
"Kakak ngapain kesini?" Tanya Sean mendapati Tamara sudah berada di ruang keluarga mengobrol bersama Sabrina dan Bella. "Kurang ajar kamu. Nggak punya sopan santun." Kesal Wanita itu. "Kami akan menginap Om." Bela tersenyum. "Nggak ada menginap. Pulang. Apa apaan, memangnya rumahku ini hotel." Kesalnya lalu ikut duduk memisahkan tamara dengan Sabrina. "Aunty. Ayo kita bikin kue." Ajak Bella langsung di angguki oleh istri Omnya.
Hanya tersisa Tamara dan Sean di ruang keluarga. "Bagaimana Sabrina bisa di culik kemarin? Bukannya penjagaan di sini baik." Ucapnya. Sean tampak menghela napas. Pria itu menjelaskan jika musuhnya lebih licik. Terbukti Victor mampu meretas keamanan rumah ini. "Kau harus lebih waspada lagi. Belajar dari sebelum sebelumnya. Victor tak akan berhenti. Apalagi dia tau sekarang Sabrina adalah kelemahan mu." Tuturnya.
__ADS_1
"Mama." Andre berlari langsung memeluk Sabrina yang sedang sibuk di dapur bersama Bella. "Tiba tiba sudah punya anak sebesar ini ya." Ucap Tamara ikut bergabung. "Iya." Jawab Bri tersenyum. "Mama sedang buat apa?" Tanyanya. "Bolu pandan. Tinggal di oven." Andre mengangguk. "Wah. Aku kehilangan momen belajar." Ujar Tamara terduduk lesuh. "Halah. Mama bisa bisanya. Siapa suruh mengobrol lama lama dengan Om." Kata Bella sembari memasukkan loyang ke dalam oven.
Hari hari Sabrina benar benar hanya berada di rumah. Ia tak keluar sama sekali jika tidak dengan sang suami. Sean benar benar melarangnya berkegiatan apapun. Ia sudah tak lagi menjadi penulis, mengurus bisnis dan sebagainya karena Sean melarang. Tak ingin hidupnya sebagai seorang istri tak berkah. Ia hanya bisa menurut. Setidaknya ada orang orang yang berkunjung seperti sekarang memberikan hiburan tersendiri.
__ADS_1
Semuanya sedang berkumpul menikmati kue sembari meminum teh. Mereka mengobrol sementara Sabrina mengajari Andre mengaji. Karena tidak tau apa apa Bri mulai dari hal yang paling dasar yaitu mengenali huruf hijaiyah. "Kalau tanda ini di atas bacanya A. Kalau di bawah bacanya I. Tinggal mengganti huruf vokalnya saja." Jelas Bri. "Berarti ini dibaca Bi. Kalau ini dibaca Ta. Begitu ya Ma?" Tanya Andre. "Bagus. Benar begitu. Ayo lanjutkan." Remaja itu mengangguk kemudian mulai meneruskan lagi belajar mengajinya.
Sean mengikuti istrinya yang memasuki kamar tamu. "Om ngapain ikut?" Tanya Bella kesal. "Heh. Ini rumah Om ya." Jawab Pria itu tak kalah kesal. "Sakit begitu saja menangis." Lanjutnya. "Om nggak pernah merasakan sih gimana nyerinya cewek setiap bulan." Sabrina membantu keponakannya untuk duduk. "Minum dulu biar enakan." Ucapnya. "Ini apa Aunty?" Tanya gadis itu. "Jamu biar nyerinya hilang. Enak kok. Nggak perlu takut pahit." Jawab Bri meyakinkan. Bella mengangguk kemudian segera meminum apa yang diberikan istri Omnya. "Memangnya Mama kamu kemana?" Tanya Sean. "Mama keluar ketemu temannya." Jawabnya kemudian kembali berbaring.
__ADS_1
Sean menaiki ranjang. Ia meletakkan kepala di pangkuan istrinya yang sedang membaca. "Memangnya kalau datang bulan pasti begitu ya?" Tanya pria itu. "Sebagian besar mengalaminya." Jawab Sabrina menutup lalu meletakkan bukunya di atas nakas. "Kamu juga begitu?" Tanya Sean. Bri mengangguk. "Tidak sering. Hanya terkadang saja. "Sangat sakit ya?" Ia memiringkan tubuhnya menghadap perut Sabrina lalu mengelus dengan lembut. "Ya sakit." Sean menghela napas. "Kasihan istriku." Gumamnya pelan.
Sabrina merasa hangat dalam dekapan suaminya. "Hujannya belum berhenti. Malah semakin deras." Ucap Bri mendengar suara petir yang saling bersautan. "Iya. Kapan Ayah dan Bunda akan pulang? Tanya Sean. "Kata mereka tadi beberapa bulan lagi. Sebelumnya tidak pernah selama ini. Mungkin karena sudah ada Daddy mereka tenang meninggalkan aku lama lama." Jawab Bri membuat suaminya tersenyum. "Iya. Ayah dan Bunda selalu berpesan agar Daddy menjaga kamu baik baik." Sean menambahkan. "Em...Dad. Besok boleh tidak aku pergi ke restoran? Sebentar saja. Hanya ingin melihat keadaan disana. Sudah lama tidak berkunjung." Tanya Sabrina meminta izin. "Daddy antar. Sekarang tidur. Ini sudah malam." Sean mendaratkan ciuman bertubi tubi di seluruh wajah istrinya. "I Love you Sayang." Ungkap pria itu penuh ketulusan. "Love you too Daddy." Jawab Sabrina lalu memejamkan mata.
__ADS_1