
"Papa mau kemana?" Tanya Seorang gadis berumur tujuh tahun mengejar Pria yang sedang berjalan menuju pintu utama. "Papa sedang ada urusan Vi." Jawabnya. "Tidak bisa ditunda? Hari ini Papa harus mengambil raport Vi di sekolah." Ia menatap Sang Papa dengan penuh harap untuk bisa meluangkan sedikit waktu. "Papa sudah suruh asisten Papa untuk mengambil raport mu. Papa buru buru. Ada urusan yang mendesak." Jawabnya mengusap kepala Violet kemudian segera bergegas pergi.
Sean menghela napasnya kasar. Adrian membawa putranya ke rumah. Bagai magnet bertemu dengan besi, Andre langsung menempel pada Sabrina. Parahnya bocah berumur 6 tahun itu memanggil Bri dengan sebutan Mama. Wanita itu tidak masalah dan justru terlihat senang. Namun berbeda dengan Sean yang tentu saja mendumel dalam hati. "Carilah istri. Berikan Andre Ibu biar tidak memanggil istriku seperti itu." Bisik Sean. Sahabatnya itu sudah menduda lima tahun lamanya. Begitu juga dengan Jhon yang juga seorang duda dengan dua putri kembarnya yang usianya satu tahun di bawah Andrian. Jika pria itu menduda karena istrinya meninggal beda lagi dengan Adrian yang status dudanya terjadi karena sang istri berselingkuh dan akhirnya mereka bercerai. "Kenapa hidupku di keliling duda." Gumam Sean. "Mungkin kau akan menyusul kami. Tiga orang duda. Menarik bukan?" Tanya Adrian mampu membuat Pria yang duduk di dekatnya tersulut emosi. "Berkata begitu lagi. Aku tidak segan membunuhmu." Jawabnya sembari menatap tajam.
"Ma. Hari ini aku ambil seragam di sekolah baru. Mama antar ya." Pintanya penuh permohonan. "Tidak bisa. Minta Papamu untuk antar." Jawab Sean cepat. "Hey...Kita ada meeting pagi ini. Jika bukan aku yang harus ikut. Siapa lagi? Kau juga tidak memahami berkasnya bukan?" Jawab Adrian membuat Sean mendengus sebal. "Boleh ya Dad." Sabrina meminta izin pada suaminya. Dengan sangat terpaksa pria itu mengangguk menuruti kemauan sang istri. Lagipula akan di jaga dengan baik, jadi Sean tak terlalu cemas.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Adrian melihat Sean berdiri. "Mau pamitan sama istri. Memangnya kau tau apa tentang hal hal manis dalam rumah tangga. Istrimu kan hanya bisa pergi ke club dan belanja." Jawabnya menyindir kemudian bergegas pergi. "Dasar pria sialan." Gumam Adrian berdecak kesal.
Sean memeluk istrinya yang sudah tampil cantik dengan gamis berwarna peach. "Jangan lama lama ya." Tuturnya. "Iya. Nanti pulang mau mampir beli eskrim sebentar. Boleh kan Dad?" Jawab Sabrina sambil meminta izin. "Iya boleh." Sean tersenyum lembut. "Terimakasih." Sabrina mengeratkan pelukannya pada sang suami sembari mendongak menatap pria itu. "Sama sama Sayang." Jawabnya mencium bibir sang istri.
Beberapa menit perjalanan, Sabrina dan Andre sudah sampai di sekolah. Wanita itu turun kemudian berjalan dengan tangan kanannya digandeng sosok tampan yang baru pagi ini Ia kenal. "Kenapa ramai sekali Ma?" Tanya Andre. "Ambil raport mungkin." Jawab Bri sambil tersenyum.
__ADS_1
Tiga orang sedang duduk bersama sementara beberapa laki laki yang bertugas untuk menjaga Bri duduk di meja terpisah menikmati kopi dan cake traktiran dari istri sang Bos. Violet mulai menceritakan sebab Ia menangis. Sebagai gadis berwajah oriental yang menurun dari sang Ayah Ia menjadi objek bullyan teman temannya. Ia sudah terbiasa. Namun tidak ada yang peduli padanya lah yang membuat gadis itu menangis. "Tenang sayang. Tante bisa mendengarkan semua keluh kesah kamu. Jadi jangan sedih lagi." Ucap Sabrina sambil memberi pelukan hangat. Violet merasa sangat nyaman. Seperti di peluk Ibunya sendiri padahal Ia tak pernah merasakan Itu karena Sang Ibu tak pernah menganggapnya ada. Kelahirannya merupakan sebuah kesalahan dari hubungan yang tidak di sengaja di bawah pengaruh minuman keras. Tanpa sadar dua insan memadu kasih dan hadirlah Violet. Pernah berkali kali Ibunya ingin mengugurkan dia. Namun Sang Papa bersikeras untuk mempertahankan janin tak berdosa itu dengan memberikan imbalan beberapa juta dolar agar wanita keji itu mau melahirkan Violet kecil ke dunia. Kisah yang sungguh pilu. Ia di hargai dengan beberapa juga dolar dan bahkan Ibunya tak menginginkannya ada.
"Sean. Ada pengiriman barang nanti malam. Kau harus lihat sendiri." Ucap Adrian sambil meneguk minumannya. "Kau datanglah. Aku malas pergi pergi." Jawabnya sambil meletakkan berkas yang sudah di tandatangani. "Aku pulang dulu." Lanjut Pria itu bergegas pergi meninggalkan Adrian yang masih duduk di ruangan.
Mobil mewah berhenti di pekarangan mansion mewah. Sosok laki laki turu lalu bergegas masuk ke dalam. "Istri saya mana?" Tanya Sean pada Ana yang sedang berjalan menuju ke arah dapur. "Di ruang keluarga Tuan." Jawabnya. Pria itu mengangguk kemudian segera menuju tempat dimana sang istri berada.
__ADS_1
Sabrina mendongak merasakan pelukan erat dan ciuman yang datang tiba tiba. "Sudah pulang." Ia meraih tangan Sean dan mencium dengan lembut. "Iya." Jawabnya memutari sofa kemudian ikut duduk. Pria itu melepaskan sepatunya kemudian membaringkan kepala dengan nyaman di paha sang istri. "Mandi dulu. Aku siapkan airnya. Setelah itu makan." Ucap Bri sembari mengelus lembut kepala sang suami. "Sebentar lagi sayang." Jawab Sean memiringkan tubuh kemudian memeluk pinggang istrinya erat.