MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
BANYAK KHILAFNYA


__ADS_3

Baru saja membuka pintu, Bulan di sambut pelukan oleh Bintang. Manjanya pria itu mulai terlihat, tapi Bulan senang.


"Lama banget si kamu," protes Bintang. "Kangen tahu!"


Bulan mengernyit, kedua tangannya membalas dekapan pria itu, "Cuma telat lima menit mas Bintang," kata Bulan.


Panggilan MAS yang Bulan sematkan padanya membuat pria itu tertawa lalu melerai dekapannya, "Mas?"


"Ya terus aku panggil apa? Pak? Aku tahu kamu bos aku, tapi kamu kan calon suami aku. Masa iya aku panggil bapak, atau mau aku panggil Tuan?"


"Bebeb aja gimana?" Tawar Bintang, ia tertawa geli dengan ucapannya sendiri.


"Ih gak mau, geli akunya. Aku panggil mas brondong aja mau gak?"


Bintang kembali tertawa, usianya memang satu tahun lebih muda dari Bulan. Karena kecerdasannya di atas rata-rata, ia bisa menyusul dan ikut sekolah dengan Angkasa saat itu. "Terserah kamu, yang penting kamu-nya nyaman. Laper sayang.."


Bintang merengek, membuat Bulan tertawa gemas, ia lalu mencubit hidung mancung Bintang dan mengajak pria itu makan, "Mau makan dimana? Di luar atau di ruangan kamu?"


"Disini aja, tuh makanannya udah siap," Bintang menunjuk beberapa menu makanan di atas meja sofa, sebelum Bulan datang, ia memang sudah memesan makanan terlebih dahulu. Agar saat gadis itu tiba, semuanya sudah siap dan hanya tinggal makan saja.


Mata Bulan membulat, "Sebanyak itu?"


"Iya, aku liat kamu kurusan. Aku mau kamu makan yang banyak supaya badan kamu berisi lagi. Masa calon istri aku kurus, apa gunanya aku banyak uang kalau istri aku kaya gak makan."

__ADS_1


"Mulai deh sombongnya," kata Bulan. Ia menarik tangan Bintang lalu mereka duduk bersebelahan di sofa.


Bulan benar-benar makan banyak, entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasa makan enak sejak beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena itu juga lah Bulan jadi sedikit kurus, karena nafsu makannya hilang sejak ia dan Bintang hilang kontak juga.


Melihat Bulan begitu lahap, Bintang tersenyum. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Bulan, "Maafin aku ya sayang, beberapa tahun ini aku bikin kamu sedih."


Bulan menghentikan kunyahannya, jika mengingat hal itu, ia masih saja kerap merasa sedih. Tapi semua terbayar, karena sekarang ia dan Bintang kembali bersatu.


"Aku maafin kamu, tapi ada syaratnya," goda Bulan.


Bintang terkekeh gemas, "Apa itu?" tanyanya seraya mengusap pipi halus Bulan.


"Janji, jangan tinggalin aku lagi. Air mata aku udah cukup buat tangisin kamu. Aku gak mau jauh dari kamu lagi, kamu adalah salah satu mimpi yang ingin aku wujudkan. Kamu adalah salah satu doa yang aku minta pada Tuhan, kamu juga salah satu tujuan hidup aku. Jangan hancurkan semuanya.."


Bulan tersenyum haru, matanya terpejam saat Bintang mengecup keningnya penuh kasih. Kini ia dapat merasakan, betapa Bintang sangat mencintainya.


"Andai kamu bisa dengar detak jantung aku, kamu pasti akan tahu, setiap detaknya hanya tentang kamu. Setiap hembusan nafasku hanya ada kamu. Di mataku, hanya ada Rembulan. Rembulan yang mampu membuat hidupku jungkir balik, Rembulan yang mampu menarik Bintang ke dunianya.."


Suara lembut pria itu begitu menggetarkan dada, rentetan kalimat yang keluar dari bibirnya membuat Bulan tak mampu menahan haru. Bulan tak tahu lagi cara menggambarkan kebahagiannya saat ini.


Tatapan mereka saling mengunci, tatapan yang menyampaikan cinta yang begitu besar. Tatapan yang mampu menghentikan pergerakan di sekitarnya. Bahkan waktu terasa berhenti begitu saja, semua hanya tentang mereka.


Perlahan Bintang mendekat, ia ingin mengulang kejadian beberapa tahun tahun silam, mungkin rasanya akan berbeda. Karena kini mereka telah resmi bersama.

__ADS_1


Kedua netra Bulan terpejam saat dengan lembut Bintang menyatukan bibir mereka. Beberapa saat hanya diam, hanya saling menempel tanpa pergerakan. Mereka tengah meresapi kehangatan cinta yang melebur dalam penyatuan bibir keduanya. Rindu yang selama bertahun-tahun hanya menggaung dalam hati, kini dapat mereka realisasi.


Perlahan Bintang mulai menggerakkan bibirnya, sedikit membuat Bulan terkejut namun deg-degan di jantungnya lebih dominan. Sensasinya benar-benar berbeda, mungkin karena mereka telah saling mengungkap rasa. Ada sesuatu yang mendorong mereka untuk terus berbuat lebih, tapi Bintang bukanlah pria brengsek yang tega menghancurkan masa depan gadis yang di cintainya. Meski mereka sudah bertunangan, tapi bukan berarti mereka bebas tanpa rem.


Bintang pun sadar, yang mereka lakukan salah. Hanya seperti itu saja memang sudah salah, apalagi berbuat lebih. Tapi anehnya, Bintang tak bisa menahan diri. Ada sesuatu yang bergejolak, seperti rebusan air yang meluap-luap karena panas.


"Sayang," lirih Bulan setelah ia melepaskan pagutan bibirnya. Ia takut mereka kebablasan tak bisa menahan diri. Karena ia mulai merasakan sesuatu yang lain dari Bintang, seperti nafas Bintang yang mulai sedikit tak beraturan juga tangan yang mulai tak bisa diam.


"Maaf sayang, aku.."


"Udah yah, takut kebablasan," kata Bulan lagi.


Bintang mengangguk, "Maafin aku.."


Permintaan maaf itu membuat Bulan terkekeh, "Aku juga minta maaf karena udah bikin kamu khilaf. Ternyata Mas brondong yang dingin ini berbahaya, lengah sedikit aku bisa di mangsa," goda Bulan.


"Maaf.." rengek Bintang.


"Iya iya, udah kenyang kan? Kamu dapet jatah makan double.."


Bintang tertawa, mengusap bibir Bulan yang masih basah dan memerah karena ulahnya. "Aku janji ini yang terakhir, lanjut nanti kalau kita udah nikah."


"Jangan janji, kamu kebanyakan khilafnya."

__ADS_1


Bintang kembali tertawa, rasanya tak sabar ingin segera menikahi Rembulan-nya itu.


__ADS_2