
"Katanya Om akan melepaskan ku." Kata Sabrina kini di bawa pulang lagi oleh Sean bahkan dengan penjagaan yang super ketat. "Kalau dipikir pikir lagi tidak jadi Sayang. Kamu akan kabur jauh dariku jika aku melepaskanmu." Ucap Sean menggendong tubuh ringan Sabrina untuk di bawa ke kamar. Gadis itu tampak diam tak meronta seperti biasanya. Sean berpikir mungkin Bri nya lelah kemudian meletakkan di ranjang dengan hati hati agar istirahat. Laki laki itu tak tau saja jika di otak cerdasnya Sabrina sedang memikirkan sesuatu agar biasa pergi dari sini. "Jadi gadis yang baik mungkin akan membuatnya luluh dan lengah." Ucapnya dalam hati. "Aku akan pergi sebentar. Kamu tidurlah sayang." Ia mengecup kening Sabrina dengan lembut sebelum pergi.
Sean sedang sibuk menandatangani sesuatu di ruang kerjanya. "Sudah beres semua." Ucap Sean memberikan beberapa Map pada Jhon. "Besok Tuan harus menghadiri rapat jam sembilan pagi." Ucapnya mengingatkan. Laki laki yang sedang duduk itu tampak mengangguk. "Permisi Tuan. Ada kiriman." Seorang Pria masuk menyerahkan sebuah kotak pada Sean. 'Gadismu menarik. Aku menginginkannya.' Sebuah pesan tertulis di kertas hitam dengan foto dirinya sedang menggendong Sabrina membuatnya naik pitam. "Sialan." Umpatnya.
__ADS_1
Sean kembali ke kamar mendapati Sabrina sudah tertidur pulas. Ia berjalan mendekat kemudian ikut berbaring di samping gadis itu. Jemarinya mengelus wajah cantik Bri dan menatapnya dalam dalam. Kerutan tampak kening pertanda ada sesuatu yang sedang di alami dalam tidur. Tangan Sean beralih menepuk pundak Sabrina dengan pelan hingga ekspresinya tampak datar kembali. Ia memeluk tubuh ramping itu sambil terus menepuk punggung dengan pelan. Tanpa sadar Sabrina semakin menelusup kan kepalanya di dada bidang Sean membuat laki laki itu tersenyum.
Pagi hari tiba. Sean mengajak Sabrina sarapan di ruang makan setelah dua hari terkunci di kamar. Gadis itu mengangkat kepalanya setelah selesai berdoa. "Aku bisa makan sendiri." Tolak Bri ketika Sean hendak menyuapinya. "Makan atau aku akan mengurung kamu di kamar lagi." Ancamnya membuat Bri akhirnya menurut. Mau kabur pun sia sia dengan banyaknya pria bersenjata dimana mana. "Aku kembalikan ponselmu jika kamu ingin menelpon dan memberi kabar ke calon mertuaku. Jangan macam macam karena aku tau setiap percakapan dan pesan yang kamu lakukan." Ucap Sean menjelaskan. "Hari ini temani aku ke kantor. Kita pulang saat makan siang nanti." Lanjutnya membuat Sabrina tersedak. "Hati hati Sayang." Ucap Sean khawatir sambil membantu gadis itu untuk minum. "Kenapa aku harus ikut? Aku tidak mau." Tolaknya dengan tegas. "Oh baiklah. Jika tidak mau maka nyawa karyawan mu akan melayang." Ucap Sean tau kelemahan gadisnya.
__ADS_1
Sampai di kantor Sean berjalan merangkul pinggang Sabrina. Gadis itu menampilkan ekspresi datar tak peduli dengan pandangan orang orang. Berita tentang Sean yang datang di Sebuah acara dengan seorang gadis telah menyebar sejak semalam. Dan kali ini Mereka melihat sendiri betapa cantik dan berkarisma gadis bosnya itu.
Sabrina merasa bosan. Gadis itu beranjak keluar. "Astaga. Mengagetkan." Katanya karena melihat seorang karyawan sudah berada di depan ketika Ia membuka pintu. "Maaf Nona. Saya diutus tua Sean untuk menemani Nona." Ucap Wanita berkacamata tebal itu. "Saya haus. Mau minum. Ada kantin disini?" Tanya Sabrina di jawab anggukan. "Ada Nona. Mau minum apa? biar saya pesankan." Bri menggeleng. Ia menarik tangan wanita itu untuk diajak pergi bersama.
__ADS_1
Hidangan dan minuman sudah tersaji di meja. "Kenapa berdiri. Ayo duduk makan denganku." Ucap Sabrina melihat wanita itu masih berdiri di posisinya. "Tidak perlu Nona." Jawabnya tidak enak hati harus makan dengan pacar Bos. "Ayo." Sabrina terus memaksa membuatnya menurut. "Sudah berkeluarga?" Tanya Sabrina di jawab anggukan. "Anak saya dua Nona." Jawabnya membuat Bri mengangguk paham. Mereka terus mengobrol. Marry tak menyangka Jika pacar CEO kejam itu sangat baik dan ramah.
Sean menghela napas. Pria itu berjalan cepat menuju ke kantin kantor membuat semua memandangnya heran karena baru kali ini melihat Sang CEO memasuki kantin. "Sedang apa sayang?" Tanyanya berdiri di belakang Sabrina. "Tuan." Ucap Marry berdiri kemudian berpamitan setelah mendapat kode dan Sean. "Sedang makan." Jawab Sabrina tanpa menoleh kepada Sean yang sudah duduk di sampingnya. Laki laki itu tersenyum. Makan Bri begitu banyak padahal tubuhnya cenderung kurus. Bayangkan pagi tadi sudah sarapan di tambah makan brownies dan sekarang makan lagi banyak. "Makan kamu banyak ya?" Tanya Sean menarik gemas pipi Sabrina yang tak luput dari perhatian orang orang. Mereka melihat bosnya begitu manis ketika sedang jatuh cinta. "Om takut miskin karna makanku banyak?" Tanyanya sambil mengunyah. "Tidak sayang." Jawab Sean tersenyum mengecup pipi Sabrina namun gadis itu tak peduli.
__ADS_1