MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
PESAN


__ADS_3

"Pantesan Bintang ganteng banget, ternyata mamanya juga cantiknya kebangetan." Bulan bermonolog, ia menutup pintu loker, selesai berganti pakaian, ia pun siap bertempur dengan segudang pekerjaan hari ini.


Gadis itu menghela nafas panjang, melupakan Bintang ternyata sangat sulit. Mungkin ia juga harus gigih dan yakin bisa melupakan pemuda itu, segigih dan seyakin dirinya saat mengejar cinta Bintang.


Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk mencintai, cinta sepihak lebih tepatnya. Mungkin jika dapat terlihat, hatinya di penuhi dengan nama Bintang, di otaknya juga hanya ada Bintang di hidupnya Bintang lah yang paling bersinar.


"Lama-lama aku bisa gila," gerutunya. Ia mulai melangkah, namun langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu, "Pacar? Ya Tuhan, gimana caranya ngejelasin ke Tante Mega? Gak tega juga.." lirih Bulan.


Bulan jadi pusing sendiri, sepertinya, posisinya akan serba salah. Ia harus meminta penjelasan dari Angkasa dan meminta pemuda itu saja yang meluruskan kesalah fahaman ini.


***


"Tumben, mampir," celetuk Angkasa saat Bintang memasuki ruangannya tanpa permisi.


"Nganterin, mami," jelas Bintang. Ia duduk di sofa, menyandarkan punggungnya dengan kepala menengadah, "Jadi, kamu beneran pacaran sama Bulan?"


Angkasa yang tengah minum nyaris tersedak dan menghamburkan air di mulutnya. Pemuda itu berdehem, menatap Bintang dengan tatapan gugup, "Kata siapa? Ngarang Lo," elaknya.


"Kata mama Mega, dia bilang Bulan pacar kamu."


Angkasa menepuk dahinya, kenapa mamanya itu memamerkan statusnya dan Bulan yang bahkan hanya kesalah fahaman saja? Semuanya jadi rumit, Bulan pasti tak nyaman dengan semua ini.


"Gak gitu, mama salah faham aja."


Bintang terdiam, hanya menatap Angkasa dengan tatapan entah. Seperti menyelidik apakah ucapan sepupunya itu benar atau sebuah kebohongan.


Dan tatapan itu membuat Angkasa semakin gugup, "Apa Lo? Liatin gue sampe segitunya?" Ia berpura-pura sewot.


Bintang terkekeh, ia mengambil ponselnya dan berusaha mengalihkan pikirannya dari kata PACAR yang entah kenapa membuatnya gusar.

__ADS_1


Satu jam berlalu, Bintang beranjak dari sofa seraya meregangkan otot-ototnya, "Aku mau pulang," ucapnya pada Angkasa.


"Kaya gak tahu aja mami Lo kaya gimana," Angkasa ikut beranjak. Jika Jingga bertemu Mega, memang tak cukup waktu hanya satu jam saja untuk mereka mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, mereka selalu betah dan terlihat asik.


Bintang tak menjawab, ia keluar dari ruangan Angkasa untuk menghampiri Jingga dan Mega. Ternyata di sana tak hanya ada mereka berdua saja, melainkan ada gadis cantik yang ikut bergabung dan tampak tengah tertawa lepas.


Tawa yang membuat dua pemuda itu terpaku dan menghentikan langkah. Baru kali ini Bulan tertawa selepas itu, entah apa yang menjadi bahan tertawaannya.


Atas paksaan Jingga dan Mega, Bulan memang ikut bergabung bersama dua wanita itu. Meski usia mereka berbeda jauh alias berbeda generasi, tapi ternyata mereka bisa satu frekuensi. Mungkin sama-sama penyuka bapperware?


Angkasa berdehem, menyadarkan lamunan Bintang dan mereka sama-sama menoleh kikuk. Keduanya tak ada yang bicara, mereka kembali melangkah menghampiri meja dimana tiga perempuan itu berada.


"Mi," panggil Bintang.


Jingga menoleh, ia sudah tahu arti tatapan putranya itu, "Sepuluh menit lagi ya, nak?"


Bintang berdecak, "Pulang, mi.." rengeknya.


Bintang mengerjap, maminya itu sungguh terlalu. Padahal ia tadi mengatakan pada Angkasa kalau ia datang ke sana karena mengantar Jingga. Dan sekarang Jingga justru membuka kartunya.


Angkasa menahan tawanya, ia menepuk pundak sepupunya itu beberapa kali, "Udah ketahuan Lo.."


"His," Bintang menyingkirkan tangan Angkasa dari bahunya, ia melirik Bulan yang ternyata tengah menatapnya.


"Tante, aku kerja lagi yah. Kapan-kapan aku kasih bapperware koleksi aku ke Tante Jingga sama Tante Mega," ucap Bulan.


"Wuaaah.."


Jingga bertepuk tangan kecil, ia seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Begitu juga dengan Mega, perempuan itu terlihat sumringah.

__ADS_1


Entahlah, mengapa mereka menyukai toples bapperware itu, Angkasa dan Bintang heran melihatnya.


Setelah berpamitan, Bulan kembali ke pantry, beruntung pengunjung yang datang belum terlalu ramai, ia masih bisa bersantai dan ikut bergabung dengan Mega dan Jingga.


TRING


Ponselnya berdering singkat, ada pesan masuk pada nomornya. Bulan pun segera membukanya.


"Bintang?"


Bulan berdecak saat ternyata pemuda itu hanya mengirimkan teks kosong padanya. Ia lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


***


Malam sudah larut, tapi Bulan masih tak dapat memejamkan matanya. Entah mengapa ia jadi teringat kata-kata Mega yang menyatakan bahwa Bulan dan Angkasa mempunyai hubungan special.


Ia juga teringat tentang pesan dari Bintang yang hanya teks kosong saja. Sebenarnya apa maksud dari pesan itu? Apa hanya salah kirim saja? Atau ada yang ingin pemuda itu katakan namun tak bisa?


Berbagai pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Akibatnya ia tak bisa tidur. Guling sana guling sini, beberapa kali ia mencari posisi nyaman agar matanya mau terlelap, tapi tetap saja rasa kantuk tak kunjung datang.


Suara ponsel berdering singkat sedikit membuatnya terperanjat kaget. Sebelah tangannya meraba nakas, mencari benda pipih tersebut.


"Bintang?" Gumamnya, ia semakin terkejut. Ternyata pemuda itu juga belum tidur, apa ini kebetulan? Tak ingin menebak-nebak, ia segera membuka pesan tersebut.



Menunggu beberapa saat, tak ada lagi pesan balasan dari Bintang. Bulan berdecak, sepertinya ia memang tak akan bisa tidur.


IKLAN

__ADS_1


Aku kasih kalian intip chat WAWA nya BulanBintang. Awas aja kalau gak vote 🙄


__ADS_2