Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Wanita Spesial


__ADS_3

Sabrina duduk dengan cepat mengabaikan rasa pusing yang dirasakannya saat ini. Baru saja hendak beranjak dari ranjang sosok pria tiba tiba muncul di balik pintu. "Kamu sudah bangun?" Tanyanya masuk diikuti beberapa pelayan yang menyajikan makanan di atas meja. Mereka segera pergi meninggalkan ruangan setelah tugas telah selesai.


"Siapa kamu? Dimana aku? Aku mau pulang." Kata Sabrina bertubi tubi. "Aku sahabat suamimu. Victor. Apa Sean tidak pernah bercerita tentang bagaimana dekatnya kita dulu sampai dia menghancurkan hidupku karena sikapnya." Jawab Pria itu kemudian duduk di sofa menghadap Sabrina yang masih duduk di ranjang. Ia menelisik penampilan wanita yang begitu tertutup dan sopan itu. Sabrina mencoba mengingat ingat. Ia tau nama itu. Pernah sekali di ceritakan suaminya. Victor merupakan kakak dari seorang gadis yang bunuh diri itu. "Untuk apa kamu membawaku kesini?" Tanya Bri. "Untuk memberikan Sean pelajaran. Agar pria itu bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan." Jawabnya.


Beberapa saat mereka sama sama diam setelah bertukar pertanyaan dan Jawaban. "Makanlah." Kata Victor. "Aku tidak lapar. Aku mau pulang." Jawabnya. "Jika kau bisa. Kau tidak sadar ini dimana??" Tanya Pria itu sembari menyunggingkan senyuman. Sabrina seketika menuruni ranjang lalu berlari menuju pintu dan membukanya namun gagal. "Percuma. Tidak akan berhasil. Daripada kamu sakit mending duduk diam dan makan." Kata Victor. "Ku mohon pulangkan aku." Sabrina terduduk bersandar di daun pintu sembari menangis sebenarnya mampu membuat Victor iba. Namun sebisa mungkin Pria itu meneguhkan hatinya agar tidak rapuh oleh wanita spesial milik rivalnya itu. "Pantas saja anakku tergila gila denganmu. Melihatmu seperti ini. Aku tidak heran." Bri mendongak menatap Victor meminta penjelasan dari pria itu. "Nanti kamu akan tau." Jawabnya seolah tau apa yang sedang di pikirkan Sabrina.

__ADS_1


Semua usaha tak membuahkan hasil. Sabrina duduk diam. Tidak ada yang bisa Ia lakukan selain berdoa. "Nyonya." Ucap Seorang wanita masuk menemui Sabrina. "Ada apa?" Tanya Bri. "Saya akan membantu Nyonya untuk mandi." Jawabnya. "Tidak perlu. Aku akan mandi sendiri. Em...Jika boleh. Aku minta mukena dan al quran." Ucapnya langsung mendapat anggukan.


"Bagaimana?" Tanya Victor saat pelayan yang diutusnya keluar dari kamar. "Nyonya minta mukena dan Al quran Tuan." Jawabnya. Pria itu mengangguk. "Minta beberapa orang untuk membelinya. Belikan yang terbaik." Titah Pria itu langsung dilaksanakan.


"Mami." Panggil seorang gadis membuat Sabrina terperanjat. Wanita itu masih memakai mukenanya setelah selesai sholat kemudian mendongak menatap Violet yang tersenyum lebar berlari menuju ke arahnya diikuti Victor yang berjalan santai di belakang. "Dia anakku." Ucap Pria itu mengerti dengan tatapan Sabrina. "Vi senang ketemu Mami." Ia memeluk erat wanita yang sudah di anggap Maminya sendiri. Hubungan mereka begitu dekat. Sabrina juga tidak keberatan dengan panggilan itu. "Mami juga senang ketemu kamu." Jawab Bri mengusap punggung gadis itu dengan lembut. "Ajak Mami untuk makan Vi. Dia tidak menyentuh makanannya sama sekali " Kata Victor.

__ADS_1


Sabrina baru mau makan setelah melihat usaha gencar yang di lakukan Violet. Gadis kecil itu terus membujuknya sedaritadi membuat Ia tak tega. "Mami sudah kenyang Sayang." Ucapnya. "Perut Mami sudah penuh?" Tanya sang putri membuat Victor ingin sekali tertawa kencang. "He'em." Jawab Sabrina sambil tersenyum. "Kalau begitu. Kita tidur ya Mi. Vi ingin tidur dengan Mami." Ucapnya dengan penuh semangat.


Tepat tengah malam Victor memasuki kamar Sabrina. Hati pria itu menghangat melihat dua orang yang tidur saling berpelukan. Tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu sejak lahir membuat hidup Vi begitu malang. Gadis itu tak mempunyai tempat bahagia dan bercerita seperti anak anak sebayanya. Sementara Victor sibuk dengan urusannya tak bisa memberikan waktu yang cukup untuk putri semata wayangnya.


Di sisi lain Sean masih berusaha mencari istrinya. Kekejaman pria itu semakin menjadi. Bahkan Ia kini juga menyentuh alkohol lagi untuk mengatasi rasa frustasinya karena kehilangan sang istri. "Sean berhentilah minum." Kata Tamara merebut botol whisky yang di genggam erat adiknya. "Kakak tidak tau bagaimana perasaanku." Ucapnya sendu karena Sabrina belum juga ditemukan. "Sabar Sean. Kita terus berusaha." Tamara memeluk adiknya yang sedang rapuh karena kehilangan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2