Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Lamaran


__ADS_3

Semuanya tengah sibuk menyiapkan hantaran untuk acara lamaran yang akan dilaksanakan nanti malam. Barang barang mewah sedang di kemas di dalam kotak kaca. Ada tas, sepatu, pakaian muslimah, Jilbab, skincare, hingga perhiasan. Tamara, Bill dan juga Bella ikut terlibat. Sementara yang punya hajat hanya duduk diam sambil memainkan ponselnya. "Mau kemana kamu?" Tanya Tamara melihat adiknya berdiri. "Mau ketemu calon istri kak. Mau kemana lagi." Ucapnya. "Mana boleh. Nggak boleh. Di rumah aja." Sean menatap kakaknya penuh curiga. "Memang seperti itu. Jangan macam macam kamu." lanjutnya memperingati. Laki laki itu terpaksa duduk lagi. "Dari kemarin tidak boleh." Gumamnya sambil bersedekap dada. "Temanmu sudah menikah kamu kapan Bell?" Tanya Sean membuat keponakannya mendengus sebal. "Jika tidak terpaksa Sabrina juga tidak akan menikah secepat ini." Jawabnya kesal. "Memangnya kamu tidak mau punya Tante seperti Sabrina?" Tanyanya menggoda sambil mencolek punggung Bella dengan jempol kakinya. "Mau. Seneng banget malah. Kalo boleh Bella ambil Sabrina saja dan Bella buang Om." Jawab gadis itu membuat Bill tergelak. Diam diam mulut putrinya itu sudah seperti Tamara.


Di sisi lain seorang gadis sedang membaca buku di balkon kamar. "Sayang." Panggil Ayah dan Bunda ikut duduk bergabung. "Kamu yakin dengan keputusan kamu?" Tanyanya. "Berat Bun. Tapi kata janji sudah terucap dari mulut Bri tidak mungkin Bri akan mengingkari." Ayah Sabrina tampak menghela napas. Ia tak menduga kejadian seperti ini akan menimpa putrinya. Ia tau Bri tercinta belum siap untuk menikah dan berumah tangga. Namun apa boleh buat. "Semoga ini jalan yang terbaik Sayang " Ucap sepasang suami istri itu memeluk putrinya.

__ADS_1


Malam hari tiba. Rombongan mobil memasuki kediaman Alexander. Seorang laki-laki turun diikuti beberapa orang lainnya yang mengenakan baju batik seragam sambil membawa seserahan yang akan di berikan pada pihak mempelai wanita.


"Bri mana?" Tanya Sean berbisik pada kakaknya. "Masih di sembunyikan." Jawab Tamara menahan kesal. Suasana tidak terlalu ramai karena hanya pihak kedua belah keluarga saja yang hadir dalam acara. Acara pembukaan selesai di lakukan di lanjutkan dengan acara penyampaian maksud dan tujuan yang di sampaikan oleh Bill untuk mewakili Sean. Setelah mendapat jawaban atau tanggapan dari pihak perempuan Sabrina keluar bersama Bundanya. Semua mata tertuju pada gadis cantik yang mengenakan gamis berwarna cream itu. "Jaga matamu Sean. Jangan buat malu." Tegur Tamara sambil mencubit adiknya. Sabrina duduk menunggu acara balas seserahan selesai dilakukan oleh kedua belah pihak keluarga. Ia menunduk tak berani menatap Sean yang sedaritadi menatapnya. Acara tukar cincin juga tidak ada karena Sean menuruti keinginan Sabrina untuk tukar cincin setelah ijab qobul dilakukan.

__ADS_1


Dua orang gadis sedang mengobrol. Bella mengamati kamar Sabrina yang begitu rapi dengan ruang baca terpisah di batasi dengan kaca transparan. "Kamu kalau menulis buku di ruang baca Bri?" Tanyanya di jawab anggukan. "Kadang juga di balkon kamar." Jawabnya sambil tersenyum. "Maafkan Om ku Bri." Ucapnya merasa tidak enak." Sabrina menggeleng pelan. "Tidak masalah. Sepertinya ini memang jalan yang Allah berikan." Gadis itu tersenyum kemudian menarik tangan Bella untuk diajak ke balkon kamar. "Ayo lihat bintang." Bri menunjukkan teropongnya bintangnya. "Pantas saja kamu pintar. Mainanya begini." Ucap Bella sambil tertawa kecil.


Sean beserta keluarga sudah sampai di rumah. "Beneran Ma. Beh....Koleksi bukunya Tante aku banyak banget. Ada teropong bintang juga di balkon kamarnya. Buku dan novelnya juga best seller. Ada beberapa yang di jadikan film." Sabrina terus berceloteh semenjak sepanjang perjalanan pulang tadi. Sean dan yang lain hanya mendengarkan dengan seksama. "Ada apa lagi Bell?" Tanya Sean sambil tersenyum melihat gadis itu berhenti bercerita kemudian meneguk minumnya. "Oh...Iya. Dia memberiku sesuatu." Ucapnya. Gadis itu mengeluarkan beberapa buku. "Punya Om." Sean merebutnya kemudian berlari menaiki tangga. "Om. Om itu punyaku." Kesal Bella mengejar Sean yang mungkin sudah mengurung diri di kamar. "Astaga Sean." Gumam Tamara menyaksikan tingkah adiknya itu.

__ADS_1


__ADS_2