
"Aku berangkat dulu sayang." Ucap Sean berpamitan pada Sabrina. Pria itu mengecup lembut kening Bri kemudian melangkah pergi karena sekertaris nya sudah menunggu di depan. "Ayo berangkat Jhon." Ucap pria itu dengan mood baik melangkahkan kaki keluar dari kediamannya yang mewah.
Sabrina telah menyelesaikan sarapannya. Gadis itu celingukan. Ia sedikit heran karena Mansion tampak sedikit sepi. Tidak ada penjaga yang berlalu lalang sepeti biasanya. Hanya tersisa dua pria berbadan kekar yang sedang berdiri di pintu utama.
Bri sekarang sedang berada di sebuah ruangan yang dipenuhi CCTV. Gadis itu mematikan semua sensor dan kamera pengintai. "Selamat tinggal." Ucapnya sambil tersenyum. Ia keluar ruangan dengan pelan kemudian berlari menuju halaman belakang. Menaiki pohon dan melompati pagar hingga sampai kebebasan yang begitu Ia dambakan.
__ADS_1
Sabrina berlari sampai jalan raya. Ia menghentikan taxi dan bergegas menuju ke apartemennya. Napas gadis itu memburu. Keringat bercucuran di dahi dan badannya. Ia merasa lega karena bisa bebas. "Sudah sampai Nona." Ucap Pria pengemudi taxi itu setelah 15 menit perjalanan. "Tunggu disini dulu Pak. Saya ambilkan uang di dalam." Ucapnya langsung mendapat anggukan.
Sabrina memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper. Ia tak punya banyak waktu harus segera bergegas sebelum Sean menyadari kepergiannya. Bahkan Ia tak sempat mandi dan untuk membersihkan tubuhnya yang basah karena keringat. Yang terpenting sekarang adalah segera pergi sejauh mungkin.
Taxi yang di tumpangi Sabrina sudah sampai di bandara internasional terdekat. "Ambil semuanya." Ucapnya memberikan uang lima kali lipat pada pria baik yang mengantarnya. "Terimakasih Nona." Jawab Pria itu tersenyum senang. "Saya yang berterimakasih. Semoga hari bapak menyenangkan." Balasnya sambil tersenyum kemudian segera bergegas pergi.
__ADS_1
"Tuan." Jhon menghampiri Sean yang sedang duduk menikmati sampanye nya. "Katakan." Jawabnya singkat. "Kami sudah mencari di apartemen namun Nona tidak ada. Nona sudah naik pesawat pagi tadi tujuan ke Indonesia." Ucapnya melaporkan hasil pencarian. "Dimana alamatnya di Indonesia?" Tanya Sean. "Belum tau Tuan. Kami sudah mencarinya. Cukup sulit karena Orang tua Nona Sabrina merupakan orang paling berpengaruh disana. Oleh karena itu alamatnya di rahasiakan." Jelas Jhon kemudian berpamitan pergi setelah mendapat kode dari sang tuan.
Sean kembali ke kamarnya. Keadaan masih sama berantakan karena Ia melarang semua pelayan masuk ke kamar tanpa seijinnya. Pria itu menidurkan dirinya di ranjang. Menghirup dalam dalam aroma Bri yang masih tertinggal. Tanpa Ia mau air matanya jatuh menetes begitu saja. Pertama kali jatuh cinta setelah usia ya semakin menua membuat dirinya patah hati. Sean kehilangan. Namun Ia tak akan menyerah begitu saja. Bukan Sean namanya jika harus mundur tanpa berusaha sampai titik darah penghabisan.
Di sisi lain sebuah taxi memasuki halaman mansion megah. Seorang gadis turun. Para pekerja yang melihat kedatangannya langsung melaporkan pada majikan mereka. "Ibu. Bapak. Nona Sabrina pulang." Ucap Mereka heboh. "Assalamualaikum." Ucap Bri masuk. Ketika di rumah tidak menggunakan salam Ia akan diceramahi oleh kedua orang tuanya. "Waalaikumsalam. Sayang." Bunda dan Ayah langsung memeluk putrinya dengan erat. "Kenapa pulang tidak memberi tahu? Kita kan bisa jemput." Ucap Bunda. Menciumi wajah Bri dengan gemas. "Kejutan Bun." Jawabnya. "Ayo duduk. Kamu pasti lelah." Ajak Ayah menggandeng tangan putrinya.
__ADS_1
Bri mengahmpiri kedua orang tuanya yang sudah menunggu di ruang tengah. Gadis itu telah selesai mandi sebentar. Bunda tampak membawa piring untuk menyuapi anak gadisnya. "Duduk sayang. Makan dulu." Ucap Wanita itu langsung mendapat anggukan. Sabrina mulai makan di suapi Bundanya. "Bunda. Ayah. Bri mau belajar agama." Ucapnya tiba tiba membuat pasangan suami istri itu tersenyum. "Nanti Ayah datangkan guru. Biar dia yang mengajar setiap hari disini agar kamu tidak harus berjauhan dengan Ayah dan Bunda ke pesantren." Kata Pria itu sambil tersenyum. Bri mengangguk. "Kenapa tiba tiba pengen belajar agama?" Tanya Wanita berjilbab itu heran karena dulu Sabrina cukup sulit diatur. "Nggak papa. Lagi kepengen aja. Bri sudah merasa cukup mengejar dunia. Sekarang akhirat juga." Jawabnya. "Besok biar butik bunda kirim baju gamis baru buat kamu sayang." Wanita itu tersenyum sambil terus menyuapi putrinya.