
"Gue pernah anter dia pulang."
"Apa?"
Angkasa mengernyit, sedetik kemudian bibirnya menyeringai jahil, "Kenapa? Kok kaget? Gak masalah dong, gue jomblo, Bulan juga jomblo, gak bakalan ada yang marah kalau kita pergi bareng. Atau jangan-jangan Lo cemburu?"
"Ish, apa sih Sa!" Seperti biasa Bintang menyangkal, ia melanjutkan langkahnya menuju kantin.
Angkasa tersenyum, kepalanya menggeleng beberapa kali. "Bulan, kayanya Lo emang bukan buat gue.." batinnya. Ia lalu mempercepat langkahnya menyusul Bintang.
Mereka duduk di pojok kantin, selain karena memang nyaman duduk mojok-mojok, tempat yang kosong memang hanya tinggal itu saja.
"Gue pesen makanan dulu. Lo mau apa?" tanya Angkasa, ia sudah berdiri hendak pergi.
"Capuccino hangat aja," jawab Bintang.
"Makanannya?"
"Aku gak laper," jawab Bintang.
"Galau boleh, tapi perut juga wajib di isi. kalau mami Ji tahu, gue bisa kena omel. Buruan mau makan apa?"
Bintang berdecak saat Angkasa tak juga pergi, pemuda itu masih menunggu jawabannya. Entah mengapa ia jadi ingat bekal makanan yang selalu Bulan bawa untuknya, "Nasi goreng aja," ucapnya. Karena terakhir, Bulan membawakannya nasi goreng yang di rebut Zeni, gadis itu memakannya sampai habis.
Angkasa tersenyum kecil, lalu pergi untuk memesan makanan.
Sepeninggal Angkasa, Bintang mengambil ponselnya dari saku celana, kemudian membuka kuncinya dan memeriksa apakah ada notifikasi yang masuk. Ternyata tidak ada, ponselnya sepi.
Biasanya akan ada beberapa pesan dari Bulan, meski Bulan bisa melihatnya, gadis itu pasti terus mengiriminya pesan. Entah itu untuk mengirim kata-kata gombalan receh, memastikan Bintang makan, atau menanyakan apakah bekal darinya enak atau tidak? Habis atau tidak? Di buang atau di makan? Dan masih banyak lagi kecerewetan Bulan yang biasa gadis itu tuangkan dalam pesan chat.
"Kenapa aku terus memikirkannya?" gumamnya. "Ini pasti karena aku sudah terbiasa mendapat pesan darinya. Ish, bisa gila aku lama-lama.."
__ADS_1
"Apa yang bisa bikin Lo gila?" celetuk Angkasa yang tanpa sengaja mendengar gumaman sepupunya.
Bintang menggeleng, "Gak. Nguping itu gak baik, gak sopan tahu!"
"Ngomong sendiri juga gak baik, kaya orang gila tahu!" Angkasa menyerang balik, menirukan ucapan Bintang.
Bintang mendengus, ia menoleh saat ada seseorang memanggilnya dan berdiri di sebelahnya.
"Kak Bintang, Minggu depan ikut ekskul musik lagi kan?" tanyanya.
Bintang tak lekas menjawab, entah mengapa ia kembali teringat pada Bulan yang kemarin tak hadir di ekskul musik. Ia lalu menggeleng, "Gak tahu."
"Kok gitu, aku semangat ikut ekskul musik karena ada kakak tahu. Oiya, kenalin, aku Mika. Kemaren hari pertama aku ikut ekskul musik," terangnya.
Bintang mengangguk, ia baru ingat bahwa ia memang melihat gadis itu di ekskul musik kemarin. "Udah tahu nama aku kan? Gak usah di kenalin lagi."
Mendengar ucapan Bintang, Angkasa menahan tawanya. Sepupunya itu memang kaku, bahasanya baku juga dingin. Ia menoleh menatap gadis bernama Mika yang kini mulai duduk di sebelahnya berseberangan dengan Bintang. "Lo kelas berapa?" Tanyanya.
"Iya gue tahu, tadi Lo udah nyebutin nama Lo kan. Lo mau ikut makan bareng kita?" Tanya Angkasa, bukan tawaran, lebih kepada sindiran. Tapi ternyata gadis itu mengangguk senang. Membuat Angkasa terbengong, apalagi ketika Bintang menatapnya dengan tajam, ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Akhirnya mereka makan satu meja. Gadis bernama Mika itu adalah gadis kedua setelah Bulan yang berani secara terang-terangan mendekati Bintang.
Sementara itu..
Helaan nafas dalam berhembus dari bibirnya, ia kembali menatap layar ponselnya. Beberapa saat lalu, sahabatnya mengirim sebuah foto. Foto yang membuatnya sedih, cemburu, kesal, ingin marah tapi bingung harus marah pada siapa, ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
"Kayanya kamu emang gak perduli sama aku. Apa kamu gak ngerasa kehilangan sedikiiit aja Bintang, aku gak masuk tapi kamu justru keliatan bahagia.." lirihnya.
Dia adalah Bulan, gadis itu menghempaskan tubuhnya pada ranjang, namun sedetik kemudian kembali bangun seraya mengaduh.
"Lupa kalau kasur ini gak se empuk kasur aku yang dulu," ucapnya.
__ADS_1
Pandangannya mengedar, ia kembali menghela nafas dalam, bahkan ruangan itu hanya sebesar kamar mandinya dulu.
"Aku harus tetap bersyukur, setidaknya aku masih punya tempat tinggal.." lirihnya.
Ketukan di pintu kamar membuatnya beranjak, karena ia mengunci kamar ia harus bangun untuk membukanya.
"Papa?"
Pria paruh baya itu tersenyum, mengusap puncak kepala sang putri dengan penuh kasih sayang, "Papa boleh masuk?" tanyanya.
Bulan mengangguk, ia tersenyum manis, "Tentu boleh pa, kenapa minta izin segala?" candanya.
"Putri papa ini kan sudah besar, tentu papa harus lebih menghargai privasi kamu. Jadi papa harus izin dong.." selorohnya.
Bulan hanya tersenyum mendengar ucapan papanya, ia duduk di sisi ranjang yang kemudian di susul oleh Bumi, papanya.
"Ada apa pa?" Melihat raut wajah sedih sang papa, ia jadi resah. "Apa ada yang terjadi lagi?"
Bumi menggeleng, "Ini tentang sekolah kamu," lirih Bumi.
Mendengar kalimat itu, seketika jantung Bulan berdetak kencang, ia menyadari satu hal, keadaanya sekarang berbeda dengan keadaannya kemarin. "Apa, apa Bulan juga harus pindah sekolah pa?" tanyanya dengan bibir bergetar menahan tangis. Ia memang berniat melupakan impiannya mengejar cinta Bintang, tapi ia juga tak siap jika harus benar-benar jauh dari pemuda itu. Membayangkan tak akan melihat Bintang lagi membuat Bulan tak bisa menahan tangisnya, dadanya sesak. Ia takut, sungguh ia tak akan bisa.
Tangisnya semakin pecah saat mendapati anggukan dari sang papa. Ia tahu betul papanya tak akan bisa lagi membiayai sekolahnya di sekolahnya yang sekarang. Sekolah elite yang biayanya juga elite. Tapi untuk pindah, rasanya ia tak sanggup. Namun melihat keadaan mereka sekarang, apa ia sanggup membebani Bumi dengan biaya sekolahnya.
"Maafkan papa nak, andai mama masih ada, mungkin papa tidak akan teledor. Mama mu pasti akan mengingatkan papa agar langkah papa tidak salah, maaf karena kamu menjadi korban keteledoran papa.."
Bulan menggeleng, ia berhambur memeluk Bumi, "Papa gak salah, ini bukan salah papa. Aku akan memikirkannya, aku janji aku gak akan membebani papa.."
Keduanya menangis, mereka saling mendekap memberi kekuatan. Takdir seseorang memang tak bisa di tebak, Hanya dalam hitungan jam, keadaan Bulan dan papanya berubah drastis. Meski mereka mencoba untu tegar, kuat dan tersenyum, nyatanya tangisan mereka menjadi gambaran betapa mereka tengah rapuh karena terjatuh.
"Papa gak boleh sedih, Bulan janji Bulan akan bantu papa. Kita akan mengambil milik kita lagi, kita akan mengambil apa yang sudah menjadi hak kita pa.."
__ADS_1
Bumi mengangguk, ia mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut, "Bunga, andai kamu masih ada sayang.."