MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
BERSAMA KAMU


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Bulan diam. Gadis itu hanya menatap jalanan yang di laluinya. Sesekali bicara pun hanya menunjukkan jalan saja pada Bintang.


"Emmm Bulan, kita mampir makan dulu boleh?" Tanya Bintang setelah sekian lama hening.


Hari mulai gelap, mungkin karena memang mendung juga Maghrib telah tiba. Cahaya lampu di sisian jalan sudah menyala, begitu pun di rumah-rumah.


Bulan terdiam sejenak, sejak siang tadi ia memang belum makan. Tapi untuk makan bersama Bintang? "Enggak makasih, aku mau pulang aja. Kalau kamu mau makan dulu, aku tunggu di mobil."


Bintang menghela nafas panjang, ternyata begitu sulit kembali menaklukan Bulan. Gadis yang dulu mengejarnya dan begitu mencintainya, kini bersikap dingin dan acuh.


"Sekali aja, Lan. Please, mau yah?"


Bulan menghela nafas panjang, ia bingung harus menjawab apa.


"Anggap ini yang terakhir, aku mohon Bulan," kata Bintang lagi. Ia sangat berharap bisa bicara dengan gadis itu untuk meminta maaf.


"Yaudah," jawab Bulan setelah terdiam beberapa saat.


Bintang tersenyum bahagia, "Ada resto enak di depan, kita makan disana aja yah?"


Bulan mengangguk, rasanya ia ingin menjawab, 'makan dimana aja terserah Lo!'


Tak berselang lama, resto yang Bintang bicarakan sudah terlihat. Pria itu membelokkan mobilnya dan memarkirkannya di halaman resto. Bintang turun lebih dulu, baru saja hendak memutari mobil untuk membukakan pintu, Bulan sudah turun lebih dulu.


Mereka berjalan beriringan, memasuki resto yang menyajikan menu khas Sunda. Sejak pulang dari Amsterdam, Bintang sangat ingin memakan nasi liwet. Maklum, lidahnya sudah merindukan makanan di negerinya.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa?" Tanya Bintang sesaat setelah mereka duduk.


"Terserah kamu," jawab Bulan. Ia mengedarkan pandangannya, resto yang sangat nyaman, sejuk dan asri.


Begitu banyak gazebo disana, yang mereka gunakan untuk ruang makan. Konsep yang berbeda memang, tidak seperti resto pada umumnya, resto itu unik.


Mereka membuat banyak gazebo untuk ruang makan tamunya, gazebo terbuka yang menyajikan pemandangan hijau. Yang lebih membuat Bulan takjub, ia berdiri di gazebo yang di bangun di atas air. Ikan-ikan besar tampak berlalu lalang di dalamnya.


Semilir angin menambah kesejukan, andai hari masih siang, Bulan pasti dapat melihat pemandangan disana lebih jelas. Namun meski begitu, pencahayaan yang cukup masih membuat Bulan dapat melihat hijaunya taman juga ikan-ikan di bawahnya.


Mereka duduk lesehan, berhadapan menunggu pesanan datang. Ada meja berukuran sedang di tengah yang menjadi pembatas mereka.


"Bulan.." panggil Bintang.


"Ada apa?"


Bintang tersenyum, menatap gadis itu dengan lekat, "Selamat untuk hubunganmu dan Angkasa," kata Bintang.


"Terima kasih, dari mana kamu tahu?"


"Aku mendengarnya sendiri," jawab Bintang, ia tersenyum kembali, meski jelas terlihat senyuman pria itu menyamarkan luka. "Aku juga mau minta maaf," ucap Bintang lagi.


"Minta maaf untuk apa?"


"Untuk aku yang pengecut, aku pasti membuat kamu kecewa. Karena alasan gak mau liat kamu nangis saat aku pergi, aku pergi gitu aja. Aku gak ngasih kamu kepastian atau gak minta kamu buat tunggu aku, maaf. Aku kira, sikap dan perbuatan aku aja sudah cukup untuk mengungkapkan perasaan aku, tapi aku salah. Aku sekarang mengerti, bahwa pengakuan lisan juga sangat penting. Karena tidak semua mengerti bahasa tubuh."

__ADS_1


Bulan terdiam, dadanya bergejolak, antara rasa rindu dan kecewa menjadi satu. Kebimbangan dalam hatinya membuat gadis itu hanya bisa bungkam, andai ia memaafkan Bintang, apa semua akan kembali seperti dulu? Sedangkan kini sudah ada Angkasa dalam hidupnya.


"Kamu mau kan maafin aku?" Tanya Bintang karena Bulan hanya diam saja.


Helaan nafas dalam terdengar berhembus dari mulutnya, Bulan lalu mengangguk. "Aku maafin kamu," lirihnya. Apa selemah itu hatinya? Hingga ia tak bisa memendam rasa kecewa pada pria itu terlalu lama, ia tak bisa melihat sorot sendu dari kedua netra tajam pria itu.


Bintang tersenyum lega, ia meraih tangan Bulan lalu ia genggam. Namun Bulan kembali menarik tangannya.


"Aku maafin kamu, Bintang. Tapi kita gak bisa kaya dulu lagi, lagian dulu juga kita gak punya status apa-apa. Sekarang aku punya Angkasa," ucap Bulan dengan tegas.


Bintang mengangguk lemah, "Aku tahu. Tapi seenggaknya, kita bisa kan jadi sahabat?" Biarlah ia egois, yang mengharapkan jantung setelah di berikan hati. Tapi Bintang ingin sikap Bulan tak dingin lagi padanya, meski sebagai teman, Bintang berharap Bulan tak mengacuhkannya lagi.


Bulan terdiam, ia memalingkan wajahnya. Membuat Bintang mengesah pasrah, dari wajah berpaling itu, Bintang tahu Bulan tak ingin lagi dekat dengannya. Dan percayalah, itu rasanya sangat menyakitkan!


"Maaf kalau aku terlalu banyak meminta. Terima kasih karena kamu udah maafin aku," kata Bintang.


Bulan kembali mengangguk, percakapan mereka terhenti saat menu makanan yang mereka pesan datang.


***


"Bulan belum pulang, nak. Om kira dia sama kamu," Bumi mengajak Angkasa duduk, "Nomornya gak aktif, kayanya ponselnya habis daya," kata Bumi lagi.


"Tadi aku mendadak ada tugas ke luar kota, Om. Jadi aku gak bisa jemput Bulan, semoga aja Bulan cepat pulang." Terlihat jelas raut wajah cemas dari Angkasa, ia jadi merasa menjadi pacar yang tak bisa menjaga kekasihnya.


"Oh gitu, mungkin bentar lagi Bulan juga pulang. Om buatkan kopi buat kamu, tunggu bentar," Bumi beranjak untuk membuat kopi, membiarkan Angkasa menunggu di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2