanan juga. Aku gak mau kamu nyari kenyamanan sama mobil orang lain!"
Kalimat itu membuat Bulan terkejut, ia tatap kekasihnya itu dengan penuh tanya, "Maksud kamu apa?" tanyanya.
"Gak usah di pikirin, kita pergi sekarang. Pake mobil gak bisa sat set kaya pake motor, kalau kita kena macet bisa telat," Angkasa membuka pintu untuk Bulan, menggerakkan dagunya memberi isyarat agar gadis itu segera naik.
Bulan yang mulai mengerti dengan maksud Angkasa tentu kesal, pria itu menyindirnya karena kemarin malam ia pulang di antar oleh Bintang. Dan entah mengapa, Bulan mulai merasa mereka hanya saling menyakiti saja.
Angkasa mulai menunjukan keposesifannya pada Bulan karena pria itu cemburu, dan Bulan tak suka dengan perubahan Angkasa yang menurutnya berlebihan. Padahal ia sendiri terpaksa menerima tawaran Bintang, jika saja ia bawa motor dan tak hujan besar, mungkin ia tak akan mau di antar Bintang. Atau lain kali ia akan memilih naik kendaraan umum bahkan jika perlu berjalan kaki saja sekalian, agar kekasihnya itu tak uring-uringan macam sekarang.
Setelah memastikan Bulan duduk dengan nyaman, Angkasa memutari mobil lalu duduk di balik kemudi. Tidak lupa juga mereka memasang set belt demi keamanan.
"Besok gak usah jemput aku, aku bawa motor sendiri," ucap Bulan sesaat setelah mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah.
__ADS_1
Angkasa menoleh sekilas, "Kenapa? Udah gak mau aku jemput? Atau udah ada jemputan baru?"
Pertanyaan itu membuat Bulan menoleh, ia layangkan tatapan setajam silet pada kekasihnya, "Kamu tuh kenapa sih, Sa? Kamu nyindir aku terus? Aku udah minta maaf sama kamu, aku juga terpaksa pulang sama Bintang. Apa kamu lupa, gimana perjuangan aku buat ngelupain dia? Mana mungkin aku mau deket sama Bintang lagi! Aku juga sadar kok, ada kamu pacar aku."
"Tapi nyatanya kamu belum bisa lupain dia kan?"
"Kamu juga tahu itu, Sa!" ucap Bulan penuh penekanan, "Kamu yang bilang kalau kamu mau bantuin aku buat ngelupain dia, kenapa sekarang kaya gini?"
"Aku cemburu, Bulan!" Tanpa sadar Angkasa sedikit meninggikan suaranya. Tentu hal itu membuat Bulan terkejut, baru kali ini Angkasa membentaknya, baru kali ini juga ia melihat kemarahan pria itu.
"Turunin aku!"
"Gak!"
"Aku bilang aku mau turun!" Sentak Bulan, "Turunin aku atau aku lompat!"
"Mulai sekarang gak usah peduliin aku!" Bulan hendak turun namun kemudian kembali berbalik, ia meletakkan paperbag berisi makanan yang sudah ia buat untuk Angkasa, "Ini sarapan buat kamu, kalau kamu gak suka buang aja! Terima kasih untuk semuanya," Bulan lalu benar-benar turun dari mobil.
Gadis itu berjalan sedikit menjauh dari mobil Angkasa untuk mencari kendaraan umum.
"****!" Angkasa mengusap wajahnya dengan gusar, kemudian turun hendak menyusul Bulan. Sayangnya, di saat yang bersamaan Bulan naik ke dalam taksi.
"Astaga, kenapa aku jadi kaya gini," lirih Angkasa. Karena cemburu, ia membentak Bulan, hal yang tak pernah ia lakukan. Selama ini ia sangat menjaga Bulan, tak membiarkan siapapun mengganggu gadis itu atau menyakitinya, tapi ternyata dia lah yang menyakiti gadis itu. "Maaf.." lirihnya, suasana hati yang semalam sudah mulai dingin kembali memanas saat ia mendengar percakapan Bulan dan papanya. Bahkan Bumi saja masih menggoda Bulan dengan Bintang.
__ADS_1
Tak ingin membuang waktu, Angkasa segera memasuki mobilnya, ia harus mengejar Bulan dan meminta maaf pada gadis itu.
***
Dengan punggung bersandar, Bulan memejamkan matanya. Air mata meleleh begitu saja membasahi pipi, ia mulai merasa jika bersahabat lebih baik ketimbang menjalin hubungan special. Dulu, ia dan Angkasa tak pernah berdebat apalagi hingga bertengkar, tapi pagi ini, pria itu mengajaknya adu argumen.
"Sudah sampai, mbak."
Ucapan dari sopir taksi membuyarkan lamunannya. Sepanjang perjalanan melamun, jarak ke kantornya terasa dekat, padahal cukup jauh.
"Ini pak, terima kasih," kata Bulan seraya menyodorkan uang selembar berwarna merah juga selembar berwarna biru.
"Loh mbak, ini kebanyakan," tolak sang sopir taksi.
"Gak papa pak, buat bapaknya aja. Doain ya pak, supaya hati saya terus adem."
Pak sopir mengangguk meski permintaan penumpangnya itu cukup menggelitik. Bukan meminta banyak rezeki karena sudah memberikannya rezeki, penumpangnya itu justru hanya meminta adem hati.
"Iya mbak, saya doain. Terima kasih," ucap pak sopir.
Bulan hanya tersenyum kemudian turun dari taksi. Ia buru-buru memasuki kantor menuju ke ruangannya. Untuk saat ini, ia tak mau bertemu dengan Bintang maupun Angkasa.
IKLAN
__ADS_1
Ges, cerita LangitJingga aku terusin. Part duanya itu aku mau ceritain tentang Angkasa. Pokonya tentang Angkasa dan jodohnya. Jangan lupa mampir, kalau ada notif aku up, serbu ya ges ya.
Jangan lupa tinggalin jejaknya. Like komen dan subscribe/follow. Di kasih hadiah juga aku gak nolak kok😂🤣😜