
Tamara menghela napas melihat perubahan yang begitu signifikan pada adiknya. "Gimana Pa. Dia makin kesini makin parah." Ucap Wanita itu pada suaminya. Ia resah tiap kali Sean pulang selalu dalam keadaan mabuk dan bahkan tak sadarkan diri. "Apa kita bantu temukan dimana Sabrina berada Pa?" Tanyanya. Bill menatap Istrinya sambil menyipitkan mata. Bahkan kekuasaan Sean lebih tinggi darinya. Mana bisa membantu. "Ma. Adikmu itu lebih dari aku. Mau membantu sebelah mananya coba?" Tanya Pria itu heran. Tamara tampak menghela napas. Entah bagaimana Ia bisa mengatasi sang adik. "Kalau Sean pindah kita ikut Pindah Pa." Ucapnya langsung mendapat anggukan dari suami. "Papa nggak keberatan?" Tanyanya. "Enggak. Daripada disini nanti Mama minta bolak balik buat jenguk Sean. Kan Papa juga yang pusing." Ucapnya jujur.
Sean masih berada di di ruang VIP sebuah club' malam di kota. Ruangannya di jaga dengan ketat agar tidak ada wanita penggoda yang masuk. "Tuan. Sudah cukup minumnya." Tegur Jhon karena laki laki itu sudah minum banyak. "Anatar aku pulang Jhon." Ucapnya. Jhon mengangguk kemudian membantu Tuannya berdiri dan berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Tamara dan Bill berlari saat pintu utama terbuka diikuti Bella yang menyusul di belakang. "Astaga Sean." Ucap Wanita itu menggantikan posisi Jhon. "Terimakasih Jhon." Ucapnya. Laki laki itu mengangguk kemudian berpamitan. Bill dan Tamara mendudukkan Sean di sofa. "Mau sampai kapan kamu seperti ini?" Tanya Tamara sambil melepaskan dasi, jas dan sepatu adiknya. "Entah." Jawabnya pelan sambil memejamkan mata. "Tunggulah Sean. Jangan seperti ini. Tunggulah. Kita akan mendapatkan alamat Sabrina. Bertemulah dengannya nanti. Tapi kakak mohon jangan seperti ini." Sean tampak menghela napas. Semuanya menjadi kacau semenjak kepergian gadis itu.
Pagi hari.
__ADS_1
Tamara heran dengan mood Sean yang berubah pagi ini padahal semalam masih kalut. "Sarapan dulu Sean." Panggil Wanita itu ketika melihat adiknya menuju ke ruang kerja. "Nanti." Jawabnya sambil tersenyum. "Kesambet apa dia?" Gumam Tamara.
Sean duduk di kursi kerjanya. Beberapa saat kemudian Jhon datang sambil membawa map. "Ini Tuan." Ucapnya. Dengan tak sabaran Sean membuka Map itu sambil tersenyum. " Kita berangkat sekarang." Kata laki laki itu dengan semangat. "Maaf Tuan. Nona sedang tidak di rumah. Dia sedang melaksanakan Ibadah haji. Akan percuma Tuan datang namun tidak bertemu nanti." Jhon menjelaskan. "Ibadah haji?" Gumam Laki laki laki itu di jawab anggukan oleh Jhon. "Saya juga kurang tau Tuan. Tapi menurut informan kita begitu." Ucapnya. "Kapan pulang?" Tanya Sean. "Masih di cari tahu. Akan di kabarkan jika sudah mendapat informasinya." Jawab Jhon. "Baiklah. Aku tunggu. Aku akan naikkan gajimu." Ucap Sean membuat Jhon tersenyum senang.
__ADS_1
Lima orang sedang sarapan bersama. "Jhon. Ada apa dengan adikku itu? Apa dia gila?" Tanya Tamara melihat Sean sedaritadi tidak berhenti tersenyum. "Bukan Nyonya. Tuan senang karena sudah mendapat alamat Nona Sabrina." Jawab Jhon jujur. "Kan baru dapat alamat Om. Belum tentu Om kesana terus di terima. Siapa tau Sabrina sudah menikah." Ucap Bela langsung mendapat teguran dari Papanya. "Kenapa tidak berangkat kesana sekarang Sean? Biasanya kamu tidak sabaran." Tanya Bill. "Dia sedang haji kak. Jadi tidak di rumah. Aku kesana pas pulang saja." Ucap Sean membuat Tamara tersedak. "Haji?" Tanya Wanita itu. Meskipun keluarganya awam agama bahkan tak pernah puasa dan sholat karena Islam KTP tapi Tamara cukup tau tentang ibadah yang satu itu. "Kenapa kak?" Tanya Sean. "Kamu sebaiknya mundur saja. Orang yang ibadah haji itu setau kakak agamanya sudah bagus. Lalu apa kabar kamu yang ibadah saja tidak pernah. Apa tidak malu?" Tanya Tamara. "Kakak dengar orang tuanya juga orang yang beragama. Apa mereka mau menerimamu? Apa mereka tidak keberatan dengan tato di punggungmu itu?" Lanjutnya lagi. Sean menatap kakaknya tajam. "Apa mereka akan melihat punggungku dulu?" Sean memincingkan mata. "Ya tidak. Kamu tau sendiri kan keluarga kita itu awam agama. Huruf Arab saja tidak hapal. Biasanya keluarga agamis seperti keluarga Sabrina itu akan menyeleksi seseorang yang akan melamar putrinya. Apalagi Sabrina anak tunggal. Agama bagi mereka itu sangat penting Sean." Tutur Tamara namun Sean tetap pada cintanya. Ia tak peduli tentang semua perbedaan yang ada di antara mereka.