
"Aku minta maaf.." lirih Bulan, melihat raut wajah frustasi dari Angkasa, Bulan tak tahan, ia menangis dan memeluk Angkasa.
Jika boleh jujur, ia sangat kehilangan sosok Angkasa yang menjadi sahabatnya dulu. Angkasa yang selalu menjaganya, melindunginya, mengayominya dan selalu ada untuknya.
Setelah menjalin hubungan, entah kenapa Angkasa berubah. Mungkin karena naluri kepemilikannya, pria itu menjadi posesif.
Angkasa balas memeluk, matanya terpejam meresapi betapa hatinya sakit saat Bulan menolaknya memberi kesempatan.
"Ini yang terbaik, Sa. Aku cuma nyakitin kamu, aku gak mau hubungan persahabatan kita rusak karena hubungan yang lebih. Aku kangen kamu yang dulu, aku gak bisa terus ngasih kamu harapan." Bulan semakin terisak, ia tahu Angkasa pasti terluka, tapi bukankah lebih baik terluka sekarang ketimbang nanti? Saat perasaan Angkasa padanya semakin dalam, saat ia semakin dalam juga menyakiti Angkasa, bukankah akan semakin sulit menyembuhkan lukanya?
Bulan tak tahu saja, bahwa perasaan Angkasa padanya memang sudah sangat dalam. Bertahun-tahun pria itu memendam cinta, menjalani cinta sendiri yang terkadang membuatnya nyaris gila. Dan saat Bulan sudah ia dapatkan, kenapa ia justru menyakiti gadis itu? Yang akibatnya membuat Bulan mundur dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Mempertahankan hubungan tak sehat hanya menunda perpisahan saja, lebih baik semuanya cepat di akhiri sebelum terluka semakin dalam.
"Ok, aku terima keputusan kamu. Kalau menurut kamu ini jalan terbaik, aku bisa apa Lan?" Ucapnya lirih. Setiap untaian kata yang Angkasa lontarkan, menggambarkan seberapa besar rasa sakit yang pria itu rasakan. Tapi ia bisa apa? Memaksakan perasaan juga tak baik, semuanya akan berujung sama, PERPISAHAN!
Sekarang atau nanti, rasa perpisahan memang sama, sakit! Tidak ada perpisahan yang baik-baik saja, perpisahan pasti meninggalkan luka dan trauma tersendiri.
__ADS_1
"Maafin aku," kata Bulan lagi.
Angkasa mengangguk, ia melerai dekapannya dan menatap Bulan dengan lekat, "Maafin aku juga. Aku pasti nyakitin perasaan kamu."
"Enggak, justru aku yang nyakitin kamu. Aku yang udah bawa kamu ke dalam hubungan ini, aku yang udah paksa kamu, Sa. Aku minta maaf.."
Angkasa tersenyum, "Meski beberapa hari, tapi aku bahagia Lan. Aku bersyukur pernah menjadi seseorang yang kamu sebut pacar. Terima kasih," dengan lembut ia menghapus air mata Bulan, lalu menangkup kedua pipi gadis itu dengan penuh kasih.
Membuat Bulan menumpuk kedua tangannya dengan kedua tangan Angkasa yang masih berada di pipinya. Tatapan mereka saling mengunci, jika Bulan menatap Angkasa dengan rasa bersalahnya, maka Angkasa menatap Bulan dengan penuh cinta.
Perlahan Angkasa mendekat, mengecup kening Bulan dengan penuh perasaan. Bulan biarkan pria itu melakukannya, ia anggap kecupan penuh kasih itu sebagai kecupan seorang kakak pada adiknya, atau kecupan Sabahat untuk sahabatnya.
Bulan tersenyum seraya mengangguk beberapa kali, "Boleh, besok-besok juga boleh makan bareng aku."
Dengan gemas Angkasa mengusap puncak kepala Bulan, ia mengajak gadis itu duduk untuk makan bersama.
"Aku suapi," kata Bulan.
__ADS_1
Tentu saja Angkasa mengangguk, ia pasti akan sangat bahagia merasakan suapan dari gadis yang di cintainya.
Dengan mata berkaca-kaca, Angkasa menerima suapan dari Bulan. Ia kunyah makanan itu dengan pelan, seolah waktu tak mau cepat berlalu, Angkasa merasakan rasa masakan Bulan dengan pelan dan penuh perasaan, merekam setiap detik kebersamaan mereka dalam benaknya.
***
Bintang berjalan tergesa melewati beberapa karyawan yang menyapanya. Wajahnya masam, tatapan matanya setajam silet, ia bahkan tak tersenyum sedikitpun untuk menjawab sapaan karyawan yang di lewatinya.
Melihat Bulan menyuapi Angkasa, tentu hatinya panas. Darahnya bergejolak, ingin sekali ia masuk ke ruangan itu lalu memisahkan Bulan dan Angkasa, mengatakan pada dua orang itu bahwa ia cemburu, tapi ia masih waras dan menahan diri. Ia sadar Bulan dan Angkasa sepasang kekasih, kenyataan itu lah yang masih ia tahu.
Setelah mengantar Kimmy, entah mengapa ia sangat ingin ke ruangan Bulan. Langkah kakinya menuntun pria itu untuk pergi ke lantai Lima, lantai dimana ruangan Bulan berada. Tapi sayang, ia justru melihat pemandangan indah yang membuat hatinya panas.
"Harusnya aku gak kesana, sial!!"
Bintang tak tahu, bahwa apa yang Bulan dan Angkasa lakukan adalah penawaran terakhir dari Angkasa sebelum hubungan mereka benar-benar berakhir. Jika ia tahu, mungkin ia bisa salto atau jingkrak-jingkrak tak karuan, karena satu saingannya berkurang setelah ia tahu ternyata tak hanya dirinya dan Angkasa yang mengejar Bulan, tapi masih ada beberapa pria seperti Gilang misalnya.
"Asem banget, niatnya ngajak dia makan siang bareng, aku malah dapet pemandangan pahit!"
__ADS_1
Bintang terus menggerutu dalam hati, bahkan nyaris semua rasa tak enak ia bawa-bawa, asem, pahit lalu apalagi?