
Sejak kejadian Bulan tak sadarkan diri di tempat proyek, Bintang menghindari Bulan. Gadis itu terus merasakan galau berkepanjangan, dulu Angkasa yang menghindarinya, Bintang gencar mendekatinya. Dan sekarang, Angkasa sudah bersikap seperti biasa, Bintang kembali menghindarinya.
Seperti tak ada habisnya, Bulan terus di landa perasaan gelisah, galau, merana. Bahkan berpapasan pun Bintang tak menoleh, beberapa kali meeting dan berkunjung ke tempat proyek mereka, pria itu bersikap acuh.
Padahal Bulan ingin meminta maaf pada pria itu, tapi melihat sikap dan respon Bintang kurang baik, Bulan pun urung diri.
Bak sebuah layangan, tarik ulur hubungan Bulan dan Bintang. Entah kapan keduanya bisa selaras, langkah mereka terus di uji dan saling bertentangan.
Pagi ini, penghuni LaGroup di kejutkan dengan kabar pertunangan putra mahkota. Kabar itu bahkan sudah menyebar ke seantero LaGroup. Namun meski begitu, belum ada pengumuman resmi dari situs resmi LaGroup.
Namun di group kantor kabar itu tengah menjadi pembahasan hangat. Bahkan memanas saat beberapa orang menggoreng gosip tersebut.
__ADS_1
"Lan, kamu udah denger kabar terbaru di LaGroup belum?" Tanya Gea, gadis itu memberengut, memperlihatkan raut wajah menyedihkan, "Patah hati aku, Lan. Ternyata Pak Bintang mau tunangan," katanya lagi. "Dan mulai hari ini, akan menjadi hari patah hati masal."
Bulan yang saat itu tengah fokus pada layar laptop kemudian menoleh, ia memang mendengar selentingan kabar itu, tapi ia tak anggap serius karena beberapa penghuni LaGroup memang mempunyai admin Lambe Dower. "Emang kabar itu beneran, mbak?"
Gea mengangguk, raut wajahnya masih tampak bersedih. Nyaris semua karyawati menyukai dan mengidolakan Bintang, termasuk Gea yang menganggap Bintang pria idaman dan calon suami yang sempurna. "Bener Lan, tadi aku nanya pak Angkasa, kata pak Angkasa, pak Bintang emang mau tunangan dalam waktu dekat."
Bulan mengepalkan tangannya, menahan rasa sakit yang menyesakkan dada. Apa benar Bintang akan kembali meninggalkannya? Apa pria itu sudah bosan dan lelah mengejarnya? Begitu kira-kira isi hati Bulan. Pantas saja Bintang menghindarinya dan bersikap acuh padanya, ternyata pria itu sudah mempunyai calon.
"Lan, ngomong-ngomong kamu kan temennya juga, masa belum tahu?" Gea menatap Bulan dengan kening berkerut, mata merah Bulan yang tengah menahan tangis membuat Gea kembali bertanya, "Are you ok?"
Rasa sesak yang terasa lebih sesak dari ketika Bintang meninggalkannya ke Amsterdam. Jika dulu Bintang meninggalkannya untuk kembali, kali ini pria itu akan benar-benar meninggalkannya.
__ADS_1
"Bintang, apa kamu benar-benar akan pergi? Cinta macam apa yang kamu kasih ke aku? Semuanya kebohongan!"
Bulan berlari menuju ke toilet, ia tak tahan ingin meluapkan rasa sesak yang menyiksanya. Gadis itu tak perduli jadi bahan tontonan orang, ia tak bisa menahan rasa sakit yang membuat hatinya terasa di remas ribuan tangan raksasa. Sesak, sakit dan perih.
Langkahnya terhenti saat beberapa langkah di depannya Angkasa berdiri, pria itu menatapnya dengan sendu, kedua tangannya merentang menyambut Bulan yang kemudian berlari menubruk dada bidangnya.
"Sakit, Sa.." Lirih Bulan seraya terisak. Bahunya bergetar hebat, menggambarkan betapa sesaknya ia menahan tangis lalu melepasnya di dalam dekapan Angkasa.
"Ssssttt, kamu harus kuat. Dengar aku, Bulan! Ini hanya soal waktu, aku yakin suatu saat nanti kamu juga akan bahagia. Baik itu dengan atau tanpa Bintang. Percayalah, semua akan indah pada waktunya. Kalau sekarang kamu merasakan rasa sedih yang teramat dalam, kamu harus yakin bahwa suatu saat nanti kamu juga akan merasakan kebahagian yang teramat besar. Tuhan akan menguji sesuai kadar kemampuan hambanya. Jika sekarang kamu di uji dengan rasa sakit yang membuat kamu susah bernafas, maka kamu adalah hambanya yang beruntung. Kamu terpilih untuk naik ke tahap keimanan yang lebih tinggi. Selalu ada pelangi setelah badai, Bulan. Obati hati kamu dengan keyakinan, bahwa di kemudian hari kamu akan hidup bahagia, sangat bahagia. Tuhan selalu tahu apa yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan. Karena bisa saja sesuatu yang kamu inginkan bukan yang terbaik di mata Tuhan."
Angkasa terus memberikan kalimat penenang, berharap gadis itu bisa tenang dan kuat. Ia sendiri tak menganggap remeh rasa sakit yang Bulan rasakan, karena ia pun merasakannya.
__ADS_1
Namun sayangnya, kalimat panjang lebar itu tak mampu membuat tangis Bulan berhenti meski hatinya sedikit menemukan pencerahan. Rasanya benar-benar sakit, hingga Bulan sendiri tak mampu menggambarkannya dengan kata-kata. Gadis itu hanya diam dan larut dalam tangisan.
Kabar pertunangan Bintang mengguncang hatinya, ia marah pada dirinya sendiri, yang tak dapat membuang rasa cintanya pada pria itu. Semakin hari, rasa cintanya untuk Bintang semakin dalam. Seperti akar yang terus merambat dan tumbuh subur.