Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Menghilang


__ADS_3

Sabrina sedang berada di rumah iparnya sementara Sean di kantor. Sedari kemarin Tamara dan Bella merengek meminta agar wanita berjilbab itu di bawa ke rumah karena sudah beberapa hari tidak bertemu. Dengan terpaksa dan bosan mendengar celotehan kakak dan ponakannya mau tidak mau Sean hanya bisa menurut. Lagipula membawa istrinya bolak balik ke kantor juga bisa membuat Sabrina bosan karena menunggu. Agar tidak jenuh Ia membiarkan wanita itu di rumah Kakaknya agar merasakan suasana yang berbeda.


Hanya ada Sabrina dan Tamara diruang keluarga karena Bella belum pulang dari kampus. "Bri. Kamu mau makan apa? Biar kakak suruh Bibi masak. Kita mengobrol saja." Ucap Wanita itu menggenggam tangan iparnya. "Bri makan apa saja kak." Jawab wanita itu sambil tersenyum. "Baiklah." Ucapnya kemudian menyuruh pelayan yang sedang berlalu lalang untuk menyiapkan makan siang. "Em bagaimana rumah tangga kamu sama Sean?" Tanya Tamara. "Baik baik saja kak. Memangnya kenapa?" Tanyanya balik. "Enggak. Sean itu orangnya keras dan dominan. Kakak takut kamu tidak nyaman dengannya. Kakak ingin cerita Bri. Baru kali ini Kakak lihat Sean bahagia. Semenjak kematian orang tua kami Ia tak pernah tersenyum. Sikapnya begitu acuh, keras dan kasar. Kakak takut dia selamanya akan begitu. Untung saja sekali jatuh cinta dia memilih wanita yang tepat seperti kamu. Kakak harap kamu sabar menghadapinya ya. Kakak tidak mau dia kembali seperti dulu lagi. Berkat kamu dia bahagia Bri. Hanya kamu sumber kebahagiaanya." Ucap Tamara panjang lebar. "Insyaallah kak. Sabrina akan berusaha yang terbaik." Jawabnya sambil tersenyum membuat hati Tamara menghangat.


Sosok wanita berjalan menuruni tangga. Ia baru saja selesai melaksanakan sholat dhuhur di kamar. Suasana hening namun ada suara pecahan barang di ruang keluarga membuatnya bergegas menuju kesana takut terjadi sesuatu pada Tamara.

__ADS_1


"Kakak." Panggil Sabrina. Wanita itu diam membeku di tempat melihat kondisi iparnya yamg terikat di kursi dengan mulut di sumpal. Baru hendak melangkah maju tiba tiba dinginnya moncong senjata api mengenai lehernya. "Diam." Ucap seorang pria membuatnya tak berani bergerak. Beberapa saat kemudian pandangan menggelap. Ia tak sadarkan diri setelah kain putih membekap mulut dan hidungnya.


Bella baru pulang dengan Papanya. Gadis itu buru buru menuju ruang keluarga karena saat di kampus tadi Ia berbalas pesan dengan Mamanya. Wanita itu bilang jika Ia sedang mengobrol di ruang keluarga bersama Sabrina.


"Bajingan." Umpat Sean sembari menggebrak meja setelah menerima panggilan. "Ada apa?" Tanya Adrian ikut panik. "Victor membawa istriku." Ucapnya menyambar jasnya kemudian bergegas pergi. "Suruh beberapa orang mencari keberadaan pria itu. Suruh beberapa juga menyisir seluruh cctv di jalanan." Perintah Sean pada Adrian yang sedang berjalan mengimbangi langkah lebarnya.

__ADS_1


Sean duduk mendengarkan penjelasan dari kakaknya setelah memberikan pelajaran bagi beberapa orang yang tidak becus bekerja untuk menjaga sang istri. "Maafkan Kakak Sean." Ucap Wanita itu berlinang air mata menyesali kejadian hari ini. "Ada kabar dari mereka?" Tanya Sean tak menanggapi kakaknya. "Untuk CCTV jalanan sudah di retas. Tidak ada informasi apapun yang di dapat. Beberapa orang sudah memeriksa mansion dan juga semua tempat yang mungkin Victor kunjungi namun semuanya tidak ada. Sepertinya orang itu sudah meninggalkan kota. Tapi di telisir dari penerbangan manapun tidak ada namanya yang terdaftar." Jawab Adrian menjelaskan hasil penyelidikan anak buahnya. "Kalung. Lacak istriku dari kalung yang di gunakannya." Titah pria itu langsung di laksanakan.


"Permisi Tuan. Kami sudah mencari Nyonya di titik terakhir. Namun kami hanya menemukan kalungnya saja disana." Lapor salah seorang sembari memberikan kalung berlian cantik itu pada Tuannya. Napas Sean tercekat. Ia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Ia tidak bisa membayangkan jika Victor menyakiti istrinya. Semua pikiran buruk berputar di otaknya. Ia tak bisa menampik itu. "Aku pulang dulu." Pamitnya singkat kemudian segera pergi.


Sean duduk di kamar yang begitu gelap tanpa pencahayaan apapun. Suasana yang menggambarkan hati dan pikirannya saat ini karena kehilangan sang istri. Pria itu tidak makan ataupun minum sedari tadi siang. Ia hanya bisa duduk sembari menunggu kabar dari orang orang yang masih mengumpulkan informasi tentang dimana keberadaan istrinya. Sean menciumi kalung yang seharusnya menjadi petunjuk. Tanpa sadar air mata pria itu menetes membasahi pipi. Ia sama sekali tak tau kabar Sabrina. Sedang dimana? Sudah makan atau belum? Pasti istrinya itu sedang ketakutan. Menangis seperti kemarin saat Ia menemukan di hutan. "Kamu dimana Sayang?" Ucapnya menahan sesak di dada.

__ADS_1


__ADS_2