Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Menyatakan


__ADS_3

"Darimana kamu pulang pagi? Kenapa sekalian nggak pulang saja." Tamara bersedekap dada melihat kedatangan adiknya. "Kenapa sih. Katanya suruh kejar cewek. La sekarang diusahakan kakak kok kakak malah mengomel." Jawabnya dengan kesal. "Mana ada kejar cewek sampai pagi. Kamu kejar cewek atau cari ular." Tamara terus mengoceh. "Mana hasilnya hm?" Lanjut wanita itu bertanya. "Belum lah. Memangnya secepat itu." Jawab Sean sambil berlalu pergi menaiki tangga.

__ADS_1


Sabrina baru saja selesai mandi. Gadis itu tampak merenggangkan otot otot sambil memijit kedua lengannya bergantian. "Ouh.....Tubuhku seperti tertimpa beton." Keluhnya sambil duduk di sofa. Ia merasa aneh karena tidak biasanya seperti ini. Jika memang kelelahan Ia akan merasakannya dari semalam. Lah kali ini beda. Bangun tidur tiba tiba tubuhnya merasa sakit sampai ke tulang.

__ADS_1


"Kenapa sepi sekali? Ini kan weekend." Gumam Sabrina merasa aneh karena tempat gym yang biasanya ramai setiap hari terlebih di hari libur mendadak sepi. Namun Ia tak mau terlalu ambil pusing memilih untuk memulai kegiatannya. "Sayang." Seorang Pria tiba tiba memeluknya membuat Bri seketika menjatuhkan barbel di lantai. Gadis itu berbalik menatap seseorang dengan tajam. "Menjauh dariku." Kesalnya mendorong tubuh laki laki itu. Akhir akhir ini hidupnya selalu di usil oleh kedatangan satu makhluk hidup yang begitu menyebalkan. "Jangan pernah memelukku." Lanjut Sabrina memperingati sembari meraih botol minumnya. "Aku sudah sewa tempat ini." Jawab Sean sambil tersenyum. "Aku pergi." Ucap Sabrina namun seketika berhenti karena laki laki itu memeluknya sangat erat. "Lepaskan. Om keterlaluan." Ia memberontak. "Tidak akan." Sean berkata sangat tegas. "Apa mau Om sebenarnya? Berhentilah menggangguku." Gadis itu terus meronta. "Mari bicara." Ucap Sean begitu dekat hingga Sabrina dapat merasakan napas laki laki itu yang berhembus di ceruk lehernya.

__ADS_1


Sean pulang dengan langkah gontai. Laki laki itu mendudukkan diri di sofa dengan kasar. "Kenapa wajahmu kusut begitu? Kok baru keluar sudah pulang lagi." Kata Bill duduk di susul dengan istrinya. "Diam." Jawab Sean dengan kesal. "Kau itu kenapa? Di tolak cewek atau bagaimana?" Tanya Tamara. "Iya. Kakak puas." Wanita itu mendengus mendapat jawaban dari adiknya. "Kau itu bodoh. Mendapatkan seseorang saja tidak bisa. Memangnya secantik apa dia?" Sean tidak menjawab lalu melempar ponselnya di dekat sang kakak. "Cantik banget. Pantesan nggak mau sama kamu." Ucapnya dengan blak blakan membuat Sean mendengus kesal. "Usahamu kurang Sean." Bill terkekeh. "Semuanya sudah aku lakukan. Menyatakan cinta, mengirim bunga dan hadiah dan mengajaknya menikah bahkan. Sialan..." Umpatnya kesal mengingat perjuangannya yang sia sia. "Om kenapa?" Tanya Bella yang baru datang. "Bantu Om Bell. Bantu Om dekati temanmu itu." Sean menggenggam tangan keponakannya. "Teman? Siapa?" Tanyanya kebingungan karena Bella hanya punya satu teman. Masa Om nya itu tertarik pada sahabat yang sama culun dengannya. "Sabrina." Jawab Sean membuat Bella terkejut. "Kya Sean... Kau terlalu tua untuknya. Kau itu tidak berpikir ya." Kesal Tamara baru sadar jika gadis yang di kejar adiknya itu seumuran dengan anaknya. "Iya. Om cari yang lain saja." Ucap Bella mendukung sang Mama. "Kak. Aku maunya cuman sama Sabrina bukan yang lain. Katanya kakak mau aku cepat menikah dan mendapatkan jodoh. Sekarang aku sudah menemukan yang aku mau kok kalian tentang." Sean menatap kakaknya membuat wanita itu kesulitan. "Dia terlalu muda Sean. Dia juga terang terangan menolakmu." Ucapnya memberi pengertian. "Tidak mau. Aku hanya mau dia." Putus Sean berlalu pergi ke kamar.

__ADS_1


Hembusan napas kasar terdengar dari mulut Sean. Laki laki itu merebahkan tubuhnya di ranjang sembari menatap langit langit kamar. "Persetan dengan umur. Banyak yang menggodaku bahkan umurnya di bawah dia." Ucapnya. "Kenapa sulit sekali ha?" Gumamnya sambil mengamati foto gadis cantik yang Ia jadikan wallpaper ponsel. "Mengangkat telponku saja tidak pernah." Ia membuang benda pipih itu ke ranjang dan menutup wajah dengan bantal.

__ADS_1


__ADS_2