
Adrian berkali kali berdecak kesal tidak mendapat jawaban atas pertanyaan yang Ia ajukan pada Sahabatnya. Pria itu minta di antar ke suatu tempat namun tidak memberi tahu dengan jelas tempat apa yang ingin di kunjungi. "Sebenarnya kita mau kemana?" Tanyanya lagi sambil fokus ke jalan. "Ke Mall." Jawab Sean dengan santai membuat lawan bicaranya menggerutu dan mengumpat dalam hati.
__ADS_1
Sampai di Mall terbesar di pusat kota Adrian mengikuti langkah tegap Bosnya. Pria itu hendak membeli sesuatu untuk sang istri. Biasanya hanya tau menyuruh saja. Namun semenjak Bri hamil Sean mulai terbiasa membeli apa apa sendiri. "Kita mau cari apa? Yang jelas. Jangan daritadi muter muter." Ucap Adrian kesal sedaritadi harus mengelilingi Mall namun Sean tak berhenti juga. "Mau beli buah lengkeng." Jawabnya membuat Pria di belakangnya membulatkan mata karena mereka sudah melewati beberapa tempat yang menjual buah. "Sabrina menginginkannya?" Tanya Adrian memilih untuk menahan emosi. "Tidak. Hanya aku ingin membelikannya saja." Jawab Sean. "Dimana tempatnya?" Lajut pria itu bertanya. "Dasar bos laknat." Gerutunya sambil mendahului untuk menunjukkan jalan. "Aku mendengarnya Dri. Jangan sampai aku potong gajimu tinggal separuh." Ancam Sean mampu membuat Adrian seketika langsung minta maaf.
__ADS_1
Sean memilih berbagai macam buah buahan sementara Adrian dan satu orang lainnya mengikuti sembari mendorong troli. "Sudah 2 troli penuh. Apa belum cukup? Siapa yang akan menghabiskan semua ini? Apa kamu sudah tanya Sabrina apa yang dia inginkan?" Tanyanya bertubi tubi. Sean membalikkan badan menatap sang Asisten yang begitu cerewet. "Tidak bertanya. Aku telpon tidak diangkat. Jadi aku beli semuanya biar bisa dipilih." Jawab Pria itu sembari melanjutkan lagi kegiatannya. Adrian hanya pasrah tak mau menegur. Sean terbiasa bertindak sesuka hati. Dia tak mau mendengar apa yang orang lain katakan selain orang tua dan tentu saja istrinya. Mendapatkan Bri bukanlah hal yang mudah. Untuk itu Sean begitu lunak dan tunduk pada wanita luar bisa itu.
__ADS_1
Selesai mandi Sean menghampiri Sabrina yang sedang mengaji. Wanita itu tampak fokus sehingga tak menyadari kedatangan suaminya. "Sudah selesai?" Tanya Sean saat Sang istri menutup Al quran yang sedang di baca. "Sudah." Jawab Sabrina sambil tersenyum. "Sayang. Kita punya anak satu saja ya." Ucap Sean tiba tiba membuat Bri mengerutkan keningnya. "Kenapa? Apa tidak kasihan kalau anak kita tidak punya teman bermain? Pasti kesepian. Aku juga merasa begitu Dad." Jawabnya karena dia juga anak tunggal. "Biarkan nanti main sama anak Victor atau Adrian. Cukup satu saja jangan tambah lagi." Sean memeluk istrinya sembari mengecup pundak wanita itu. Niat hidup hanya berdua dengan sang istri gagal karena hadirnya sang buah hati. Tentu saja sean sebenarnya tak menghendaki itu terjadi. Namun melihat Sabrina begitu antusias untuk memiliki anak Sean mengabulkannya. Hanya satu, tidak lebih.
__ADS_1
Sabrina memberi makan ikan ikan di akuarium besar dari atas tangga menuju lantai dua ditemani suaminya. Sean memeluk tubuh sang Istri dengan posesif sembari meletakkan dagunya pada pundak wanita itu. "Sayang." Panggi Sean begitu lembut. "Iya." Jawab Sabrina. "Siapa laki laki pertama yang kamu cintai?" Tanyanya. "Ayah." Jawab Bri cepat. "Bukan itu maksudnya. Pria lain selain Ayah. Sebelum Daddy." Jelas Sean. "Tidak ada. Sekali jatuh cinta ya sama suami sendiri." Sean tersenyum mendengar jawaban Istrinya. "Bener? Nggak ada yang lain sebelum Daddy?" Bri tampak mengangguk. "Aku menikah baru jatuh cinta Dad. Kalau orang kebanyakan jatuh cinta dulu baru menikah." Jawabnya jujur. "Sepeti Daddy. Sekali jatuh cinta sama kamu lalu menikah." Sean mengeratkan pelukannya. "Iya kah? Selain aku Daddy tidak pernah jatuh cinta sebelumnya." Sabrina sedikit tidak percaya. "Kamu tau kerasnya Daddy. Kak Tamara juga pernah cerita kan bagaimana Daddy terhadap perempuan. Jijik dan sebisa mungkin menghindari. Namun pertama kali Daddy lihat kamu Daddy tidak merasakan hal itu. Daddy langsung merasa nyaman dan suka." Ucap Sean bersungguh sungguh sembari mengecupi pipi sang istri. Sabrina hanya mengangguk lalu meneruskan kegiatannya memberi makan ikan.
__ADS_1