MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
BERKUMPUL


__ADS_3

Bintang tersenyum saat Mega menghampirinya, ia menyalami perempuan itu lalu memeluknya.


"Manja," celetuk Angkasa yang baru saja memasuki rumah bersama Alex.


Beberapa menit yang lalu, Jingga menghubunginya, mengabari sang putra bahwa Mega sudah datang. Karena itu Bintang dan Bulan segera turun dari roof top untuk menemui Mega.


"Syirik kan kamu?" Sindir Bintang, karena Angkasa memang tak manja seperti Bintang. Angkasa bahkan kerap menolak jika Mega menciuminya, pemuda itu juga sering mengatakan bahwa dirinya sudah dewasa, malu jika Mega masih memperlakukannya seperti anak kecil dan memanjakannya. Kecuali pada Jingga, entah mengapa ia tak bisa menolak perhatian Jingga yang selalu memanjakannya.


Lain hal dengan Bintang yang memang manja pada semua orang, kecuali pada Langit dan Alex tentunya. Bintang justru selalu ingin terlihat mandiri dan dewasa di hadapan kedua pria itu. Bahkan pada Handoko saja Bintang sangat manja, jika mereka berkunjung ke penjara, Bintang kerap bermanja-manja dengan kakeknya itu.


"Syirik apanya? Lo aja yang.." Angkasa menghentikan ucapannya saat kedua netranya menangkap sosok gadis cantik yang berdiri tak jauh dari Bintang, gadis itu tengah membantu Jingga membawa beberapa gelas minuman, "Bulan?" Gumamnya.


Mega yang mendengar putranya menyebut nama itu menoleh lalu mengikuti arah pandangan Angkasa, "Loh, Bulan?" Ia pun sama terkejutnya, tak menyangka gadis cantik itu berada disana.

__ADS_1


Bulan yang memang melihat mereka tersenyum lalu menghampiri Mega dan menyalaminya, "Selamat malam, Tante.." sapanya.


"Malam, sayang. Kamu juga disini?" Tanya Mega.


Bulan mengangguk, "Om Langit yang mengundang papa," jelasnya.


"Pantas saja tadi suami Tante mengatakan akan ada tamu istimewa, ternyata papa kamu dan kamu. Waah, Tante senang bisa ketemu kamu lagi," ungkap Mega. Jangan lupakan betapa ia sangat menyukai Bulan.


"Aku juga, Tante," balas Bulan. Bulan memang sedikit terkejut juga dengan kehadiran Angkasa dan kedua orang tuanya, tapi Bulan ingat bahwa Mama dari Angkasa adalah kakak dari maminya Bintang.


Angkasa tampak tergagap, ia tak siap dengan ucapan sang mama. "Ah? Mama, apa mama lupa kalau aku bisa ketemu Bulan di cafe. Setiap hari kita ketemu, iya kan Lan?"


Bulan mengangguk, "Iya Tante."

__ADS_1


"Jadi, kamu masih kerja disana?"


Pertanyaan itu meluncur dari mulut Bintang, ia kira Bulan sudah tak lagi bekerja di cafe milik sang sepupu. Jika tahu begitu, mungkin ia bisa berkunjung kesana sesekali. Eh? Tapi untuk apa?


Bulan kembali mengangguk, ia tersenyum lebar. "Iya, aku udah nyaman kerja disana," ucapnya.


Entah mengapa Bintang tak suka dengan jawaban gadis itu, ia kesal. Dan semakin kesal saat menyadari bahwa Angkasa tak pernah mengatakan hal itu padanya. Tapi untuk apa? Mereka tak punya hubungan apapun, untuk apa Bintang tahu lebih dalam tentang Bulan? Benar begitu bukan?


"Hei, kenapa kalian masih berdiri disana? Kemari lah, makan malam akan segera di mulai," ucap Jingga sedikit berteriak.


"I'm coming mami Ji," teriak Angkasa. Ia lalu menghampiri Jingga dan mengecup pipi perempuan itu. "Aku merindukanmu," ucapnya lagi.


"Nakal, maminya sendiri di gombalin!" Jingga mencubit ujung hidung mancung Angkasa dengan gemas, membuat pemuda itu tertawa lalu menggandeng tangan Jingga menghampiri Langit, Alex dan Bumi yang berada di ruang televisi. Tidak lupa juga ia mengalami dua pria itu.

__ADS_1


MAAF UP NYA SEUMPRIT. AKU LAGI SIBUK DI DUNIA NYATA GES..🙏🙏


__ADS_2