MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
LELAH


__ADS_3

Bintang melempar tubuh lelahnya di atas sofa ruang tamu, matanya terpejam, sebelah tangannya memijat pangkal hidung mancungnya. Bukan tubuhnya saja yang lelah, tapi juga jantungnya. Entah mengapa akhir-akhir ini jantungnya tak aman jika berdekatan dengan Bulan, hal itu juga berpengaruh pada kinerja hatinya yang mendadak resah saat mulai berjauhan lagi dengan gadis itu.


“Loh, nak? Tumben duduk dulu disini? Biasanya langsung ke kamar?”


“Aku pusing oma,” Jawabnya pada Violet yang kini duduk di sebelahnya.


Wanita tua itu mengusap lembut rambut cucu kesayangannya dengan lembut, “Ada apa? Pelajaran hari ini berat yah?” Tanya Violet lagi.


Bintang menggeleng, “Tidak, oma. Semuanya baik-baik saja..” jawabnya.


“Katanya pusing, sini oma pijitin..”


Bintang mengangguk, membaringkan tubuhnya di sofa, menjadikan pangkuan sang oma sebagai bantalan untuk kepalanya. Dengan lembut Violet mulai memijat kepala cucunya, sesekali menyugar rambut hitam pemuda itu dan mengusapnya. Membuat Bintang nyaman dan memejamkan matanya.


“Enak nih kayanya..”


Suara itu membuat Bintang kembali membuka mata, ia tersenyum pada Langit yang baru saja pulang dari kantor. “Papi baru pulang?” Tanyanya.


Langit mengangguk, duduk berseberangan dengan Bintang dan Violet lalu melonggarkan dasinya. “Mami mana?” Tanyanya.


Bintang menggeleng, karena sedari ia datang, ia memang belum melihat wanita kesayangannya itu.

__ADS_1


“Tadi di kamar, katanya mau mandi,” jawab Violet.


Langit menyeringai, kemudian beranjak dengan semangat 45.


“Mau kemana pi?” Tanya Bintang, sedangkan Violet hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah menantunya itu. Karena meski usia mereka tak muda lagi, tapi tingkah Langit dan Jingga tak kalah mesra di banding anak muda yang baru berpacaran.


“Nyusul mami,” jawab Langit.


“Ish, mulai..” gerutu Bintang. Tak jarang ia menjadi nyamuk di antara kedua orang tuanya, contohnya saja ketika Langit mengajak mereka quality time keluarga, jadinya bukan menghabiskan waktu bersama, melainkan menghabiskan waktu berdua saja dengan Jingga. Mereka seperti dua anak muda yang baru jatuh cinta, terkadang Bintang kesal sendiri.


“Maklum, sayang. Sepertinya mereka puber kedua,” bisik Violet.


“Bukan oma, mana ada puber kedua. Setiap mereka ketemu serasa dunia milik berdua. Mami sama papi itu pubernya selamanya kayanya,” ucap Bintang yang di akhiri dengan tawa.


***


"Bintang, tunggu! Maafin aku, aku gak sengaja ngomong gitu ke Bulan.." Zeni terus mengejar Bintang, sejak kejadian kemarin, Bintang mengacuhkannya bahkan menghindarinya. Begitu juga dengan Angkasa.


Dengan kesal Bintang menghentikan langkahnya, membuat Zeni tersenyum lalu berdiri di hadapan pemuda itu.


"Jangan minta maaf ke aku, kalau kamu benar-benar merasa bersalah, minta maaf aja sama Bulan. Karena bukan aku yang kamu sakiti, tapi Bulan." Ucap Bintang, ia lalu kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Zeni berdecak, mana mau ia meminta maaf pada Bulan. Apalagi mendapati sikap Bintang dan Angkasa yang bertambah acuh padanya, ia justru merasa Bulan lah yang paling harus di salahkan dalam masalah ini.


"Bulan Bulan Bulan, terus aja dia!" Gerutunya.


"Kalau Lo salah, minta maaf. Malah ngedumel," celetuk salah satu teman sekelasnya yang kebetulan melewatinya.


"Apasi Lo! Jangan ikut campur, nyamber aja kaya bensin!" Zeni menghentakkan sebelah kakinya dengan kesal, lalu pergi menyusul Bintang yang tampak memasuki kelas Bulan.


***


Bintang menatap Bulan yang tengah bercerita pada Cici, entah cerita apa yang tengah gadis itu bagi dengan sahabatnya, Bulan tampak begitu antusias. Sesekali gadis itu tersenyum, sesekali tampak tertawa namun sesekali juga tampak serius. Bintang tak sadar menjadikan Bulan fokus pandangannya, ia bahkan tak merespon sapaan dari pada siswi yang mengidolakannya.


Cici yang duduk menghadap pintu tentu melihat kehadiran Bintang, ia mencolek lengan Bulan lalu menunjuk Bintang dengan gerak kepalanya. Membuat Bulan menoleh ke arah pintu dan sedikit terkejut karena Bintang berada disana. Tapi saat Bulan hendak beranjak untuk menghampiri Bintang, pemuda itu justru pergi.


“Kenapa kali tuh anak,” ucap Cici. “Kayanya Bintang mulai suka sama lo,” ucapnya lagi.


Bulan kembali duduk, “Gak mungkin lah Ci, ngayal. Dia itu cuma kasian liat gue yang sekarang, dulu mana mau dia deket-deket gue. Lo tahu sendiri dia anti banget gue deketin.”


“Masa sih? Tapi yang gue liat gak gitu Lan. Matanya tuh keliatan beda kalau lagi liatin lo. Dulu gak gitu kok, gue berani taruhan, dia tuh beneran suka sama lo Lan..”


Bulan menggeleng, ia tetap pada asumsinya sendiri, “Gak mungkin. Udah ah, berasa mimpi kali kalau dia beneran suka sama gue.”

__ADS_1


Bulan memang berpikir sikap baik Bintang akhir-akhir ini memang karena kasihan dengan kondisinya yang sekarang. Padahal ia paling tak mau di kasihani, tapi ia juga tak bisa menolak sikap manis pemuda itu. Bolehkah ia menikmati kedekatan itu meski karena dasar kasihan?


__ADS_2