MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
PERTEMUAN


__ADS_3

Bulan tersenyum saat Langit menyapanya, ia duduk bersebelahan dengan Angkasa dan Gea, berhadapan dengan klien penting yang sempat Gea bicarakan. Sedangkan Langit duduk di kursi terpisah khusus untuknya. Dan Alex, pria itu berdiri di belakang Langit.


"Tuan Langit, apa bisa kita mulai?" Tanya Asisten Bramantyo, klien besar yang proyeknya tengah mereka tangani.


"Tunggu sebentar pak Sasmi, ada satu orang lagi yang akan ikut meeting, beliau sedang menuju kemari," jawab Alex.


Bramantyo dan Sasmi mengangguk, menunggu seraya mengobrol ringan, ngalor ngidul membicarakan bisnis mereka. Sampai ketika pintu ruangan terbuka, semua orang menoleh.


"Maaf saya sedikit terlambat," ucap orang itu seraya tersenyum.


Mendengar suara itu, Bulan yang semula tengah mengambil pulpen yang terjatuh, segera menoleh. Matanya membulat sempurna, waktu seolah berhenti saat itu juga, "Bintang?" lirihnya. Dadanya tiba-tiba sesak, seperti sebuah film, kenangan mereka kembali berputar jelas di benaknya. Membuat rasa sakit yang sempat bersembunyi kini kembali mencuat.


Dengan tenang, Bintang terus berjalan, memasuki ruangan melewati Bulan yang tampak pucat. Pria itu membungkuk sesaat sebagai tanda hormat untuk tamu penting LaGroup, di sambut hangat oleh Bram dan Sasmi.


"Waw, pewaris LaGroup? Ini kejutan luar biasa untuk kami. Sudah lama kita tidak bertemu, apa kabar nak?" Bram memeluk singkat Bintang, menepuk punggungnya beberapa kali dengan hangat.


"Baik Tuan Bram, sangat baik. Senang bisa bertemu lagi denganmu," balas Bintang. Ia lalu menyalami Sasmi dan tersenyum ramah pada pria itu.

__ADS_1


"Maaf tidak memberi tahu sebelumnya, putraku akan ikut menangani proyek ini, dia ingin belajar sebelum menggantikan ku nantinya," jelas Langit.


"Suatu kehormatan untuk kami, senang nak Bintang bisa ikut bergabung," ucap Bram.


Langit tersenyum, lalu menoleh pada Angkasa, Bulan dan Gea. Reaksi mereka bertiga berbeda, Angkasa tampak santai, sedangkan Bulan tampak menunduk tak ingin menatap Bintang. Dan Gea, perempuan itu tampak ternganga karena terpesona.


"Kalian tidak keberatan kan jika tugasku di gantikan oleh Bintang?" tanya Langit.


"Tentu pak, selamat bergabung pak Bintang," ucap Angkasa sebagai formalitas.


Karena masih terkejut, Bulan hanya diam saja. Gadis itu masih menunduk menahan air mata. Rasanya campur aduk, antara marah, rindu dan kesal menjadi satu. Dan debaran di dadanya membuktikan bahwa rasa yang sama masih ia miliki untuk Bintang.


"Bulan.." bisik Gea, ia menyenggol lengan Bulan, membuat Bulan menoleh dengan tatapan bingung.


Sampai ketika Angkasa menggenggam tangannya, Bulan mulai tersadar bahwa semua orang tengah menatapnya dan menunggunya.


"Bulan, kamu pasti bisa," bisik Angkasa. Ia tersenyum menenangkan, mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut. "Anggap dia tidak ada," bisik Angkasa lagi. Ia bisa menenangkan Bulan, padahal hatinya juga tengah tak karuan. Ia tahu Bintang akan segera pulang, tapi ia tak tahu akan secepat ini. Dan ternyata bukan hanya Bulan yang tak siap dengan kedatangan Bintang kembali, tapi dirinya pun belum siap.

__ADS_1


Bulan menunduk, rasanya ia tak akan sanggup memulai. Ia takut justru akan mengacaukan meeting jika ia paksakan, tapi ia juga tak mau mengecewakan semua orang terutama Langit yang sudah memberinya kesempatan untuk bekerja disana.


"Bulan.." panggil Langit. Ia tersenyum saat Bulan menoleh, "Kami menunggu ide brilian darimu," ucapnya lagi.


Bulan menghela nafas panjang, berusaha menenangkan debaran di jantungnya juga perasaan kacaunya. "Baik pak," ucapnya.


Gadis itu beranjak, berdiri di depan untuk memulai pekerjaannya. Ia sama sekali tak menatap Bintang yang duduk di sebelah Langit. Dengan perasaan yang sedikit carut marut, Bulan harus berusaha konsentrasi, ia tak mau membuat Langit meragukan kinerjanya.


***


"Kenapa tidak di sertakan area bermain anak?karena selain memberikan kenyamanan berbelanja untuk orang dewasa, kita juga harus memberikan kenyamanan untuk anak-anak," ucap Bintang sesaat setelah Bulan menyelesaikan presentasinya.


Mau tidak mau Bulan menoleh menatap Bintang, ia lalu berkata, "Karena itu saya memberi area kosong di lantai tiga ini. Ini saya peruntukan jika ada masukan dari pihak pak Bram atau pak Langit. Area kosong ini bisa kita jadikan area bermain anak, atau mushola tempat beribadah. Tergantung keinginan dari kedua belah pihak yang di sepakati." Jawab Bulan, ia kembali memalingkan wajahnya dari Bintang, menatap ke arah Langit dan Bram bergantian.


"Ide bagus, saya suka. Bagaimana jika area kosong itu kita jadikan area ramah anak dan di sisi lainnya sebagai tempat beribadah," ucap pak Bram. "Ide kalian memang klop, tidak salah saya mempercayakan proyek ini pada LaGroup, kalian sungguh luar biasa, ide dari Bulan dan Bintang saling melengkapi. Ok, saya setuju."


Langit tersenyum puas, dan semua orang bernafas lega. Akhirnya kesepakatan terjalin. Proyek itu akan segera di mulai, dan babak kehidupan baru Bulan Bintang pun akan di mulai.

__ADS_1


__ADS_2