
"Kenapa senyam senyum? kaya orang gila," kata Angkasa dengan ketus. Ia lalu mendaratkan tubuhnya di sofa, menoleh menatap Bintang yang menghampirinya lalu duduk di sebelahnya.
"Yang sabar ya kakak sepupu," ucap Bintang. Ia menepuk-nepuk bahu Angkasa beberapa kali, lalu kembali tersenyum.
"Senyum Lo nyebelin!" ketus Angkasa, kini ia mengerti arti senyuman Bintang, sepupunya itu pasti sudah tahu mengenai kandasnya hubungan cinta antara dirinya dan Bulan. Tentu itu menjadi kabar menggembirakan untuk Bintang. Dan sialnya, kabar itu menyebar luas dengan cepat, di LaGroup memang seperti mempunyai akun gosip Lambe Dower, yang siap menyebar luaskan gosip dengan cepat ke seantero LaGroup.
Bintang tertawa, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Tatapannya menerawang, membayangkan bahwa sebentar lagi ia akan meraih kebahagiaan.
"Lo boleh seneng, tapi gak akan semudah itu Bulan nerima Lo lagi. Lo kudu siap-siap di tolak!"
"Kata siapa? Sa, aku tahu hati kamu pasti ngenes, tapi kamu gak boleh nakut-nakutin aku. Miris banget jadi jomblo," ledek Bintang.
"Biarin, mending gue, jomblo juga pernah pacaran. Seenggaknya gue bisa jadi mantannya dia, dari pada Lo? Mantan bukan, pacar juga bukan. Status Lo gak jelas," Angkasa balas meledek. Dan kalimatnya itu mampu membuat raut wajah Bintang berubah masam. "Sabar ya adik sepupu!" Ia menirukan gaya bicara Bintang, membuat Bintang semakin sebal.
Bagaimana tidak, yang di katakan Angkasa memang benar, boro-boro jadi mantan, pernah pacaran saja tidak. Dulu ia terlalu pengecut untuk memberikan status yang jelas pada Bulan.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu putus? Bukannya baru jadian yah?"
Angkasa mendengus, ingin sekali ia menjawab bahwa semua ini GARA-GARA LO! Tapi tak sepenuhnya juga salah Bintang, karena ia tahu bahwa Bulan juga tak mencintainya. Lagi-lagi ia mengobati hatinya dengan kalimat, 'Seenggaknya pernah jadi mantan!'
"Bukan urusan Lo! Itu masalah intern, Lo gak boleh tahu!"
Bintang mendelik, tapi kemudian tertawa. Suasana hatinya tengah bahagia, Angkasa seketus apapun ia akan memaafkannya.
"Bahagia banget kayanya, dosa loh bahagia di atas penderitaan orang!" Sindir Angkasa, ia melempar bantal sofa pada sang sepupu, tepat mengenai wajah pria tampan itu. Yang membuatnya ngeri adalah, alih-alih marah Bintang justru tersenyum semakin lebar, "Benar-benar sinting nih anak," gumamnya.
"Heh, aku denger yah!"
Angkasa kembali melempar bantal sofa pada pria itu, namun kali ini Bintang sigap menangkapnya. Ia lempar kembali pada Angkasa.
__ADS_1
Bintang terjingkat kaget saat pria itu berteriak, ia bahkan sampai melompat kecil dan berpindah duduk. "Kenapa sih?" omelnya.
"Boleh gak gue teriak? Galau nih gue, lagi seneng-senengnya, lagi cinta-cintanya malah di putusin! Lo bener, ngenes banget hidup gue.."
Melihat betapa galaunya sang sepupu, Bintang mendekat lalu memeluk pria itu, menepuk-nepuk punggungnya beberapa kali, "Sabar ya, Sa. Gimana kalau aku traktir kamu makan di cafe depan, mau gak?"
Angkasa menjauhkan tubuhnya, menatap Bintang penuh selidik, "Tumben, serius? Biasanya Lo males nongkrong di cafe?" ungkapnya.
"Iya, aku serius. Dalam rangka merayakan putusnya kamu sama Bulan, hahahaha.."
"Sialan!!" Angkasa menendang kaki sepupu menyebalkannya itu, tapi Bintang sigap menghindar lalu kabur.
"Keluar sana, aku mau lanjut kerja!" usirnya, Ia kembali duduk di kursi kebesarannya.
Angkasa mendelik, bangkit lalu beranjak dari ruangan sang sepupu. Ternyata ia salah curhat pada Bintang, tentu saja, karena Bintang adalah orang yang paling bahagia mendengar kabar kandasnya hubungan asmara antara dirinya dan Bulan.
***
Angkasa mengatakan tak ada yang berubah, ia masih Angkasa yang dulu. Tapi Bulan tak enak hati terus menerus merepotkan pria itu. Kesannya seperti hanya memanfaatkan kebaikan Angkasa saja. Apalagi di beberapa kesempatan Angkasa tampak menghindarinya, membuat Bulan semakin tak enak pada pria itu. Ia mantap untuk mandiri, tak bergantung pada Angkasa atau siapa pun lagi.
"Bulan.."
Panggilan itu membuat Bulan yang hendak berjalan ke arah parkiran menghentikan langkah, ia kemudian menoleh, "Ya?"
"Kamu pulang sendiri?"
Bulan mengangguk, memalingkan muka saat pria tampan di depannya tersenyum. Jantungnya mulai tak beres, "Aku duluan," ucapnya.
Tapi Bintang tak membiarkan gadis itu pergi begitu saja, ia raih tangan Bulan dan sedikit menariknya, "Aku antar kamu, ini udah mau hujan."
__ADS_1
Bulan menggeleng, menarik tangannya dari genggaman Bintang, "Aku bisa sendiri. Lagian aku bawa motor," tolaknya.
"Bahaya, Lan. Kayanya hujannya bakalan gede banget, kalau kamu kehujanan gimana?" Bintang masih usaha.
"Gak masalah, aku bawa jas hujan. Lagian hujannya air, aku gak perlu takut. Kalau hujannya durian baru aku takut," jawabnya dengan acuh.
Sikap dingin Bulan tak membuat Bintang menyerah, ia justru merasa gemas dengan tingkah gadis itu. Apalagi jawaban yang gadis itu lontarkan terdengar lucu, "Anggap saja hujan durian, aku antar kamu!"
"Gak usah, ih!" Bulan kembali menarik tangannya saat Bintang kembali menggenggamnya. "Sana pulang!" usirnya.
"Jangan keras kepala, sayang.." bisiknya.
Untuk sesaat Bulan terpaku, kata sayang yang terlontar begitu lembut mampu memporak porandakan benteng pertahannya. Tapi kemudian ia kembali menyadarkan dirinya, "Aku gak mau! Awas ah," Bulan mendorong Bintang yang hendak menghalangi langkahnya. Tapi tubuh jangkung pria itu sama sekali tak bergerak. Bulan kesal, entah sejak kapan pria itu jadi pemaksa.
"Sayang.."
"Gak ngaruh!" Bulan menarik tangannya saat lagi-lagi Bintang menggenggamnya. Sepertinya Bintang sudah mendengar kabar putusnya dirinya dan Angkasa, buktinya pria itu jadi lebih berani.
"Sayangnya Bintang.."
"Apasi, Bintang? Jangan ngomong sembarangan!" omel Bulan. Sejak kapan pula pria itu jadi lebih cerewet, lebih agresif pula?
Tengah asik berdebat dan saling tarik menarik, Angkasa baru saja keluar. Sepertinya pria itu hendak pulang juga.
Yang membuat Bulan sedih adalah, Angkasa melewatinya begitu saja. Pria itu hanya menoleh sekilas lalu benar-benar pergi. Tak seperti Angkasa yang biasanya, pria baik hati yang selalu menawarkan untuk mengantarnya pulang. Apa mungkin karena ada Bintang? Dan entah mengapa, Bulan merasa rindu dengan Angkasa-nya yang dulu.
Melihat wajah murung Bulan, Bintang jadi bingung. Bukankah Bulan tak mencintai Angkasa? Tapi kenapa gadis itu terlihat sedih dan terus menatap Angkasa hingga pria itu menghilang setelah motornya melaju.
Dan mendadak nyalinya untuk mendekati Bulan menciut. Ia jadi pesimis, apa bisa ia kembali merebut hati Bulan? Mengembalikan perhatian gadis itu hanya untuknya seorang, juga kembali menghadirkan cinta Bulan untuknya? Karena sepertinya, Angkasa memang sudah mempunyai tempat tersendiri untuk Bulan.
__ADS_1
Ini Bintang ceritanya ges, Cocok gak? Oiya, ada yang udah baca cerita AngkasaSemesta? Aku up di novel MENIKAHI KAKEK TUA (PART 2), yang belum mampir, hayu segera mampir. Aku bikin lapak Angkasa disana.