MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
BERASA MIMPI


__ADS_3

Bulan menatap genggaman tangan Bintang, sedari mereka di ballroom, sampai mereka hendak memasuki lift, tangan Bintang tak lepas dari tangannya.


Tak dapat lagi Bulan gambarkan apa isi hatinya saat ini. Mungkin ada ribuan bunga-bunga yang berserakan di hatinya, karena sejak tadi bibirnya tak lepas tersenyum. Dan Bintang lah yang membuatnya seperti orang gila, senyam senyum tak jelas seperti orang tak waras.


"Senyam senyum terus," celetuk Bintang bersamaan dengan tertutupnya pintu lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar.


"Kamu tahu yang bikin aku kaya orang gila gini," ucap Bulan dengan polosnya. Ia terlalu jujur, dan hal itu selalu saja berhasil membuat Bintang tertawa karena gemas.


"Kok aku?" Bintang menarik Bulan, membuat gadis itu bergeser sekaligus dan menabrak pelan lengan Bintang.


"Untung gak jatuh, ih. Bilang dong kalau mau narik-narik," protes Bulan.


Bintang tertawa tanpa suara, mengecup punggung tangan Bulan yang masih ia genggam, "Jawab dulu, kenapa aku bisa jadi alasan kamu senyam senyum sendiri?"


Bulan mendongak, menatap Bintang yang jauh lebih tinggi darinya, "Ini kaya mimpi buat aku, kita sedekat ini, aku gak pernah berharap khayalan aku ini jadi nyata. Karena aku tahu kamu gak pernah suka sama aku, tapi lihat lah sekarang, aku bisa deket banget sama kamu," jujur Bulan.


Bintang tersenyum, pria itu terdengar menghembuskan nafas panjang. "Maafin aku," ungkapnya.


Bulan mengerjap, menatap Bintang semakin intens, "Maaf untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk sikap aku yang dulu," ucap Bintang dengan lembut.


Bulan tersihir dengan tatapan lekat Bintang dan suara lembut pria itu, ia tak dapat mengalihkan pandangannya dari pria tampan yang mempunyai sejuta pesona itu. Rasanya enggan berpaling, andai saja setiap saat ia bisa melihat wajah tampan itu, maka Bulan adalah gadis paling beruntung dan paling bahagia di dunia.


Sampai ketika wajah tampan itu semakin mendekat, Bulan baru mengedip-ngedipkan matanya, mengerjap gugup karena menurut pengalamannya beberapa saat yang lalu, Bintang akan menyatukan bibirnya.


TRING


Pintu lift terbuka, Bulan reflek menjauh dari Bintang. Gadis itu merasa menjadi maling yang di pergoki warga. Padahal di luar sana tak ada siapa-siapa, tapi Bulan terlihat begitu terkejut dan panik.


Saat Bintang kembali menggenggam tangannya pun, Bulan masih berusaha menetralkan rasa terkejutnya. Berbeda dengan Bintang yang justru terlihat begitu santai.


Bulan tersipu malu, gadis itu terburu-buru masuk, nyaris terpentok pintu mobil bagian atas jika saja tangan Bintang tak sigap melindungi kepalanya. Hal kecil tapi sangat manis, membuat Bulan semakin melayang ke awang-awang.


Belum sempat jantungnya kembali tenang, Bulan kembali di buat gugup saat Bintang membantunya memasang set belt. Jarak mereka sangat dekat, hidung Bulan bahkan nyaris bersentuhan dengan pipi Bintang. Membuat Bulan sedikit mundur untuk mengambil jarak. Namun hal itu percuma saat Bintang justru mengikis jarak di antara mereka, pria itu tersenyum menggoda lalu mencuri kecupan sekilas dari bibir Bulan.


Bulan ternganga, ia baru tahu Bintang se-mes*m itu. Dua kali, dua kali pria itu mencuri ciuman darinya.


Jika tadi Bintang melakukan itu karena alasan ingin membuat Bulan tak cemberut lagi padanya, lalu kali ini apa alasan pria itu melakukannya?

__ADS_1


Bulan bahkan masih menahan nafasnya, entah mengapa ia tak berani bernafas. "Jangan sampai angin nafas aku terbuang di bawah! Bisa gawat kalau aku buang gas gara-gara nahan nafas!"


"Nafas Bulan," celetuk Bintang.


"Eh?" Bulan menunduk malu, entah sejak kapan ia menjadi gadis imut yang malu-malu kucing. Padahal ia yang sebelumnya gencar mengejar Bintang, tapi saat Bintang-nya nyaris ia raih, ia jadi mati kutu.


Bintang terkekeh melihat sikap malu-malu Bulan, ternyata gadis yang sedikit bar-bar dan agresif itu bisa semanis ini. Seperti kucing imut yang sangat menggemaskan.


"Ternyata kamu imut banget yah? Padahal biasanya bar-bar, coba bilang kamu suka aku, kaya dulu yang sering kamu bilang ke aku," kata Bintang.


"Ih, gak!"


"Kenapa? Biasanya kamu semangat banget deketin aku, kenapa sekarang jadi diem?" Kata Bintang lagi.


"Gak tahu, aku malu," ucap Bulan seraya menutup wajahnya dengan tangan.


Bintang tertawa tanpa suara, lalu mengusap puncak kepala Bulan dengan gemas, "Sini peluk," ucapnya seraya membawa gadis itu ke dalam dekapannya.


Bulan tersenyum lebar, memeluk Bintang dengan begitu erat. Lagi-lagi, ia merasa ini seperti mimpi. Tapi mana mungkin ini mimpi, jelas-jelas ia bisa mencium wangi maskulin dari tubuh pria itu.

__ADS_1


***


__ADS_2