Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Imam


__ADS_3

"Kamu bangun sayang?" Tanya Sean melihat istrinya membuka mata. "Hm. Jam berapa?" Tanya Sabrina. "Jam 3." Jawab Sean sambil tersenyum. "Aku mau sholat dulu." Ucapnya sambil duduk. "Biar Daddy yang jadi imamnya." Kata Sang suami membuat Sabrina senang dan terkejut dalam satu waktu. "Daddy sudah menghafal bacaan dan gerakannya. Kamu jangan ragu. Terakhir praktek kan Daddy benar semua." Lanjut Pria itu sembari memperlihatkan buku catatan belajarnya yang menunjukkan progres dari waktu ke waktu.


"Terimakasih." Sabrina memeluk suaminya dengan erat setelah selesai sholat. Ia sangat bahagia kini Sean benar benar mewujudkan impiannya untuk sholat berjamaah dengan suami sebagai Imam. "Sama sama Sayang." Balas Pria itu sembari membalas pelukan sang istri dengan erat.


Sean mengajak istrinya untuk jalan jalan di taman belakang. Pria itu menggenggam erat tangan sang istri tak membiarkan terlepas barang sedetik saja. "Daddy." Panggil Bri sambil terus berjalan santai. "Ya Sayang. Kamu mau sesuatu?" Tanyanya Sean dengan lembut. "Memangnya boleh?" Tanya Sabrina. Sean mengangguk. Sepekan tak bertemu dengan Sang istri membuatnya frustasi. Dan kini saat mereka telah bersama lagi Ia akan menuruti kemauan Sabrina. "Mau jajan nanti malam boleh?" Tanya wanita itu sembari menatap suaminya. "Di rumah saja. Biar Daddy suruh orang belikan apa yang kamu mau." Jawab Sean sambil memeluk istrinya. Ia tak mau kehilangan Bri untuk yang kesekian kalinya. Meskipun sudah berdamai dengan Victor, banyak kemungkinan kemungkinan lain yang akan memisahkan mereka dan Sean tak mau itu terjadi.


Karena hanya ingin menikmati waktunya bersama sang Istri. Sean benar benar menutup akses mansion nya. Tak seorang pun boleh berkunjung bahkan Kakaknya sendiri. Pria itu sudah menolak kedatangan Victor dan Adrian bersama anak anak mereka. Sekarang Ia juga tak memperbolehkan Tamara datang. Semua ponsel dan telpon Ia matikan agar istrinya tak menerima panggilan dan pesan dari wanita cerewet itu. Gerbangnya yang menjulang tinggi terkunci dengan rapat bagai tak ada penghuni.

__ADS_1


"Semua sesuai keinginan kamu kan sayang?" Tanya Sean yang sekarang sedang duduk bersama istrinya. Bri mengangguk kemudian mengambil jagung rebus dan memakannya. "Daddy mau?" Tawarnya. Sean hanya menggeleng sambil tersenyum. Ia mengelus kepala istrinya dengan penuh kasih.


Sean tersenyum melihat istrinya sudah tertidur pulas di sofa padahal baru saja Ia tinggal sebentar untuk mengambil air dan Vitamin. "Cepat sekali bobonya." Gumam pria itu kemudian mengangkat tubuh Bri perlahan untuk dipindahkan ke kamar.


Sampai di kamar Sean meletakkan tubuh istrinya perlahan. Ia kemudian mengganti pakaian Sabrina dengan piyama setelah membersihkan wajah, tangan dan kaki wanita itu. Sean melepaskan kaosnya kemudian ikut berbaring memeluk sang istri dengan hangat.


Sean menuruti keinginan sang istri untuk pulang ke rumah mertuanya. Kini keduanya sudah sampai dan di sambut ramah oleh para pekerja disana. "Nduk lama nggak pulang. Bibi kangen." Kata Wanita paruh baya itu sembari memeluk Bri dengan erat. "Maaf Bi. Bibi dan semuanya sehat kan?" Tanya Sabrina. "Alhamdulillah Sehat. Yasudah Nduk istirahat ya." Bri mengangguk kemudian segera mengajak suaminya ke kamar.

__ADS_1


Sabrina langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Ia begitu merindukan kamarnya. "Kangen kamar ya?" Tanya Sean ikut berbaring sambil memeluk sang istri. "Iya. Kangen." Jawab Sabrina sambil tersenyum senang. "Kalau Daddy kangen kamu. Bagaimana?" Tangan Sean yang tadinya memeluk kini sudah bergerak liar. "Daddy sudah tidak tahan lagi sayang." Ucapnya begitu serak.


Sean benar benar tak membiarkan istrinya istirahat. Ia menggempur Sabrina habis habisan. Penyatuan mereka baru berakhir beberapa menit yang lalu. Kini Sean sedang memeluk tubuh istrinya yang masih polos di bawah selimut. "Daddy. Mau mandi." Ucap Bri. "Nanti dulu sayang. Istirahat dulu saja. Mandinya nanti." Jawab pria itu mendekap tubuh sang istri lebih erat lagi.


Setelah selesai mandi Sabrina dan Sean makan bersama satu piring. Wanita itu meniup nasi yang sudah ada di sendok kemudian menyuapkan pada suaminya. "Dad. Ada telpon." Kata Bri melihat ponsel suaminya bergetar. "Biarkan." Jawab Sean. "Angkat dulu. Siapa tau penting." Pria itu tetap menggeleng kemudian mematikan ponselnya. "Huek..." Sabrina menutup mulutnya kemudian bergegas pergi ke kamar mandi.


"Sayang kamu sakit?" Tanya Sean memijit tengkuk sang istri pelan. Sabrina terus muntah muntah membuat suaminya panik. "Daddy panggil dokter." Ucap Pria itu langsung mendapat penolakan. "Tidak perlu Dad. Mau istirahat saja." Jawab Bri.

__ADS_1


__ADS_2