MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
AKHIRNYA TAHU


__ADS_3

Semua orang terkejut mendengar pernyataan Mega beberapa saat yang lalu. Perempuan itu mengumumkan pernikahan putranya, lebih terkejut lagi saat mereka mendengar alasan Angkasa menikah.


"Kenapa warga gak denger alasan kamu, Sa?" Tanya Bintang, ia yang semula membaringkan tubuhnya di paha Bulan bangun lalu duduk menatap Angkasa, menunggu jawaban dari pria itu.


Angkasa mengedipkan bahunya, "Mereka malah mojokin Esta."


Esta yang duduk di samping Mega hanya bisa menundukkan wajah. Apalagi ketika semua tatapan mengarah padanya, Esta benar-benar malu. Malu dan tak enak karena merasa sudah menyeret Angkasa ke dalam pernikahan yang pria itu tak inginkan.


"Ya sudah, apapun alasan kalian menikah, mami ikut bahagia. Selamat untuk kalian, kalian memang pasangan yang serasi." Kata Jingga, ia menoleh pada sang suami, Langit tampak tengah menatap Esta, "Ada apa mas?" tanyanya.


"Tidak, aku hanya merasa pernah melihat Esta. Dimana yah?"


Esta semakin menunduk, jika Langit menyadarinya, Angkasa dan keluarganya akan malu karena Esta hanyalah seorang OG.


"Cuma perasaan kamu saja mungkin mas, memangnya dimana kamu pernah bertemu dengan Esta?" Tanya Jingga lagi.


Langit terdiam, pria itu tampak berfikir. Lalu sesaat kemudian kembali menatap Esta, "Di kantor," ucapnya. "Kamu bekerja di LaGroup?"


Esta mengangguk, sepertinya memang tak ada lagi yang perlu di sembunyikan, ia pasrah saja.


"Benarkah? Jadi kamu juga kerja di LaGroup nak?" Tanya Mega, "Kenapa mama sampai tidak tahu, mama juga gak pernah nanya kamu kerja dimana. Kalian pasti ketemu di kantor?"

__ADS_1


Esta memejamkan matanya sejenak, lalu menoleh pada Angkasa. Ia menatap suaminya, berharap pria itu membantunya menjawab atau mengalihkan pembicaraan. Esta merasa seperti Upik abu di tengah keluarga kerajaan. Sayangnya, Angkasa justru memalingkan wajah.


Bulan yang tahu Esta merasa tak nyaman bisa menebak, bahwa di keluarga Bintang dan Angkasa, tak ada yang tahu Esta bekerja dimana. Ia memutar otak, berusaha mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan, tapi ucapan Langit membuatnya bungkam.


"Kamu bukannya OG? Saya ingat sekarang, kamu yang setiap pagi membuatkan saya kopi, dan saya tidak mau buatan kopi orang lain selain buatanmu dan istri saya tentunya. Wah, saya ikut senang, kamu benar-benar beruntung, Sa." Ucap Langit, ia menoleh pada Angkasa yang tampak tersenyum.


Bulan menatap Esta dengan iba, ia bisa mengerti perasaan Esta, gadis itu pasti merasa rendah diri. Karena itu juga lah yang sering ia rasakan.


"Apa OG?" Alex yang sedari tadi diam mulai mengeluarkan suara, "Benar begitu nak?" Tanyanya pada Esta.


Esta mengangguk, ia berusaha tersenyum. Angkasa sama sekali tak membantunya, ia benar-benar merasa sendiri.


Sedangkan Bintang, ia berbisik pada Bulan, "Aku juga baru sadar, sayang. Aku pernah ketemu sama dia di roof top, aku baru ingat."


Bulan hanya tersenyum, bingung harus bicara apa. Suasana menjadi sedikit canggung, sampai kemudian Bulan berkata, "Esta, apa ini kue buatan kamu? Ini enak," ucap Bulan seraya mencoba cake coklat yang tersaji di atas meja.


"Iya mbak Bulan, mbak suka?" Esta tersenyum, ia tahu Bulan mencoba mencairkan suasana.


"Suka banget, enak loh." Bulan menoleh pada Bintang, "Cobain deh, kamu pasti suka." Ia menyodorkan kue tersebut pada Bintang, menyuapi pria itu dan di sambut senang olehnya. "Gimana? Enak kan?"


Bintang manggut-manggut, "Beneran enak, kalian harus coba juga," ucap Bintang.

__ADS_1


Lalu semua orang pun ikut mencobanya, mereka tahu Bulan dan Bintang mencoba kembali membangun suasana.


"Iya loh, ini sangat lezat. Nak, jika ini di makan dengan kopi buatanmu, pasti akan semakin sempurna. Boleh papi minta di buatkan kopi?" Timpal Langit.


"Tentu boleh," Esta tersenyum senang, kedua mata indahnya berbinar. Apalagi saat Langit secara tidak langsung memintanya memanggil papi, Esta benar-benar merasa di terima di keluarga itu.


"Papa juga, papa mau coba kopi buatan kamu," Alex juga ikut-ikutan.


"Iya pa," kata Esta, ia semakin senang. Ia lalu menoleh pada Angkasa, "Mas mau kopi juga?" Tanyanya.


Angkasa mengangguk, "Boleh."


Esta kembali tersenyum, lalu menoleh pada Bintang, "Pak Bintang juga mau?"


"Tentu, aku penasaran kopi luar biasa buatan kamu sampai papi aku muji kamu. Karena selama ini, belum ada yang bisa menandingi kopi buatan mami."


Esta senang mendengarnya, ia lalu pamit pergi ke dapur.


"Mas brondong, aku samperin Esta dulu boleh?" bisik Bulan.


Bintang mengangguk, ia gemas pada Bulan. Jika mereka tengah berdua, mungkin ia sudah menerkam gadis itu. Eh?

__ADS_1


__ADS_2