MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
SEPERTI ORANG LINGLUNG


__ADS_3

Ballroom hotel LaGroup itu terlihat indah dan megah, di sulap bak istana bunga. Di setiap sudut juga di bagian atas di hiasi bunga mawar putih yang wanginya semerbak. Bunga yang mempunyai filosofi ketulusan, kesucian, keagungan, dan kemurnian dari sebuah cinta sejati.


Dengan langkah sedikit ragu, Bulan memasuki ruangan, menggandeng tangan sang papa dengan begitu erat, menggambarkan betapa perasaannya tengah tak baik-baik saja. Ia membutuhkan sebuah objek untuk menjadi penguat hati, dan tangan hangat sang papa adalah objek yang paling tepat untuknya.


Selain karena ini adalah acara pertunangan Bintang, tempat itu juga mengingatkannya pada kenangan manis antara dirinya dan Bintang dulu. Malam prom night yang mengukir sejarah yang hingga kini tak dapat Bulan lupakan. Dimana dirinya dan Bintang menyatukan bibir untuk pertama kalinya, dimana pria itu memperlakukannya sangat manis, malam yang indah sekaligus malam terakhirnya bersama Bintang.


Bulan mengedarkan pandangannya yang mulai terasa perih, matanya memerah menahan tangis, sudah cukup, ia tak boleh lagi terlalu larut dalam kesedihan. Jika ia mencintai Bintang dengan tulus, maka ia akan ikut bahagia melihat pria itu bahagia dengan pilihannya. Meski hatinya sakit, tapi ia akan mencoba merelakan pria itu dan melupakan semua kenangan yang sudah tertoreh beberapa tahun lalu.


Di sambut Langit, Bumi tersenyum lebar, ia membalas pelukan persahabatan dari sang empunya hajat.


"Selamat datang teman," kata Langit.


"Terima kasih sudah mengundangku di acara penting putramu. Suatu kehormatan untukku dan Bulan."


"Kamu sahabatku, tentu kamu harus hadir dan menjadi saksi untuk acara penting ini."


Bumi tersenyum mendengar kalimat itu, ia lalu menoleh pada Bulan saat Langit menyapa gadis itu.


"Cantik sekali kamu nak, maminya Bintang pasti seneng liat kamu," tutur Langit. Ia memeluk gadis itu penuh kasih, lalu mengajak mereka menemui istrinya juga putranya.


Perasaan Bulan semakin tak karuan saat ia melihat Bintang dari kejauhan. Pria itu tampak tengah berbicara dengan Angkasa, juga keluarganya yang lain. Dan tak hanya itu, ternyata ada seseorang yang berdiri di sampingnya, "Kimmy?" batin Bulan. "Ternyata Kimmy sudah sedekat itu dengan keluarga Bintang, tentu saja, dia tunangan Bintang kan?"

__ADS_1


Bintang tampak sangat bahagia, beberapa kali pria itu terlihat tersenyum lebar bahkan tertawa.


"Tenang Bulan, kamu harus ikut bahagia. Hargai dan dukung keputusannya bertunangan dengan Kimmy. Mungkin Kimmy memang yang terbaik untuk Bintang, lagian mereka juga sepadan dan sederajat."


Bulan terus menguatkan dirinya dalam hati, ia tersenyum ketika Jingga menoleh padanya lalu menyambutnya dengan hangat.


"Tante seneng ketemu kamu lagi, kamu apa kabar sayang?" Tanya Jingga.


"Baik Tante, aku juga seneng banget bisa ketemu Tante lagi, Tante gimana kabarnya?"


"Sangat baik, apalagi bentar lagi Tante mau punya mantu, senengnya gak ketulungan," kata Jingga dengan antusias.


Bulan tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah perempuan cantik itu, ia lalu menyapa Mega dan yang lainnya.


Hingga beberapa sambutan berlalu, Bulan tampak melamun. Raganya memang berada disana, tapi pikirannya entah berkelana kemana. Bicara dengan Angkasa pun ia enggan, padahal pria itu sudah beberapa kali mencoba mengajaknya bicara. Tapi Bulan hanya merespon dengan senyuman, anggukan atau gelengan kepala.


Matanya mengernyit saat sebuah lampu menyorotnya, ia sedikit tersentak ketika menyadari perhatian semua orang mengarah padanya, sesuai lampu Follow spot yang mengarah padanya.


Follow spot adalah fixture yang menembakkan cahaya dengan output besar (biasanya berupa spot light), yang dapat dioperasikan secara manual oleh operator lighting. Biasanya follow spot digunakan untuk menyorot figur/obyek tertentu di panggung agar seluruh penonton fokus pada obyek yang disorot.


"Ada apa ini?" batinnya, sibuk melamun ia sampai tak menyadari apapun. Termasuk keberadaan Bintang yang kini sudah berdiri di podium bersama Kimmy. "Apa dia sengaja mengolok ku?"

__ADS_1


Bulan masih berusaha berpikir jernih, menebak-nebak kejadian macam apa yang tengah terjadi ini? Ia masih belum bisa mencerna kejadian di depannya dengan baik.


Sampai ketika Kimmy turun dari podium dan menghampirinya. Gadis itu mengulurkan tangan dan tersenyum.


Bulan semakin bingung, tapi meski begitu, ia menerima uluran tangan Kimmy yang kemudian menuntunnya untuk naik ke atas podium.


Di atas podium, Bintang menyambut Bulan, pria itu menerima tangan Bulan yang semula Kimmy tuntun ke hadapannya.


Bulan seperti orang bodoh, ia masih belum bisa mengerti dengan situasi yang ia hadapi.


"Dia lah yang sudah membuat hidup saya nyaris gila. Gadis kecil ompong yang dulu pernah memikat perhatian saya," kata Bintang mengawali pembicaraan.


Semua orang tertawa, hanya Bulan yang masih linglung. Ia kemudian menatap Bintang penuh tanya, pria itu tak menjawab, hanya menuntun Bulan untuk melihat layar besar di belakang mereka. Layar itu mulai menyala dan memperlihatkan Bulan dan Bintang kecil.


IKLAN


Sampe sini apakah kalian mengerti wahai para readers kesayanganku? Aku udah kasih kisi-kisi di bab sebelumnya.


Kemaren ada yang jeli banget, aku baca di komenan ada yang bisa nebak dari gaun yang Jingga dan Bulan pakai. Dusty pink dan pink soft. Itu emang salah satu petunjuk dari aku.


Terus di bab sebelumnya ada juga yang bisa nebak kisi2 yang aku kasih, dari perkataan Bintang di akhir bab. Bahwa mereka akan sama2 bahagia.

__ADS_1


Haaaah, kadang aku tuh suka bingung, kenapa kalian pada pinter2 banget. Ada aja yang bisa nebak alurnya 🤦🤦🙄😁


__ADS_2