
Bulan terkesiap saat tiba-tiba Bintang menariknya dan membawanya pergi dari kelas. Pemuda itu bahkan tak memperdulikan tatapan teman-teman sekelas Bulan yang mulai berdatangan.
Bisik-bisik mulai terdengar, membicarakan bahwa mungkin Bintang mulai menerima cinta Bulan. Bintang juga tak memperdulikan itu, ia terus menggenggam tangan Bulan dan membawanya ke perpustakaan. Tempat aman kedua untuk bicara.
"Bintang, lepasin.." pinta Bulan.
Bintang menghentikan langkahnya di tengah-tengah perpustakaan, ia lalu melepaskan genggaman tangannya pada Bulan. Tatapan pemuda itu tampak berbeda, membuat Bulan berpaling tak berani membalas tatapannya.
"Kenapa?"
Pertanyaan itu membuat Bulan mendongak, menatap wajah serius Bintang yang membuat jantungnya berdegup kencang. Apalagi jarak di antara mereka sangat dekat, Bulan gugup bukan main.
"Kenapa kamu gak cerita kalau kamu lagi kesulitan? Aku kaya orang jahat yang tiap hari minta jatah makan, padahal kamu sendiri kesusahan. Kenapa justru Angkasa yang tahu lebih dulu? Bukannya kamu suka sama aku? Tapi ternyata aku bukan prioritas kamu.."
Akhirnya Bintang meluapkan isi hatinya, ia merasa tak terima karena Bulan tak menceritakan apapun padanya. Pantas saja Bulan sering melamun dan tak seceria dulu, gadis itu juga tak gigih mengejarnya seperti dulu. Mungkin selain karena ucapannya tempo hari, Bulan berhenti mengejarnya juga karena masalah ini.
Bulan masih bungkam, sampai Bintang merengkuh lembut kedua bahu gadis itu. Membuat tatapan mereka bertemu dan saling menatap dalam.
__ADS_1
"Kenapa Bulan?" Tanya Bintang dengan lirih.
"Buat apa, Bintang? Buat apa aku cerita ke kamu? Ini juga bukan urusan kamu, aku gak mau di kasihani siapa pun."
"Lalu Angkasa? Kenapa kamu cerita ke dia? Kamu bisa berbagi segalanya sama dia, kamu bisa cerita masalah kamu ke dia, kenapa ke aku enggak? Atau karena kamu udah suka sama dia?"
"Bintang!"
Bintang menghembuskan nafas gusar, melepaskan bahu Bulan lalu memejamkan matanya sejenak untuk meredam rasa kesal. Ia tak boleh kembali menyinggung perasaan Bulan.
Setelah mengatakan kalimat itu, Bintang pergi begitu saja. Meninggalkan Bulan yang kini duduk lemas, dan mengatur jantungnya yang masih saja berdegup kencang.
"Untuk apa aku cerita ke kamu? Aku juga gak cukup penting buat kamu, aku gak mau di kasihani." Lirih Bulan, ia mulai beranjak karena bel tanda masuk sudah berdering.
***
"Dari mana?" Bisik Zeni yang duduk di sebelah Bintang. Sejak tadi ia mencari Bintang, tapi pemuda itu tak nampak dimana pun. Bertanya pada Angkasa pun pemuda itu hanya mengedikan bahunya saja.
__ADS_1
"Perpus," jawab Bintang. Ia lalu fokus pada pelajaran yang hendak di mulai, mengacuhkan Zeni yang terus menatapnya.
Sejak pengungkapan perasaan itu, Bintang mencoba bersikap seperti biasanya pada Zeni, tapi tetap saja rasanya berbeda. Entah mengapa ia sedikit ingin membatasi dirinya dan memberi jarak untuk pertemanan mereka. Atau mungkin, karena ada hati yang Bintang jaga?
Mata pelajaran pertama di mulai, semua murid mulai fokus mengikuti pelajaran. Hanya tinggal satu bulan lagi mereka belajar efektif, ujian sudah di depan mata. Mereka harus benar-benar fokus mengikuti pelajaran. Bahkan bimbingan belajar mulai akan di perlakukan Minggu depan.
***
Bel istirahat berdering, semua siswa mulai berhamburan keluar kelas. Mereka bisa meregangkan otot sejenak sebelum jam pelajaran kembali di mulai. Ada yang menuju kantin, ada juga yang hanya sekedar nongkrong di depan kelas, mengunjungi perpus atau bahkan tetap berdiam diri di kelas.
Seperti yang Bulan lakukan, gadis itu menelungkupkan kepalanya di atas kedua lengan yang terlipat di atas meja. Rasa kantuk memang sedari tadi menyerangnya, ia memilih beristirahat sebelum sore nanti mulai bekerja di cafe milik Angkasa.
Apalagi Cici belum juga masuk sekolah, ia malas keluar kelas karena tak ada teman dekatnya. Sebenarnya Bulan berteman dengan siapa saja, namun yang terdekat hanya Cici dan kini dengan Angkasa.
Beberapa menit kemudian, Bulan benar-benar terlelap ke alam mimpi. Mengesampingkan perutnya yang lapar, ia tertidur sangat lelap.
Sampai ia tak sadar seseorang duduk di sebelahnya.
__ADS_1