
Hari ini Sean mengantarkan istrinya ke dokter kandungan. Pria itu menggandeng tangan Sabrina menuju mobil yang sudah di siapkan. "Pelan pelan." Ucapnya sambil membukakan pintu dan membantu istrinya duduk.
"Tangannya di lepas Dad. Pegang setir semua." Tegur Bri karena Sean menyetir dengan satu tangan dan tangan lainnya menggenggam tangan sang istri. "Kenapa sih Yang. Cium kan nggak boleh. Masa begini juga nggak boleh?" Tanyanya. "Bukannya nggak boleh. Takut saja kalau terjadi sesuatu." Jawab Bri. "Nggak akan. Aku tuh sudah ahli Yang." Ucapnya sambil tersenyum.
Sean dan Istrinya masih menunggu untuk di panggil. "Kenapa nggak bikin janji kaya biasanya aja sih Yang." Keluh Sean harus duduk menungggu. "Biar merasakan kaya Ibu ibu yang lain." Jawab Bri sambil tersenyum. Bosan rasanya datang di periksa dan pergi. Sesekali Ia ingin mengantri seperti yang lain.
Sabrina berbaring mendengarkan penjelasan dari dokter. Wanita itu tampak bahagia karena janin dalam kandungannya sehat dan baik baik saja. "Mau lihat jenis kelaminnya sekalian?" Dokter menawarkan. "Biar jadi kejutan Dok." Jawab Bri ambil tersenyum.
__ADS_1
Sampai di rumah Bri langsung menuju dapur karena suaminya sedang mengobrol dengan Ayah. "Gimana cucu Bunda?" Tanya wanita yang sedang sibuk memotong buah buahan itu. "Sehat Bun, Alhamdulillah." Jawab Bri mengusap perutnya. "Alhamdulillah. Cewek atau cowok?" Sabrina menggeleng sambil tersenyum. "Tidak di periksakan soal itu Bun. Biar jadi kejutan." Jawabnya membuat Bunda mengangguk. "Bunda lagi bikin apa?" Tanya Bri. "Rujak. Kamu katanya mau rujak." Bri mengernyitkan keningnya bingung. "Sean yang bilang sama Bunda." Lanjut wanita itu pada akhirnya membuat Bri paham.
Setelah mandi Sean menuruti keinginan Sabrina. Keduanya kini sudah berada di halaman belakang yang di tanami beberapa Tamanan buah. "Mau mangga yang mana Yang?" Tanya pria itu berjalan menggandeng tangan istinya. "Bukan mangga Dad. Aku maunya sawo. Itu lo." Tunjuk Bri pada pohon berbuah lebat yang tak jauh di depan mereka. "Yang mana yang bisa di makan?" Tanya Pria itu tidak mengerti. "Yang buahnya sudah empuk itu mateng." Jawabnya. Sean mengangguk kemudian memencet satu per satu buah coklat dengan rasa manis itu.
"Kalian sedang apa?" Tanya Ayah menghampiri anak dan menantunya. "Mau sawo Yah." Jawab Sean. "Sudah dapat?" Sabrina mengangguk menunjukkan keranjang buah yang di bawanya daritadi. "Baru dapat lima Yah." Jawab Sean. "Sini Ayah bantu carikan."
Sean menghampiri istrinya yang sudah berbaring di ranjang. Pria itu mengungkung tubuh Sabrina yang masih tetap ramping dan sekseh. "Boleh ya." Tanyanya meminta izin sembari mengecup bibir mungil nan lembab milik Bri. "Kemarin malam sudah." Jawabnya. "Daddy tidak akan pernah puas." Tanpa mendapat persetujuan Sean mulai mencumbu Istrinya dengan penuh gairah. Ia meloloskan semua pakaiannya dan pakaian sabrina hingga terpampang kemolekan tubuh mulus sang istri.
__ADS_1
"Daddy mulai." Kata Sean memasukkan miliknya dengan pelan hingga tenggelam sempurna. Pria itu menggerakkan pinggulnya dengan begitu lembut karena istrinya sedang hamil sekarang. Ia takut jika sabrina nanti akan kesakitan. "Auh...Sempit Sayang. Ini sangat nikmat." Rancunya merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa.
Sean menggulingkan tubuh kekarnya yang di penuhi peluh percintaan mereka di samping sabrina. Ia mendekap tubuh ramping yang masih polos itu dengan hangat. "Sudah ngos ngosan begitu masih belum capek Dad?" Tanya Bri memperhatikan napas suaminya yang naik turun namun pria itu dengan nakal menggesekkan pusakanya di paha Bri. "Sudah lelah. Tapi masih ingi lagi." Jawab Sean sambil tertawa kecil. "Satu kali lagi ya." Ucap pria itu memulainya lagi.
Sean memandikan istrinya. Pukul 1 malam mereka baru selesai dengan kegiatan panas yang penuh gairah. Pria yang masih mengenakan bathrobe nya itu menyabuni tubuh sabrina dengan lembut. Sean tadi memang mandi duluan membiarkan istrinya berbaring dengan nyaman di ranjang. "Daddy." Tegur Bri saat tangan nakal Sean meraba miliknya. "Beberapa jam lagi sahur. Daddy tidak boleh macam macam." Lanjutnya. "Iya Sayang." Jawab pria itu sambil tersenyum.
Sabrina sudah berpakaian. Ia akan tidur sebentar karena begitu mengantuk. Suaminya tak membiarkan Ia istirahat saat malam. Tidak boleh berciuman dan bermanja di siang hari membuat hasrat pria itu tertahan dan meledak ketika sudah malam dan mau tak mau Sabrina sebagai istri melayaninya dengan baik. "Tidur dulu. Daddy sudah atur alarm sahur." Ucap Pria itu memeluk istrinya setelah memberikan kecupan lembut di bibir wanita itu.
__ADS_1