
Hari ini hari terakhir Bulan bekerja sebelum ia melakukan tradisi pingitan. Beberapa menit yang lalu, Bintang memberinya pesan agar jam makan siang nanti ia ke ruangannya.
Pria itu mengatakan, ada kejutan manis yang sudah di siapkan untuk Bulan. Setiap hari Bintang menghujaninya dengan cinta dan kata-kata manis yang membuatnya meleleh. Bulan benar-benar merasa semua ini seperti mimpi.
Bayangkan saja, sebesar apa kebahagiaan yang kini di rasakan Bulan. Dalam waktu beberapa hari lagi, ia akan resmi menyandang status nyonya Bintang. Mimpi yang dulu selalu ia harapkan hadir setiap kali ia tidur.
"Cie yang besok udah mulai di pingit.."
Bulan menoleh, tersenyum lebar saat Gea memasuki ruangannya. Gadis itu tak sendiri, ada Gilang yang ikut di belakangnya. Jika biasanya Gilang akan berwajah masam ketika menemuinya, kali ini pria itu tampak sumringah. Mungkin sudah move on, begitu pikir Bulan.
"Aku pasti kangen banget suasana kerja. Apalagi sama mbak, sedih deh, padahal cuma satu Minggu doang," kata Bulan.
"Iya Lan, pasti sepi gak ada kamu. Gak ada yang bisa ngurusin nih bocah kalau kamu gak ada, dia kan cuma nurut sama kamu Lan," celetuk Gea seraya menunjuk Gilang dengan dagunya.
Bulan terkekeh, "Tapi kayanya dia udah move on mbak. Liat aja, cengar cengir begitu," Bulan tertawa saat Gilang mendelik padanya. Pria yang gencar mengejarnya itu memang hanya menurut pada Bulan, ibarat kata, Bulan adalah pawangnya.
__ADS_1
"Dia udah punya cem-ceman baru Lan, ngerepotin aku mulu, masa aku di suruh nemenin dia makan sama cem-cemannya itu. Katanya dia mau traktir aku satu Bulan asal mau nemenin dia pacaran, gila kan ni anak?!"
"Serius dia udah punya gebetan baru mbak? Siapa cewek malang itu? Kita harus temuin bareng-bareng mbak," kata Bulan.
"Buat apa? Jangan mengacaukan deh, aku lagi belajar move on dari kamu tahu!" Gilang berdecak, wajahnya tampak kesal.
"Buat kasih cewek itu kekuatan, supaya dia ikhlas dan tabah nerima kamu," celetuk Bulan.
Gilang mencebik, ia lalu mengajak Gea pergi. Pria itu sudah tak sabar menemui cem-cemannya.
"Itu loh Lan, OG baru yang cantiknya warrr biasaah," kata Gea dengan gaya lebainya.
Bulan mengerjap, setahunya tak ada OG baru di LaGroup selain.. "Esta? Semesta mbak?" tanyanya.
Gea mengangguk, membuat Gilang tersenyum lebar karena ternyata Bulan tahu Esta. Itu artinya, gadis itu memang sudah terkenal. Tentu saja, kecantikannya memang masih alami, tanpa polesan make up seperti rekan-rekannya disana, tapi gadis itu memang mempunyai daya tarik tersendiri.
__ADS_1
"Cantik kan dia Mbul? Kerjaan boleh OG, tapi tampang kaya istri para sultan," ucap Gilang dengan bangga.
Bulan tercengang, ini gawat! Alih-alih move on, Gilang justru akan kembali patah hati nantinya. Memang tak ada yang tahu siapa Esta, termasuk Gilang dan Gea. Jika mereka tahu, mereka pasti tak akan berani mendekati gadis itu. Posisi Bulan saja masih berstatus tunangan untuk putra mahkota LaGroup, tapi Esta? Gadis itu sudah menjadi istri salah satu putra mahkota LaGroup.
"Lang, itu.."
"Ssstttt, kamu doain aku aja ya Mbul. Semoga aku berhasil dan bisa move on dari kamu."
Gilang dan Gea lalu kembali melanjutkan langkah, meninggalkan Bulan yang ingin menjelaskan siapa Esta tapi bingung harus mulai dari mana.
Bulan memang tak berhak memberi tahu siapa Esta, apalagi Angkasa ingin merahasiakan pernikahannya dengan gadis itu. Tapi ini tidak benar, kecantikan Esta bisa menarik pria manapun termasuk Gilang. Bagaimana dengan nasib Gilang nanti?
Astaga, Bulan jadi pusing sendiri. Ia harus memberi tahu Bintang tentang hal ini. Dengan langkah tergesa ia memasuki lift menuju ke lantai teratas dimana ruangan calon suaminya berada.
Tak membutuhkan waktu lama, gadis itu sampai di depan ruangan Bintang. Memang lebih cepat, karena Bulan mempercepat langkahnya, seperti karyawan yang hendak mengambil gaji di zaman dulu sebelum ada ATM.
__ADS_1
"Mas.." Ucapakan dan langkahnya terhenti saat ia mendapati sebuah kejutan di dalam sana. Dadanya memanas, genggaman tangannya pada handle pintu mengerat, "Brengsek!"