
Hari ini Sabrina sudah berada dirumah bersama suaminya karena Ayah dan Bunda pulang semalam. " Oleh oleh buat kak Tamara, Om Victor sama Om Adrian biar Bri yang antar Bun." Bunda menatap putrinya lalu mengusap perut Bri. "Kamu sedang hamil. Nanti capek." Jawabnya khawatir. "Nggak capek kok Bun. Bosan di rumah terus. Boleh ya." Merasa tak tega wanita itu mengangguk.
Sean masuk ke kamar menyusul istrinya setelah selesai mengobrol dengan Ayah mertua. "Dad. Kita antar oleh olehnya kapan?" Tanya Sabrina membalikkan badan membalas pelukan sang suami. "Nanti agak sore. Masih panas banget." Jawab Sean mengecup bibir mungil itu dengan lembut. "Diminum dulu susu nya. Setelah itu tidur siang." Sabrina mengangguk menuruti perintah suaminya.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu Bri sudah tertidur pulas dalam dekapan Sean. Akhir akhir ini wanita itu mudah sekali mengantuk. Seperti kemarin, hanya di tinggal mandi sebentar Sabrina sudah tertidur di sofa. "Kenapa kamu menggemaskan sekali. Jadi pengen gigit." Ucap Sean menjilat rona di pipi sang istri.
"Sabrima mana?" Tanya Papa melihat menantunya baru keluar dari dapur sambil membawa minum. "Lagi tidur Yah." Jawabnya. "Belum bangun?" Tanya Bunda tiba tiba datang menyahuti obrolan keduanya. "Belum Bun." Wanita itu mengangguk. "Kalo gitu Ayah sama Bunda mau keluar dulu ada perlu. Kalau Sabrina cari nanti bilangin ya." Sean mengangguk menanggapi mertuanya.
__ADS_1
Sabrina terbangun dari tidurnya yang nyenyak. "Sudah bangun sayang?" Tanya Sean memasuki kamar melihat wanita itu duduk bersandar di headboard ranjang. "Minum dulu." Ucapnya memberikan botol air yang Ia bawa untuk sang istri. "Bunda sama Ayah keluar sebentar. Ada urusan katanya." Ucap Pria itu menyampaikan sembari menyibakkan rambut Sabrina di belakang telinga. "Kita ke rumah Kak Tamara sekarang?" Tanyanya di jawab anggukan oleh Sean. "Ayo kalau mau mandi." Pria itu tiba tiba menggendong istrinya.
Semuanya duduk mengobrol di ruang keluarga. Bella yang baru bangun pun juga sudah bergabung. Seperti biasa gadis itu sangat antusias dengan kedatangan istri omnya. "Om mau anak cewek atau cowok?" Tanya Bella mengusap perut Bri yang membuncit. "Apa aja." Jawab Sean singkat. "Dasar kanebo kering. Manisnya cuman sama istri aja. Apa sama mertuamu juga begitu?" Kesal Tamara. "Enggak kak. Dia ramah sama Ayah dan Bunda." Jawab Bri tertawa kecil. "Dasar tukang cari muka." Bill mendukung istrinya. Sejak menikah dengan Tamara Ia tak pernah melihat iparnya itu bersikap lembut atau manis dengan siapapun.
__ADS_1
"Silahkan Buahnya." Ucap Bibi menyajikan potongan buah pada Ipar majikannya. "Terimakasih Bi." Sabrina tersenyum ramah pada wanita berusia setengah abad itu. "Sama sama Non." Jawabnya kemudian segera berpamitan. "Ayo dimakan aunty, atau mau aku suapi?" Tanya Bella. "Makan sendiri saja." Jawab Bri meraih mangkuk buah dan mulai memakannya. "Sean. Kalau istri kamu capek kakinya di pijit biar nyaman." Tamara memberikan wejangan pada adiknya agar memperlakukan Sabrina dengan baik. Yah walaupun Ia tau Sean sudah sangat baik pada sang istri. Namun sesekali Ia sebagai kakak perlu memberikan saran juga. "Udah tau, nggak usah kakak ingetin." Jawabnya malas.
Sean dan Istrinya sudah pulang. Keduanya saat ini sedan makan malam bersama Ayah dan Bunda. "Maunya apa sih Sayang?" Tanya Bunda bingung sedaritadi Sean menawari istrinya selalu di tolak. "Enggak mau apa apa Bun. Bri masih kenyang." Jawabnya sembari meneguk susu yang di buatkan suaminya tadi. "Makan ya. Sedikit saja." Bujuk Sean namun tidak membuahkan hasil.
__ADS_1