MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
DI LUAR PREDIKSI BMKG


__ADS_3

Bulan mengedarkan pandangannya pada sisi ballroom yang sudah tampak ramai, ia datang sedikit terlambat.


Tatapannya terhenti pada dua pria yang juga tengah menatapnya, ia segera mengalihkan pandangannya. Bulan masih kesal dengan Bintang, meski rasa rindu tetap saja ada.


"Lan, mau duduk dimana?" Tanya Cici.


"Di pojok sana aja, Ci," Bulan menunjuk meja yang masih kosong, meja yang terletak di ujung berseberangan dengan meja Bintang dan Angkasa.


Alunan lagu merdu terdengar memanjakan telinga, hidangan berbagai menu sudah tersaji dan bebas untuk di santap. Bintang memang sengaja meminta pelayan menghidangkan makanan ala-ala prasmanan, agar semua orang tak di batasi dan bebas mengambil makanan.


"Bulan masih kesal tuh kayanya," celetuk Angkasa, membuat Bintang mengalihkan pandangan dari Bulan.


"Aku pasti minta maaf," ucap Bintang. Bulan terlihat berbeda malam ini, meski gaun yang gadis itu gunakan sederhana, namun kecantikan gadis itu mampu membuat apapun yang di pakainya terlihat sempurna. Gadis yang dulu agresif dan sedikit pecicilan itu, malam ini justru tampak sangat anggun.


Angkasa berdecak, ia juga ikut kesal pada Bintang. Itu masalah sensitif, tapi Bintang justru mengatakannya pada Bulan. Padahal Bintang pun tak bermaksud melukai Bulan dan menyinggung perasaan gadis itu, ia hanya ingin menyemangati Bulan saja. Namun mungkin caranya kurang tepat, dalam hal mengerti perasaan wanita, Bintang memang kalah dengan Angkasa.


"Cantik banget dia malam ini," kata Angkasa. Membuat Bintang menatapnya dengan tatapan tak suka, "Kenapa Lo? Gitu amat liatin gue-nya? Cemburu gue bilang Bulan cantik? Dia emang cantik kan? Lo aja sampe ngiler gitu liatin dia."


Bintang mendengus kesal, "Siapa yang cemburu? Jangan ngada-ngada kamu!" sangkalnya, konyolnya, ia mengusap ujung bibirnya. Membuat Angkasa tertawa dan memukul lengan sang sepupu.


***


"Lan, Bintang ngeliatin Lo terus dari tadi," bisik Cici.


Bulan mengedikan bahunya, "Biarin lah, masih kesel gue."


"Yakin? Gak percaya gue, pasti hati kecil Lo kangen kan sama dia?"


"Ish, gak!"


Melihat pipi Bulan merona, Cici tertawa. Ia yakin sahabatnya itu tengah mati-matian menahan rindu dan menahan wajahnya agar tak menoleh ke arah Bintang.


"Gue ke toilet dulu deh," ucap Bulan seraya beranjak.

__ADS_1


"Mau gue anterin gak?" tawar Cici. Ia menyeruput minumannya lalu ikut beranjak.


"Gak usah, Lo disini aja. Gue cuma bentar kok."


"Tapi kata papa Lo gue harus jaga bidadarinya ini, lagian emang Lo tahu toiletnya dimana?"


"Lebay ih, tahu lah. Kalau pun gak tahu ya tinggal nanya. Udah Lo duduk lagi aja, ok?"


Akhirnya Cici mengangguk, ia kembali duduk dan membiarkan Bulan pergi sendiri.


***


"Mau kemana Lo?" tanya Angkasa dengan mulut penuhnya, ia tengah menikmati hidangan yang pelayan bawakan untuknya. Jika orang lain mengambil makanannya sendiri, lain lagi dengan Bintang dan Angkasa yang di layani secara langsung oleh manager hotel dan para pelayannya.


"Toilet, mau ikut?"


Angkasa bergidik, "Ogah!"


Meninggalkan keramaian acara, Bintang melangkahkan kakinya menuju toilet.


***


Bulan terkejut saat ada seseorang yang menarik tangannya dan membuat gadis itu berbalik menubruk dada seseorang. Ia hendak berteriak.


"Sssstttt, jangan berteriak. Aku mau ngomong sama kamu, bisa?"


Bulan menggeleng, ia mundur beberapa langkah untuk memberi jarak setelah ia menarik tangannya dari genggaman Bintang.


"Bulan please," Bintang tampak memohon, ia harus mendapatkan maaf dari gadis itu.


"Mau ngomong apa lagi Bintang?" Tanya Bulan dengan kesal.


"Aku cuma mau minta maaf sama kamu, jangan marah lagi," mohon Bintang lagi.

__ADS_1


"Aku udah maafin kamu, udah kan?" Bulan berbalik hendak kembali pergi, namun lagi-lagi Bintang menarik tangannya hingga gadis itu kembali menabrak dada Bintang.


Dengan sekali gerakan, Bintang merengkuh pinggang Bulan lalu mendorong gadis itu ke dinding, mengunci tubuh mungil Bulan dengan kedua tangannya.


Tatapan mereka bertemu, baik Bulan maupun Bintang sama-sama membisu. Sampai beberapa menit berlalu, mereka masih saling menatap.


"Bulan.." panggil Bintang dengan lembut.


Bulan seolah tersadar dengan pesona Bintang yang menyihirnya, ia mendorong dada Bintang namun pria itu tetap bergeming.


"Bintang, awas!"


CUP


Alih-alih menyingkir, Bintang justru menempelkan bibirnya dengan lembut di bibir Bulan. Hanya menempel tanpa ada pergerakan sedikit pun. Entah mendapat keberanian dari mana, Bintang sungguh di luar prediksi BMKG.


Bulan tentu terkejut, tapi tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Mungkin karena terlalu terkejut tubuh gadis itu mematung tak bergerak, hanya matanya saja yang masih tampak membulat, bahkan kedua netra indah itu tak berkedip sekali pun.


Gilanya lagi, Bintang pergi begitu saja setelah membuat Bulan nyaris pingsan dengan apa yang pria itu lakukan. Meninggalkan Bulan yang masih mematung tak bergerak.


Setelah beberapa menit berlalu, Bulan meraba jantungnya yang berdegup sangat kencang, kemudian meraba bibirnya yang masih terasa hangat. Beberapa kali ia menggelengkan kepalanya agar ia bisa mengumpulkan kesadarannya dengan penuh. Agar jantungnya bisa kembali normal dan agar otaknya bisa kembali bekerja.


"A-apa itu tadi? Bintang, Bintang.."


Bulan tak dapat melanjutkan kalimatnya, kenapa lidahnya juga ikut tak normal? Ingin bicara saja rasanya sulit, "Sadar Bulan, sadar," gumamnya seraya menepuk-nepuk pipinya sendiri.


Ia merogoh tasnya untuk mencari ponselnya, gadis itu mencari nama kontak Cici dengan tangan sedikit bergetar. Bahkan ponselnya nyaris terlepas dari tangannya, ia menghubungi Cici tapi sayangnya sahabatnya itu tak mengangkat panggilan darinya.


Mungkin suara musik menutupi suara dering ponsel milik Cici. Padahal Bulan ingin mengajak gadis itu pulang, tapi panggilannya tak terjawab. Dengan terpaksa, Bulan kembali ke ballroom untuk menemui sang sahabat.


IKLAN


Bulan yang dapet kecupan aku yang meleleh. Ikut deg-degan, berasa aku yang di cupcup. Hahahay

__ADS_1


Bintang tuh emang bener-bener minta di getok! Main sosor aja!


__ADS_2