MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
PACAR?


__ADS_3

Selesai meeting, Bulan segera membereskan barang-barangnya, ia tak mau lebih lama lagi berada di satu ruangan yang sama dengan Bintang.


Langit, Bram dan Sasmi sudah pamit lebih dulu, mereka akan melanjutkan acara ngobrol-ngobrol yang tadi sempat terpotong. Hanya tinggal ada Angkasa, Bulan, Bintang dan Gea.


"Bulan, tolong bawa desain kamu ke ruangan saya," ucap Bintang.


Kalimat yang membuat Bulan menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh sekilas pada Angkasa, pria itu tampak tersenyum.


"Saya serahkan disini saja pak," kata Bulan. Ia tak mau dadanya semakin sesak, apalagi ada Gea, Gea tak boleh tahu tentang hubungan mereka di masa lalu.


"Ke ruangan saya saja, ada yang ingin saya bahas sama kamu," Bintang masih bersikeras, tanpa menunggu jawaban dari Bulan, ia segera beranjak agar Bulan tak bisa lagi menolak.


"Tapi pak.." Bulan menghela nafas panjang, menoleh pada Angkasa saat pria itu menahan tangannya, mungkin agar ia tak membantah lagi permintaan Bintang.


"Sa," Bulan menatap Angkasa penuh harap, memberi isyarat agar pria itu mau menemaninya. Tapi sayang pria itu menggelengkan kepalanya. "Please, Sa.."


Angkasa tersenyum, mengusap pipi Bulan dengan lembut, "Kamu harus belajar menghadapinya, Lan. Lambat laun kalian akan berinteraksi lagi, baik itu tentang pekerjaan atau hal lainnya."


Bulan menggeleng, ia masih enggan menemui Bintang secara pribadi.


"Aku akan menunggu kamu di luar," ucap Angkasa, ia lalu mengajak Gea yang tampak kebingungan untuk pergi lebih dulu. Pasti Gea penasaran dengan situasi janggal di hadapannya. Tapi mau tak mau, Gea pun menuruti Angkasa.


Bulan mengusap wajahnya dengan gusar, sepertinya mulai saat ini kenyamanannya bekerja disana akan mulai terganggu.


Dengan langkah sedikit ragu, Bulan mengikuti Bintang, kemudian masuk ke ruangan pria itu yang ternyata tepat di sebelah ruangan Langit. Bulan menyimpan berkas yang Bintang minta di atas mejanya, “Itu berkas yang anda minta pak, jika tidak ada lagi yang anda butuhkan, saya permisi.”

__ADS_1


Bulan berbalik, melangkah menuju pintu keluar. Namun bari saja beberapa langkah, tubuhnya mematung saat Bintang memeluknya dari belakang. Lagi-lagi waktu terasa terhenti bagi Bulan, gadis itu tak bisa merasakan apapun selain rasa sakit yang Bintang tinggalkan sejak beberapa tahun yang lalu. Tanpa permisi, air mata meleleh begitu saja dari matanya, membasahi pipi dan menetes ke atas punggung tangan Bintang yang melingkar di perutnya.


“Aku merindukanmu,” bisik Bintang. Pria itu semakin erat mendekat Bulan yang hanya bisa diam dalam tangisnya. “Maaf, aku pergi tanpa memberimu kabar, aku hanya..”


PLAK


Sebuah tamparan Bintang dapatkan setelah Bulan melepas paksa dekapannya. Pria itu tentu terkejut, tak menyangka akan di hadiahi sebuah tamparan untuk mengobati rasa rindunya.


Dengan asal Bulan menghapus air matanya, lalu menunjuk Bintang dengan tatapan tajam, “Jangan kurang ajar! Jaga batasanmu pak Bintang. Dan ya, aku memang sempat terluka saat kamu pergi tanpa sebuah kepastian, tapi itu dulu. Aku sudah mengubur semua yang sudah terjadi di antara kita. Jadi anggaplah kita tidak saling mengenal. Tidak usah minta maaf apalagi merasa bersalah, karena buat aku, itu semua hanya angina lalu. Permisi!”


Bulan lalu pergi, gadis itu tak menoleh lagi. Meninggalkan Bintang yang masih diam terpaku mencerna semua ucapan Bulan.


Tak jauh dari ruangan Bintang, Angkasa berdiri menyandarkan tubuhnya seraya menengadah. Dari raut wajahnya yang tampak sendu, semua orang dapat melihat bahwa pria itu tengah kacau. Antara sedih, gelisah, cemas dan takut, semua rasa itu bercampur aduk menjadi satu mengacaukan hatinya.


“Sa..”


Nyatanya kalimat itu tak mampu menenangkan Bulan dan menghentikan tangisannya. Gadis itu justru semakin terisak. Dadanya sesak dan sakit, bahkan jika bisa, Bulan ingin berteriak atau menangis meraung untuk meluapkan rasa perih di hatinya. Kenapa disaat ia mau belajar hidup baik-baik saja tanpa Bintang, pria itu justru muncul dan mengungkit luka lamanya. Bulan kira ia sudah bisa kuat, ternyata hanya dengan mendengar suara Bintang saja, hatinya kembali bergetar.


“Sa..” panggilnya seraya melerai dekapannya. Ia mendongak menatap Angkasa yang tampak tersenyum dan menghapus air matanya dengan lembut, “Apa tawaran kamu masih berlaku?” Tanya Bulan.


Angkasa mengerutkan dahinya, “Tawaran?”


Bulan mengangguk, “Untuk menjadi pacar kamu dan calon istri kamu.”


Angkasa menelan ludahnya dengan susah payah, ia tahu Bulan pasti hanya tengah marah. Keputusan yang gadis itu akan ambil tak berdasarkan hatinya, “Lan, aku..”

__ADS_1


“Aku mau, Sa. Aku mau jadi pacar kamu,” potong Bulan.


Angkasa memejamkan matanya, ia bingung harus melakukan apa. Di satu sisi, ia sangat bahagia, tapi di sisi lain ia tahu Bulan hanya menjadikannya sebuah alasan untuk pelampiasan rasa sakit yang gadis itu tengah rasakan. Bolehkah sekali lagi ia berharap? Meski harus mengorbankan perasaannya karena ia tahu yang Bulan cintai bukan dirinya.


“Kamu mau kan?” Tanya Bulan lagi.


Angkasa berusaha tersenyum, mengusap pipi basah Bulan dengan lembut, “Jadi ceritanya kamu nembak aku?” godanya.


Bulan memukul pelan dada pria itu, “Aku serius, Sa.”


Helaan nafas panjang terdengar berhembus dari mulutnya, Angkasa benar-benar bingung. “Bulan, aku seneng kamu mau jadi pacar aku, tapi aku juga tahu, kamu melakukan ini karena kamu sedang marah. Pikirkan lagi, aku gak mau nanti kamu menyesal.”


Bulan menunduk, lalu kembali mendongak menatap Angkasa, “Kamu bilang kamu akan terus ada buat aku, kamu bilang kamu mau jadi obat buat rasa sakit aku, dan sekarang aku butuh obat itu, Sa. Aku butuh kamu untuk mengobati hati aku yang sakit, aku tahu, kamu pasti sakit hati karena aku seperti menjadikan kamu pelampiasan. Tapi, Sa. Tolong aku, aku mohon. Tolong bantu aku untuk ngelupain dia,” pinta Bulan. Ia bahkan kembali meneteskan air matanya. Berharap Angkasa akan mau meski perasaan pria itu yang di korbankan. “Maaf aku egois,” lirih Bulan seraya terisak. Ia hanya ingin bisa melupakan Bintang, berharap dengan datangnya cinta yang baru akan bisa mengusir cinta yang lama.


Angkasa tersenyum, “Kamu memang egois,” ucapnya. “Tapi sayangnya, aku gak pernah bisa nolak permintaan kamu.”


Mendengar kalimat itu, Bulan tersenyum, “Jadi?”


“Pacar?”


Bulan mengangguk beberapa kali, ia kembali mendekap pria itu dengan erat.


Di balik pintu ruangan yang sedikit terbuka, Bintang menyaksikan semuanya. Pria itu juga dapat mendengar semua percakapan Bulan dan Angkasa. Apakah ia harus marah? Karena faktanya, ia sangat cemburu. Bahkan kedua tangannya terkepal menahan kesal, kesal pada dirinya sendiri yang dulu tak memberi gadis itu kepastian atau sekedar pesan agar gadis itu tetap menunggunya.


"Apa ini yang Bulan rasain dulu? Rasanya sakit."

__ADS_1


IKLAN


Menurut kalian, Angkasa bodoh gak?


__ADS_2