
Sabrina sedang kedatangan Tamara dan juga Bella setelah suaminya berangkat ke kantor. "Belum makan nasi?" Tanyanya pada adik Ipar dan di jawab gelengan. "Masih mual kak." Tamara mengangguk kemudian mengusap perut Sabrina dengan lembut. "Waktu hamil aku Mama juga begini?" Tanya Bella. "Tidak. Mama makan banyak malah." Jawabnya sambil terkekeh. "Kalau nanti anak pertama sudah umur dua tahun cepat cepat beri adik Bri. Biar jaraknya tidak jauh." Sarannya. "Daddy tidak mau. Katanya satu saja cukup." Ucap Sabrina membuat Tamara berdecak. Pemikiran adiknya ternyata tidak berubah. Awal menikah Sean sudah bilang padanya jika memilih untuk tidak memiliki anak. Namun siapa sangka istrinya hamil dan dia mau tidak mau menerima. Ia maklum jika pria itu tak mau tambah momongan lagi.
Sabrina duduk mengobrol dengan Ayah dan Bundanya setelah Tamara dan Bella pulang. "Masih mual sayang?" Tanya Wanita itu tampak khawatir. "Masih Bun. Tapi tidak sesering kemarin." Jawab Bri. "Ayah sama Bunda kangen pengen peluk kamu sayang, tapi pulangnya masih menjelang ramadhan nanti. Tidak apa ya?" Sabrina mengangguk menanggapi Ayahnya. "Tidak apa Yah. Ayah sama Bunda sehat sehat disana." Tuturnya sambil tersenyum. "Kamu juga. Jangan banyak aktivitas berat. Makan yang bergizi." Pesan Bunda langsung di jawab anggukan. "Suami kamu mana?" Ayah mencari menantunya. "Masih kerja Yah. Ini baru jam 10. Pulangnya masih dua jam lagi." Jawab Bri. "Ayah dengar kamu dibikinkan taman indoor sama perpustakaan ya?" Sabrina mengangguk membuat sepasang suami istri itu tersenyum. Sean benar benar memanjakan Istrinya. Pria itu rela melakukan apapun demi membuat Bri nyaman. "Sekarang alhamdulillah sudah bisa jadi imam menantu Ayah." Ucapnya. "Bagus itu. Kalau mengaji bagaimana?" Kini Bunda yang bertanya. "Mengaji masih belajar setiap sore sama Bri Bun. Sekarang sudah lebih lancar." Ia tampak antusias membahas suaminya yang kini sudah banyak berubah.
__ADS_1
Sean memasuki ruang keluarga karena tau istrinya ada di sana. "Sayang." Pria itu langsung duduk bergabung sambil memeluk dan mencium istrinya. "Sudah pulang. Tadi Daddy dapat salam dari Ayah dan Bunda." Bri menyampaikan. "Ayah tadi pagi telponan sama aku Yang. Tanya gimana kabar kamu soalnya kamu di telpon nggak di angkat." Ucapnya sembari meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri. "Iya. Mungkin waktu aku ngobrol sama kak Tamara dan Bella tadi." Bri mengusap kepala suaminya dengan lembut. "Mandi dulu, sholat, terus makan. Aku masak tumis daging kesukaan kamu." Sean tak mau beranjak. Pria itu malah memeluk pinggang istrinya dengan manja. "Nanti dulu. Masih pengen begini." Jawabnya.
Sabrina mencium tangan suaminya setelah sholat. Wanita itu di balas pelukan hangat dan kecupan lembut penuh cinta. "Daddy tampan begini." Ucapnya mengelus lembut pipi Sean. Pria itu masih mengenakan baju koko dan pecinya. "Mulai bisa menggoda ya sekarang?" Tanya Sean terkekeh. "Bukan. Aku berkata jujur." Jawab Sabrina bersungguh sungguh. "Terimakasih Sayang." Ucap Sean. "Menurut kamu siapa yang paling tampan?" Tanyanya. "Satu yang paling tampan yaitu suamiku." Sean lagi lagi tersenyum. "Diantara Daddy, Adrian, Victor dan pria di luar sana?" Ia mengernyitkan keningnya penasaran dengan jawaban sang istri. Karena dari Adrian dan Viktor Sean ada di posisi tengah dan Victor memimpin kalau soal ketampanan. "Daddy yang paling tampan. Kenapa aku menjawab begitu? Karena aku menundukkan pandanganku terhadap pria lain sehingga Daddy lah yang paling tampan bagiku." Jelas Sabrina membuat hati Sean menghangat. Istrinya begitu mulia. Ia tadinya sempat ragu Bri akan mencintainya. Namun semua itu terbukti sekarang. Sabrina telah membalas cintanya dengan tulus. "Bagi Daddy juga begitu sayang. Kamu adalah satu satunya wanita paling cantik di dunia ini." Balas Sean sembari memberikan kecupan lembut di bibir sang istri.
__ADS_1
"Tidak tidur?" Tanya Sean mengikuti langkah istrinya menuju ke perpustakaan. "Tidur disana bisa. Aku ingin baca buku sebentar." Jawab Bri di angguki oleh suaminya. Pria itu ikut naik ke atas ranjang besar yang sengaja Ia siapkan agar istrinya bisa istirahat sewaktu waktu. Ia menyandarkan kepala sang istri di dada bidangnya dengan nyaman. Sean membiarkan Sabrina membaca buku yang Ia tidak tau juga itu tentang apa karena tulisannya arab semua.
Lima belas menit berlalu Sabrina sudah tertidur pulas. Sean dengan gerakan pelan mengambil buku istrinya dan meletakkan di meja. Pria itu membenarkan posisi tidur sang istri. Menjadikan lengan kekarnya sebagai bantalan dan memeluk tubuh ramping itu dengan hangat.
__ADS_1