
"Aku titip putriku. Jaga dia baik baik." Pesan Ayah menepuk punggung menantunya sebelum Pria itu menaiki pesawat yang akan membawanya pergi ke Turki bersama sang Istri untuk mengurus suatu hal. "Iya Yah. Sean akan menjaganya baik baik. Sean Janji." Jawabnya sambil tersenyum. "Ayo Bun." Ajak Ayah. Bunda mengangguk melepaskan pelukan eratnya pada Sabrina. "Kami berangkat dulu. Assalamualaikum." Ayah memeluk Sabrina lagi. "Waalaikumsalam." Jawab Sabrina melambaikan tangannya menatap dua orang yang mulai berjualan menjauh.
Sean dan Sabrina sudah sampai di rumah. "Kamu nggak kerja Mas?" Tanya Wanita itu saat masuk ke dalam. "Enggak Sayang. Hari ini aku mau di rumah sama kamu." Jawabnya sambil tersenyum. "Oh. Yasudah. Kalau kamu mau istirahat, Istirahat saja. Aku masak dulu. Nanti kalau sudah siap aku panggil." Kata Sabrina. "Aku ikut kamu." Ucap Sean mulai menggandeng tangan sang istri untuk ke dapur.
Semua Asisten rumah tangga mengundurkan diri melihat pasangan itu datang. Mereka membiarkan Sean menikmati waktu dengan istrinya. Kebucinan pria itu sudah bukan hal yang awam lagi. Mereka tau Sean tak bisa lepas dari Sabrina. "Mau masak apa?" Tanya Sean sembari memeluk Sang Istri yang sedang mengamati bahan bahan di kulkas. "Kamu mau dimasakin apa?" Tanyanya balik. "Apa saja. Apapun yang kamu masak pasti enak Yang." Jawabnya.
__ADS_1
Sabrina selesai sholat langsung menghampiri suaminya yang menunggu. "Sudah selesai?" Tanya pria itu memeluk pinggang ramping sang Istri. "Sudah. Mari makan." Ajaknya. Sean mengangguk kemudian menggandeng tangan istrinya.
"Makan sepiring berdua Sayang. Aku suapi." Kata Pria itu saat Bri menyiapkan makan. "Iya." Jawabnya menurut saja. Sean makan sambil menyuapi istrinya. "Kamu harus makan banyak. Lihat badan kamu kurus begini." Tuturnya sembari menggenggam tangan Sabrina. "Setelah ini tidur siang ya." Lanjut Pria itu di jawab anggukan oleh Istrinya. Sean benar benar memperlakukan Bri seperti anak kecil saja. Di suapi, di suruh tidur siang, belum lagi juga dimandikan.
Sebelum tidur Sean membantu Sabrina mencuci kaki, tangan dan juga wajahnya. Pria itu mengelap wajah istrinya dengan lembut. "Sudah. Mari tidur siang." Ia menggendong Sabrina menuju kamar. Sean meletakkan istrinya dengan hati hati di ranjang kemudian ikut tidur saat sudah melepas kaosnya. "Kamu sangat harum sayang." Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. "Luka di perutmu karna kecelakaan apa?" Tanya Sabrina penasaran. Wanita itu mengelus lembut bekas luka menonjol di perut suaminya membuat pria itu menegang. "Kecelakaan mobil." Jawab Sean memejamkan mata. Menyadari apa yang terjadi Sabrina menarik tangannya dengan cepat kemudian beralih memeluk tubuh kekar Sang suami. "Kenapa Hm?" Tanya Sean. "Tidak. Ayo tidur. Sudah mengantuk." Jawab Sabrina. Pria itu tersenyum dengan tingkah istri kecilnya yang menggemaskam. "Baiklah. Mari kita tidur Sayang." Ia memeluk tubuh Bri dengan erat setelah mencium bibir lembab itu.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Sean dengan nada kesal. Pria itu sedang berdiri di balkon untuk menerima panggilan dari Asistennya. "Sudah kubilang jangan hubungi jika aku sedang di rumah." Lanjutnya. "Nanti malam aku akan datang. Sekitar jam 12." Jawabnya kemudian segera masuk setelah panggilan diakhiri.
Sean bernapas lega melihat istrinya masih tertidur pulas di posisi yang sama. Ia kembali menaiki ranjang dan memposisikan diri memeluk tubuh sang istri. Pikiran pria itu melayang. Entah mau sampai kapan Ia akan bisa menyembunyikan jati dirinya. Hanya satu yang dikhawatirkan. Sean takut jika sang istri tau maka Sabrina akan meninggalkannya. Itu menjadi kegelisahan yang selalu di pikirkan setiap harinya.
Malam hari.
__ADS_1
Sean sudah mengganti pakaiannya. Pria itu duduk di ranjang mengamati istrinya yang tertidur begitu dalam. "Maaf." Ucapnya harus membuat Sabrina lelap agar kepergiannya tidak disadari sang istri. Ia memberikan kecupan lembut di seluruh wajah cantik bidadari nya. "I Love You so much." Ucapnya lalu beranjak pergi.
Malam Hari pukul 12 tepat seorang Pria menepati janjinya. Ia berjalan memasuki ruangan dengan penjagaan ketat. "Ada apa Jhon?" Tanyanya segera duduk di singgle sofa tempat biasa Ia duduk jika berkunjung. "Sesuatu yang penting Tuan. Ini juga menyangkut Nyonya Sabrina." Ucapnya dengan nada serius. "Dia telah kemari." Lanjutnya membuat Sean mengepalkan tangannya. "Perketat pengawasan. Terutama pada istriku. Jangan sampai ada celah Ia bisa melukai wanita yang aku cintai." Ucapnya penuh penekanan. Jhon mengangguk. "Lalu pengiriman hari ini apa berjalan lancar?" Lanjutnya bertanya. "Lancar Tuan. Sudah satu jam lalu berangkat." Jawab Jhon. "Awasi orang itu Jhon. Aku ingin kau mendapatkan informasi yang banyak dalam waktu singkat." Ucap Sean sembari meneguk wine nya.