
Sean masih fokus dengan berkas berkas di tangannya. Pria itu mendongak menatap pintu ruangannya yang terbuka. Sosok pria seumurannya masuk ke dalam kemudian duduk tanpa di persilahkan. "Begini caramu menyambut sahabat sendiri." Sindirnya sambil melepas kacamata hitam. "Memangnya aku harus apa?" Tanya Sean meletakkan berkasnya. Pria itu bangkit dari duduk untuk berpindah di sofa. "Kau bilang akan tiba 2 jam lagi." Ucapnya setelah mendudukkan diri. "Kejutan. Namun rasanya hambar karena wajah datar mu itu tak berekspresi sama sekali." Jawabnya sambil berdecih. Puluhan tahun mereka bersahabat Sean tetap sama datarnya. Tidak berubah sama sekali.
Suasana hening seketika. Sean dan Adrian sama sama tak bicara beberapa saat. "Dia disini. Aku mendapat laporan dari Jhon." Ucap Pria itu meletakkan kembali gelas anggurnya dengan gerakan pelan. Sean mengangguk. Pria itu menceritakan semuanya. "Dia telah mengintai istrimu?" Tanya Adrian. Lagi lagi Sean mengangguk. Bahkan semua identitas Sabrina dengan mudah Victor dapatkan termasuk tempat tinggal baru dimana wanita itu berada. Oleh karena itu Sean melarang keras istrinya untuk sekedar keluar saja. Ia takut Bri nya nanti akan disakiti.
__ADS_1
Semuanya berawal dari dendam di masa lalu. Victor seorang yatim piyatu. Kedua orang tuanya telah tiada karena kecelakaan mobil. Victor hanya hidup berdua dengan adiknya Serta peninggalan keluarga yang luar biasa melimpah. Dulunya Victor, Adrian dan Sean bersahabat. Hingga suatu ketika adik dari Victor bernama Rebecca jatuh cinta pada Sean. Perasaan yang tak terbalas dan penolakan berkali kali dari Sean membuat gadis yang saat itu berusia 19 tahun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan terjun bebas dari balkon kamar. Hari hari sebelumnya Rebecca mengurung diri tak mau makan dan minum sedikitpun membuat Victor frustrasi. Ia mencoba meminta bantuan Sean. Pria itu membujuk Sean untuk menerima cinta adiknya namun dengan tegas ditolak. Ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia tak cinta bahkan tak tertarik sama sekali. Hingga Rebecca bunuh diri Sean menjadi orang yang Victor benci. Ia bersumpah akan membalaskan kematian satu satunya anggota keluarga yang Ia punya.
Di sisi lain Sabrina sedang memasuki kamar seseorang. Wanita itu tersenyum sambil melangkah membawa nampan. "Nyonya." Ucap Ana buru buru menghampiri dan membantunya. "Istirahatlah Bibi." Ucap Sabrina. Keduanya kemudian duduk di sofa. "Nyonya tidak perlu melakukan ini." Ujarnya sambil menunduk. Sabrina merasa bersalah. Suaminya telah menyiksa Ana dan membuat wanita itu sakit hingga harus beristirahat beberapa hari. "Makanlah. Aku yang memasaknya sendiri. Semoga Bibi suka." Wanita itu tersenyum sembari mengusap tangan pelayannya itu. "Maafkan suamiku." Sabrina berkata sambil menunduk. "Tidak masalah Nyonya. Saya baik baik saja. Nyonya jangan menangis." Ia tak tega melihat air mata wanita mulia itu terjatuh hanya karena pelayan rendahan sepertinya. "Terimakasih telah menolong saya." Lanjutnya lagi menggenggam tangan majikannya.
__ADS_1
"Sayang." Panggil Sean memeluk istrinya lalu mengecup pipi mulus itu berkali kali. "Sudah pulang." Sabrina mencium tangan pria itu. Adrian yang menyaksikan itu terkejut. Rasanya sepeti mimpi. Baru kali ini Sean berbicara manis dan memperlakukan seseorang dengan lembut. "Kenalkan. Ini Adrian. Sahabat Daddy." Ucapnya sambil menggenggam tangan sang istri agar wanita itu tak berjabat tangan dengan sahabatnya. "Sabrina Om." Ia tersenyum. "Jangan senyum padanya." Sean seketika mengubah posisi menghadap Sang Istri membuat Adrian hanya bisa menatap punggungnya. "Aku Adrian." Jawab Adrian sambil tersenyum meskipun tak dapat dilihat oleh lawan bicaranya.
"Kamu masak sendiri sayang?" Tanya Sean saat mereka sedang makan siang bersama. Sabrina mengangguk sambil tersenyum. "Masakanmu sangat enak Bri. Lain kali aku akan sering makan di sini." Kata Adrian sambil makan dengan lahap. Sean hanya diam tak menghiraukan Adrian yang terus berceloteh. Ia hanya fokus pada makanan dan juga istrinya.
__ADS_1
Sean menghampiri Adrian yang sedang duduk di ruang kerjanya. Pria itu baru saja menidurkan Sang Istri sebentar. Saat memastikan Bri terlelap Ia bergegas menemui sahabatnya. "Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" Tanya Adrian heran karena Sean bisa memperistri wanita yang begitu menjaga dirinya seperti Sabrina. Pakaian yang tertutup dengan tutur kata yang lembut tak perlu menggali lebih dalam lagi tentang perangai wanita itu Adrian sudah tau. Banyak wanita yang sudah di taklukkan nya membuatnya peka dan bisa menilai seorang wanita dalam sekali pandang. Memang ada wanita yang berpura pura. Namun Ia tau betul Sabrina itu tidak demikian. "Berbagai cara. Bukan hal mudah." Kata Sean kemudian menceritakan kisah hidupnya hingga bisa meminang Sabrina.