
Pagi ini Sean sudah mulai bekerja. Pria itu duduk sambil memangku sang istri yang sedang mengikat dasi untuknya. "Sudah siap." Ucap Sabrina Sambil tersenyum. "Terimakasih Sayang." Sean mengecup bibir istrinya. "Ayo sarapan." Ajaknya sambil turun dari pangkuan suami. "Ayo bayi kecilku." Sean langsung mengangkat tubuh istrinya. "Aku bisa jalan sendiri Mas." Ucap Bri. "Daddy gendong Sayang." Jawab Sean menggoda membuat Bri cemberut. "Aku mau turun Mas." Keluhnya namun Sean tak peduli.
Sabrina mengeratkan lengannya di leher Sean saat pria itu menuruni tangga. "Tidak perlu takut Sayang. Tubuhmu ringan. Tidak mungkin Daddy membuatmu jatuh." Ucapnya sambil terkekeh melihat istrinya yang ketakutan sambil memejamkan mata. "Sudah sampai di dasar tangga Baby. Kamu bisa membuka mata." Kata Sean membuat Sabrina menghembuskan napas lega. "Sudah kan. Aku mau turun Mas." Sean menggeleng. "Bayi kecilku. Kita belum sampai di ruang makan." Jawabnya.
Sean mendudukkan istrinya di kursi. "Mari sarapan. Daddy akan menyuapimu." Pria itu mulai mengambil sendok. "Mas. Jangan begini. Aku bisa makan sendiri. Kamu makanlah nanti terlambat." Kata Sabrina. "No. Daddy akan menyuapimu. Kamu masih kecil tidak boleh makan sendiri. Nanti belepotan." Sean terus menggoda Istrinya. "Mas...." Rengek Sabrina karena diperlakukan seperti anak kecil. "Iya Baby. Ayo makan di suapi Daddy." Sean mulai menyuapi istrinya sambil Ia makan sendiri satu piring. "Hari ini temani Daddy di kantor ya Sayang." Sabrina mengangguk karena mulutnya sedang penuh. Sean tersenyum kemudian mencium bibir yang tertutup rapat itu. "Pulangnya nanti jam berapa?" Tanya Bri setelah menelan makanannya. "Jam 12. Nanti kita makan siang di luar saja. Daddy tadi sudah izin Bunda dan Ayah. Kata mereka putri kecilnya boleh Daddy bawa kemanapun Daddy pergi." Jelas Sean sambil terkekeh.
__ADS_1
Mobil mewah berhenti mulus di sebuah perusahaan besar. Sean turun bersama Sabrina langsing menjadi pusat perhatian. Pria itu berjalan dengan wajah dingin dan datarnya sambil merangkul pinggang sang istri. Aura Sean begitu kuat membuat mereka takut. "Selamat datang Tuan. Nyonya." Sapa para karyawannya. Sabrina tersenyum menanggapi sedangkan Sean tak bereaksi sama sekali. Acuh dan tidak peduli. Mata elang Pria itu menelisik. Merasa Sang istri jadi pusat perhatian Sean buru buru mengajak Bri untuk menaiki Lift menuju ruangannya.
"Istri Tuan itu putri dari keluarga Alexander. Sangat cantik juga ramah. Bagaimana bisa menikah dengan orang kejam begitu? Tatapannya saja membuat aku tak bisa bernapas." Bisik bisik para karyawan yang baru menyaksikan ketegangan saat kedatangan Bosnya. Mereka tak pernah tau siapa Sean karena yang mengurus semuanya adalah Jhon. Mereka hanya sekedar pernah mendengar jika Sean begitu berkuasa dan kejam. Ternyata tidak salah. Dari wajah dan aura pria itu sangat kuat dan membuat siapapun yang melihat menjadi ciut nyali.
Sabrina sedang berada di ruang istirahat suaminya sedangkan Sean masih membicarakan suatu hal bersama Asistennya Jhon. Wanita itu mengambil Al Qur'an kecilnya dari tas. Ia duduk di kursi dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan jalan raya dari ketinggian dan mulai melantunkan ayat suci agar hapalannya tetap terjaga.
__ADS_1
Sabrina mengajak suaminya ke kantin kantor. "Mau apa Sayang?" Tanya Pria itu ketika istrinya mengamati etalase yang menyajikan dessert. Mereka sudah memilih menu hanya tinggal makan penutup saja. Sean sebenarnya malas makan di tempat seperti ini. Namun karena istrinya meminta dia hanya bisa menuruti. "Red Velvet. Minumnya caramel macchiato." Jawab Sabrina. "Tidak ada lagi? Hanya itu?" Tanya Sean begitu lembut membuat siapapun yang mendengarnya tak menyangka. "Black forest juga." Ia tersenyum menatap sang suami. Sean mengangguk kemudian mengecup kening istrinya dengan penuh kelembutan. "Bawakan dalam lima menit." Tegasnya kemudian mengajak Bri untuk duduk.
"Telat satu menit." Ucap Sean dengan datar saat pelayan menyajikan pesanan istrinya. "Maaf tuan." Ucap Wanita itu sembari mengatur napas. "Terimakasih Mbak." Kata Sabrina sambil tersenyum. "Sama sama Nyonya." Jawabnya membalas senyum kemudian segera berpamitan. "Jangan tersenyum pada siapapun. Senyum ini hanya milikku." Kata Sean meraih sendok untuk menyuapi istrinya. "Aku bisa makan sendiri Mas. Malu di lihatin." Lirih Sabrina menyadari semua orang memperhatikan keduanya. "No Baby. Daddy suapi. Atau mau cium disini?" Sean mengancam membuat Sabrina diam dan menurut. "Enak tidak? Kalau tidak enak mereka akan Daddy marahi." Sabrina menggeleng dengan cepat. "Enak." Jawab Wanita itu.
Pukul 2 siang Sean dan Sabrina sampai di rumah Bunda. "Assalamualaikum." Ucap Bri. "Waalaikumsalam." Jawab Bunda dan Ayah yang sedang mengobrol. "Kalian sudah makan?" Tanya Bunda. "Sudah Bunda." Jawab Sean sopan. "Istirahat. Kalian baru pulang." Keduanya mengangguk kemudian segera menuju kamar.
__ADS_1
Sean baru kembali dari kamar mandi. Ia tersenyum mendapati istrinya sudah terlelap secepat itu dengan posisi kaki yang menjuntai ke bawah. Perlahan Ia melepas jilbab dan sepatu Sabrina kemudian membenarkan posisi tidurnya. Sean membersihkan wajah istrinya dengan kapas dan micellar water. Pria itu melakukan dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur sang istri. Selesai dengan itu Ia meraih tissue basah untuk membersihkan tangan Bri. Setelah selesai Sean ikut berbaring lalu mendekap tubuh istrinya dengan hangat.