Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Bertemu


__ADS_3

Sosok laki laki tengah duduk di kursi kebesarannya menatap kaca besar yang menyuguhkan pemandangan Ibu kota. Hidupnya hanya untuk berkerja. Di usia tiga puluh lebih Ia sama sekali tak ada ketertarikan dengan seorang wanita. Apakah aku tidak normal? pertanyaan itu yang selalu berputar di benaknya dan menjadi sebuah teka teki yang belum terpecahkan sampai sekarang. Ya dia adalah Sean Fernandes. CEO kejam dari perusahaan terkemuka. Tidak ada yang tidak mengenal sosok itu. Namanya selalu menjadi sorotan dan perbincangan publik. "Tuan. Waktunya makan siang. Tuan mau saya pesankan restoran mana?" tanya Jhon menghampiri atasannya. Sean membalikkan kursi menatap pria di depannya itu sambil berpikir. "Bri Restaurant. Aku dengar disana ada yang enak. Makan disana saja." Jawabnya membuat Jhon sedikit kebingungan. Biasanya hanya untuk sekedar makan Sean akan memilih hotel berbintang. Kenapa sekarang selera bosnya itu turun ke restoran biasa. "Jhon. Kau mendengar ku?" Tanya Sean dengan dingin. "Ah. Iya Tuan. Akan saya pesankan." Ucapnya bergegas pergi.


Di sisi lain seorang gadis sedang sibuk di dapur untuk memasak berbagai hidangan di bantu dengan beberapa orang lainnya. "Chef. Ada telpon." Ucap Salah seorang menghampirinya. "Dari siapa?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari tangan yang sibuk bekerja. "Ayah Chef." Sabrina mengangguk. "Angkat. Bilang akan aku telpon nanti. Aku sedang sibuk." Ucapnya langsung mendapat anggukan.

__ADS_1


Siang hari yang cerah. Sean sudah duduk manis di ruang VVIP sebuah restoran. Matanya menelisik mengagumi interior ruangan yang sangat pas dengan seleranya. Dengan unsur hitam yang gelap dan begitu elegan. Sebuah kaca besar menjadi pembatas dengan luar hingga membuatnya bisa melihat kesibukan jalanan dari ketinggian.


Beberapa saat berlalu. Pintu ruangan terbuka. Dua orang pramusaji masuk sambil mendorong troli makanan. Mereka langsung meletakkan hidangan di atas meja dengan hati hati. "Silahkan Tuan." Ucapnya sambil menunduk hormat kemudian segera berpamitan pergi.

__ADS_1


Sabrina sedang tertawa mendengar cerita dua pramusaji yang katanya gemetar hanya karena mengantar makanan pada seseorang. "Memangnya seseram apa?" Tanya Gadis itu sambil bertopang dagu. "Yah pokoknya....." Belum sempat menyelesaikan ucapan ada seorang pelayan tergopoh gopoh menghampiri mereka. "Bernapaslah." Ucap Sabrina sambil terkekeh. "Chef. Chef di panggil oleh tamu VVIP di ruang 03." Ucapnya memberi laporan membuat mereka semua ketar ketir. "Aku? Ada apa? Tidak biasanya." ucap gadis itu hanya di jawab gelengan. "Hati hati Chef." Pesan mereka melihat Sabrina mulai melangkah pergi.


Seseorang memasuki ruangan membuat Sean mendongak. Pandangan pria itu terpaku mengamati wajah cantik gadis di depannya. Mata yang begitu indah dengan manik biru saphire. Bulu mata lentik dan alis yang tertata. Rambut coklat sebahu yang tampak berkilau. Ouh belum lagi hidung mancung, rona pipi dan bibir mungil itu membuat Sean bergairah untuk menciumnya. Benar benar baru kali ini ada yang membuat hatinya bergetar. Bibirnya masih suci belum pernah mencium seseorang padahal umurnya sudah setua ini.

__ADS_1


"Tuan. Tuan memanggil saya? " Tanya Sabrina pada laki laki itu untuk yang kesekian kalinya. "Emm...Iya." Jawab Sean tersadar dari lamunan. "Menarik." Gumamnya. "Kamu yang memasak?" Tanya Sean di jawab anggukan. "Ada masalah Tuan?" Sabrina bertanya dengan sopan. "Ini enak. Bahkan sangat enak." Ucapnya sambil tersenyum. "Ouh....Kalau begitu saya permisi. Silahkan menikmati. Terimakasih sudah berkunjung." Ucap Sabrina hendak beranjak namun langsung diam karena mendengar kata 'Berhenti' dari mulut laki laki di depannya. "Ada apa Tuan?" Tanya gadis itu membalikkan badan. "Temani Aku makan." ucap Sean. "Maaf. Saya sibuk." Jawab Sabrina. "Kamu tidak tau siapa aku? Aku bisa saja menghancurkan restoran mu. Katanya pelanggan nomor satu. Restoran macam apa ini." Ancam pria itu. "Baiklah. Saya tidak tau siapa Tuan. Tapi segeralah makan. Saya akan disini." Jawabnya membuat Sean tersenyum. "Duduk." Astaga apa lagi ini. "Duduk aku bilang." Tegasnya. Sean makan sambil memperhatikan tingkah Sabrina yang menurutnya sangat manis.


__ADS_2