Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Pemaksaan


__ADS_3

Sabrina baru saja keluar dari apartemen. Gadis itu dikejutkan dengan beberapa pria berbadan kekar yang sedang berdiri di depannya. Mereka terbengong sejenak menatap wajah cantik gadis incaran Sang Tuan. "Nona. Mari ikut kami. Tuan sudah menunggu di dalam mobil." Ucap salah seorang dari mereka. "Tuan? Siapa? Aku tidak sedang ada janji dengan seseorang." Ucapnya. "Tuan Sean. Mari ikut kami." Sabrina menggeleng. "Tidak mau. Jangan menggangguku." Tegasnya hendak pergi namun mereka menghalangi. "Menurut saja Nona. Atau akan kami paksa." Ucap mereka memperingati. "Jangan salahkan aku harus bertindak." Bri melepaskan tangan pria itu dan memberikan beberapa tendangan dan pukulan telak pada masing hingga terjatuh ke lantai.


"Kenapa lama sekali?" Kesal Sean duduk menunggu di kursi penumpang sebuah mobil mewah yang terparkir di depan gedung apartemen. "Jhon. Dimana mereka sampai sekarang belum ada kabar? 20 menit sudah aku menunggu." Kesalnya. "Sebaiknya kita tunggu di rumah Tuan saja. Mengingat Nona Sabrina agak sulit pasti mereka sedang membujuk." Jawab Jhon sambil menelan ludahnya. "Baik. Kita langsung ke rumah saja." Ucap Sean setuju.

__ADS_1


Sebuah gerbang menjulang tinggi terbuka lebar. Mobil mewah masuk dan berhenti dengan mulus di depan mansion megah. "Selamat datang Tuan." Ucap beberapa orang menyambut kedatangan majikannya. Sean tak menjawab memilih langsung masuk ke dalam lalu mendudukkan diri di sofa sambil menunggu gadisnya datang.


Beberapa pria berbadan kekar datang. Mereka berdiri sambil menundukkan diri tak berani menatap Tuannya. "Dimana gadisku?" Tanya Pria itu terdengar dingin membuat suasana ruangan seketika mencekam. "Maaf Tuan. Nona Sabrina kabur. Kamu telah mencarinya namun kehilangan jejak." Lapor salah satu dari mereka. Sean tak menjawab memilih untuk berdiri kemudian berjalan mengelilingi para bawahannya dengan tatapan tajam membuat mereka merinding. "Kenapa kalian terluka begitu? Apa karna Gadisku?" Tanya Sean di jawab anggukan oleh mereka. "Bodoh." Bentaknya sambil menampar mereka bergantian. "Pantas kalian mendapatkannya. Cari sampai dapat lalu kabarkan padaku. Jika tidak aku tidak segan menghukum kalian." Bentaknya hingga suara menggema memenuhi ruangan.

__ADS_1


Baru saja bernapas lega. Sabrina di buat mengumpat dalam hati karena pelukan dari seseorang. "Aku menemukanmu." Ucap Sean. "Lepaskan." Bri berkata sangat tajam namun laki laki itu sama sekali tidak takut. Ia berbalik kemudian mendorong tubuh Sean hingga menjauh. "Jangan ganggu aku." Teriaknya sudah tidak tahan lagi. "Sudah berapa kali aku ingatkan Om jangan ganggu aku." Sabrina berjalan meninggalkan pria itu. Baru lima langkah gadis itu berhenti karena beberapa Pria menodongkan senjata api padanya. "Sudah aku bilang kamu tidak akan pergi sayang." Ucap Sea mendekat. Sabrina tidak peduli. Gadis itu mulai berjalan lagi menembus beberapa orang namun Sean mencekal pergelangan tangannya. "Lepaskan." Ucap Bri berapi api. "Tidak akan." Jawab Sean tegas sambil menatap wajah Sabrina yang begitu pucat. Sean menangkap tubuh ringan gadis yang sedang pingsan kemudian segera menggendong dan membawanya masuk ke mobil.


Sean mendekat dan duduk di samping Sabrina. Ia mengelus lembut wajah cantik yang kini memucat. Sean mengecup kening Sabrina pelan kemudian bergegas pergi untuk menyuruh pelayan menyiapkan makan.

__ADS_1


Sabrina mengerjapkan matanya hingga terbuka sempurna. Gadis itu mengernyitkan kening karena berada dalam sebuah kamar mewah yang begitu asing. Ia turun dari ranjang tak menghiraukan kepalanya yang pusing. Berjalan menuju pintu kamar dan mencoba membukanya beberapa kali namun gagal. Sabrina tak menyerah. Gadis itu beralih menuju ke jendela kamar yang besar namun ada tralis disana juga tak mungkin bisa membuatnya keluar.


"Sudah bangun sayang?" Tanya Sean memasuki kamar diikuti pelayan yang meletakan berbagai hidangan di atas meja. "Apa yang Om lakukan?" Ucap Sabrina berjalan mendekat ke arah Sean. "Keluarkan aku dari sini." Tegasnya. "Tidak akan." Jawab Sean. "Jika ingin keluar. Menikahlah denganku." Lanjutnya hendak membelai wajah gadis itu namun langsung di tepis kasar. "Aku tidak mau." Sean hanya tersenyum Ia semakin mendekat namun Sabrina juga tak gentar. Laki laki itu menggendong tubuh ringan Bri dan meletakkan di ranjang. "Apa kamu ingin aku hamil dulu biar mau?" Tanyanya mengunci tangan dan kaki gadis itu agar tidak banyak bergerak. "Menjauh dariku. Jangan seperti ini." Ucap Bri sambil meronta. Sean mulai membuka dasinya dengan satu tangan kemudian mengikatkan pada kedua lengan Sabrina. Melihat laki laki di atasnya sedikit lengah Ia meronta hingga berhasil membuat Sean jatuh terlentang di sampingnya. "Hahahaha...." Sean tertawa kemudian memiringkan tubuhnya memeluk Sabrina dengan erat. "Lepaskan." Sabrina berkata dengan lirih karena tenaganya terkuras habis. "Hanya ingin peluk saja. Ini sangat nyaman." Ucap Sean tak mengindahkan peringatan.

__ADS_1


__ADS_2