
Sabrina sedang di rumah Sean sementara laki laki itu belum pulang bekerja. "Ayah. Bri janji jika bisa pulang nanti aku akan menuruti semua kata Ayah. Bri akan belajar agama. Bri akan jadi anak baik." Lirihnya sembari mengamati pemandangan dari atas balkon kamar. Ia menghela napas kemudian masuk ke dalam. Gadis itu duduk di tepian ranjang sambil menghubungi Bundanya untuk menghilangkan rasa kesepian dan bosan.
Sementara itu Sean masih dalam perjalanan pulang. Ia tadi menyempatkan diri untuk mampir sebentar membelikan Sabrina pie. "Kira kira dia suka apa Jhon?" Tanyanya pada sang Asisten Pribadi. "Biasanya Nona suka makanan sederhana Tuan. Tapi sepertinya kita tidak bisa menemukan disini. Yang biasa Nona makan itu resep dari Indonesia. Nona memasaknya sendiri." Jawab Jhon jujur berdasarkan penyelidikannya. "Kita mampir ke toko coklat saja. Biasanya gadis menyukai coklat." Ucapnya langsung di jawab anggukan. Selera Sabrina yang berbeda dengan gadis lainnya membuat Sean kuwalahan. Beberapa barang mewah yang di berikannya pada Bri langsung ditolak mentah mentah.
__ADS_1
Sampai di rumah Sean langsung menuju ke kamarnya yang sekarang di tempati Sabrina. Laki laki itu sangat bersemangat membuka pintu. Kemudian Ia melangkah pelan melihat Bri sudah tertidur pulas sambil masih mengenakan mukenanya. Hidungnya tampak memerah pertanda jika gadis itu tadinya menangis. Semenjak kenal Bri dan mengurungnya disini ini pertama kalinya bagi Sean melihat Sabrina menangis. Gadis itu merupakan gadis yang tegas dan tegar. "Aku minta maaf." Ucapnya mengecup kening Sabrina dengan lembut kemudian beranjak pergi ke kamarnya sendiri.
Sore hari Sean kembali ke kamar Sabrina. Gadis itu tampak duduk sambil membaca buku. "Hy Sayang." Sapanya sambil tersenyum lalu ikut duduk. "Ini aku belikan pie dan coklat untukmu." Ucapnya meletakkan kotak dan paper bag di atas meja. Bri menutup bukunya. Ia menatap Sean sambil menyipitkan mata. "Kenapa?" Tanya Laki laki itu langsung di jawab gelengan. "Aku makan." Ucap Bri meraih kotak dan mulai memakan coklatnya. "Kita ke pantai sore ini mau?" Tanya Sean tiba tiba membuat Sabrina tersedak. "Hati hati sayang." Ucapnya sambil menepuk punggung gadis itu dengan lembut dan memberi minum. "Kenapa tiba tiba ingin mengajakku ke pantai?" Sean menggeleng. Ia kasihan karena Sabrina terus berada di kamar. Mungkin dengan mengajaknya jalan jalan akan mengurangi rasa bosan yang di rasakan. "Ingin saja." Jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Orang tadi siapa?" Tanya Bri yang sedang duduk menikmati eskrimnya. "Temanku dulu semasa kuliah. Kekasihnya dulu menyukaiku. Dia salah paham. Hingga hubungan kami semakin memburuk karena persaingan bisnis orang tua kami." Jawab Sean menjelaskan. "Bukannya orang tua Om sudah meninggal?" Laki laki itu tampak mengangguk. "Iya. Itu dulu. Namun nyatanya sampai sekarang dia dan orang tuanya juga membenciku. Karna sekarang bisnis orang tua yang aku pegang semakin sukses." Sean mengusap sudut bibir Sabrina. "Ada eskrim." Ucapnya sambil tersenyum karena melihat Bri menatapnya tajam. "Om bisa memberitahuku. Aku bisa melakukannya sendiri." Sabrina mendengus. "Kamu ada yang di pikirkan?" Tanya Sean melihat gadisnya melamun sejenak. "Jadi teringat orang tua. Dulu aku sering membantah. Waktu Bunda dan Ayah suruh aku belajar agama aku tidak mau. Hah....Merasa durhaka aku menjadi anak." Ucapnya sembari menghela napas. "Semuanya bisa di perbaiki." Sahut Sean memberi tanggapan sembari mengelus rambut gadis itu.
Keduanya sampai di rumah setelah beberapa saat perjalanan. "Masuklah dulu." Ucap Sean mengusap kepala Sabrina. Ia menghampiri beberapa orang penjaga yang sedang menjalankan tugas. "Tuan." Sapa Mereka. "Hanya sisakan dua penjaga di sini mulai besok." Ucapnya memberi perintah. Tak banyak bertanya mereka langsung mengangguk. Sean ingin membuat Bri merasa nyaman dan tidak tertekan di rumah ini. Oleh karena itu Ia akan memerintahkan dua penjaga saja untuk menjaga Sabrina.
__ADS_1
Dua orang sedang makan malam bersama di sebuah ruangan mewah. Sean sesekali melirik Sabrina. Gadis itu tampak tak berselera. "Kenapa Sayang? Ada yang salah dengan makanannya?" Tanyanya. "Tidak. Hanya masih merasa kenyang saja. Tadi aku sudah makan banyak pizza." Jawabnya pelan. "Tapi akan aku makan. Kasihan yang sudah lelah menyiapkan." Ucapnya kemudian memotong daging steak itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Semenjak Sabrina disini Sean selalu makan di rumah. "Pelan pelan." Tuturnya tersenyum sambil mengusap lembut kepala sang gadis pujaan.