Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Apa Yang Disembunyikan?


__ADS_3

Sabrina sedang sendiri di rumah sementara suaminya bekerja. Wanita itu hanya ditemani para penjaga dan beberapa pelayan. Mereka bukan orang sini. Kemungkinan para pekerja Sean yang dulu. "Bibi." Ucapnya memanggil salah satu dari mereka yang sedang sibuk di dapur. "Iya Nyonya." Jawabnya sambil menunduk. "Duduk. Aku mau bicara. Temani aku mengobrol. Aku kesepian." Ucap Sabrina. Pelayan itu mengangguk namun tetap tidak duduk karena Tuannya melarang untuk terlalu dekat dengan sang istri. "Duduklah Bi. Tidak apa." Sabrina meraih lengannya untuk diajak duduk. "Baik Nyonya." Jawabnya menurut.


Keduanya diam beberapa saat. "Nama Bibi siapa?" Tanya Sabrina. "Nama saya Ana Nyonya." Jawabnya takut takut. "Jangan takut begitu. Tidak ada yang mengintimidasi Bibi disini." Ucapnya. 'Tuan Nyonya. Anda tidak mengetahui betapa kejamnya dia.' Batin wanita itu dalam hati. "Bibi. Aku mau tanya suatu hal. Kenapa disini sangat dijaga ketat?" Tanya Sabrina. Wanita itu tau tapi enggan menjawab. Ia tak mau melampaui batasnya. Pekerjaannya hanya untuk melayani dan menjaga Sabrina tidak lebih. "Maaf Nyonya. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Nyonya." Jawabnya. "Bibi. Saya tidak akan bilang siapapun." Kata Sabrina menggenggam tangan wanita itu. Ana tetap menggeleng. Disini banyak penyadap dan kamera yang terletak di setiap sudut. "Baiklah." Bri tersenyum. Ia menghela napas. Teka teki belum terpecahkan. Pasti banyak hal yang sedang di sembunyikan oleh suaminya itu.

__ADS_1


Sabrina berjalan untuk mengusir rasa bosannya. Mansion ini begitu besar hingga dari awal datang Ia belum melihat secara keseluruhan. Manik mata wanita itu tertuju pada pintu bercat hitam yang terletak tidak jauh dari tempatnya saat ini berdiri. Ia terus melangkah maju. Tangan lembutnya memegang handle pintu dan mendorongnya ke depan hingga terbuka lebar. Ia menuruni tangga satu persatu. Hawanya begitu mencekam dengan ruangan yang minim penerangan. "Sayang." Suara itu membuat Sabrina berhenti padahal beberapa langkah lagi menuju dasar. "Kamu kenapa disini?" Tanya Sean buru buru menghampiri istrinya dan mengajak keluar. Ia mengunci pintu itu dengan segera. "Ada apa di dalam?" Tanya Sabrina penasaran. "Hanya tempat gym." Jawab Sean segera menggandeng tangan istrinya menjauh dari sana.


Sean menghela napas. Pria itu duduk di dekat sang istri sambil menggenggam tangan wanita itu dengan erat. "Jangan pernah masuk kesana. Daddy tidak mengizinkan. Jangan bertanya kenapa? Karna itu tidak ada jawaban." Ucapnya. "Kamu paham kan?" Tanyanya sambil mengusap pipi merona itu dengan lembut. Sabrina hanya bisa mengangguk. "Aku tidak mau ada pelanggaran. Jangan membantah segala yang Daddy ucapkan." Lanjutnya lagi membawa tubuh istrinya dalam pelukan.

__ADS_1


Sean menghampiri istrinya di kamar. Wanita itu tampak sibuk dengan laptopnya. "Sayang." Sean duduk di depan Sabrina. "Ya." Jawab wanita itu sambil mendongak. "Berhentilah menulis buku. Aku tidak suka." Ucapnya. "Tapi kenapa? Ini tidak mengganggu kan?" Tanya Sabrina. "Memang tidak. Tapi aku tidak suka. Berhentilah menulis." Tegasnya sambil membentak membuat Sabrina terperanjat. "Kenapa?" Tanyanya sambil menunduk. "Tidak ada alasan yang harus Daddy jelaskan. Pokoknya tidak ada menulis lagi. Hapus akun media sosialmu semuanya. Fungsikan ponsel hanya untuk menerima telpon dari nomor yang ada di sana. Selain itu tidak boleh tanpa seijin ku." Kata Sean menutup laptop istrinya dan membawa pergi.


Sabrina menangis dalam diam. Tidak boleh keluar, tidak boleh menulis. Kenapa? Apa yang mendasari Sean melakukan semua ini padanya. Bertanya pun suaminya tak akan menjawab. Ia akan mencari tau sendiri seiring dengan berjalannya waktu. Perlahan rasa kantuk mulai datang. Wanita itu memejamkan matanya dan tidur dengan tenang.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka lalu tertutup kembali saat seorang pria telah masuk ke dalam. Sean menghampiri istrinya dan duduk di ranjang dengan hati hati. Ia melepas pakaiannya hanya menyisakan boxer. Ia mendekap tubuh Sabrina dengan hangat. Mencium bibir mungil itu dengan sangat lembut hingga membuat empunya yang sedang tertidur pulas tak terusik sama sekali. Tangan Sean terulur membelai pipi istrinya. Mata wanita itu tampak sembab dengan hidung yang memerah. "Maafkan aku. Entah apa yang terjadi ketika kamu mengetahui semua fakta. Tapi aku tidak akan melepaskan mu. Aku mencintaimu. Sangat. Tidak akan aku biarkan kamu pergi. Bahkan ketika kamu membenciku nantinya." Gumam Sean menatap wajah rupawan sang istri.


__ADS_2