
Sabrina sedang memakaikan dasi suaminya. "Kamu jadi beli perlengkapan bayi sama Bunda sayang?" Tanya Sean. "Jadi tapi tidak sekarang juga Dad. Lain waktu." Jawabnya sembari merapikan kerah kemeja Sean. "Sudah selesai. Ayo berangkat." Lanjutnya membantu Pria itu berdiri. "Jangan sampai batal Dad puasanya. Niatnya harus dari sini biar tahan godaan apapun." Tutur Bri mengusap dada Sang Suami saat Sean memeluknya. "Iya. Nggak akan batal kok Sayang." Jawab Sean lembut sembari mengusap punggung Sabrina.
Sean mencium kening istrinya saat sudah sampai di depan rumah. "Daddy berangkat dulu." Ucapnya. "Iya. Hati hati." Bri mencium punggung tangan pria itu. "Iya. Assalamualaikum Sayang." Sean bergegas berjalan menuju mobilnya yang sudah di siapkan. "Waalaikumsalam." Jawabnya.
__ADS_1
"Astagfirullah Bunda bikin kaget." Kata Bri mengelus dada karna terkejut saat membuka pintu tiba tiba Bunda sudah berada di depannya. "Suamimu sudah berangkat?" Tanya Wanita itu. "Sudah Bun baru saja." Jawab Bri. "Bunda lagi mau bikin kue putu Ayu. Ayo bikin bareng." Ajaknya. Bri mengangguk kemudian berjalan di gandeng Bundanya.
Baru saja duduk dengan nyaman di kursi kerjanya Sean di buat berdecak dengan pintu ruangannya yang di buka paksa oleh dua orang. "Sean." Panggil Victor dan Adrian berjalan mendekat ke arah sahabatnya. "Ada apa?" Tanyanya santai. "Birkan Vi dan Andre ketemu istri kamu. Pusing aku tiap hari mereka merengek. Bukan hanya merengek Vi malah nangis." Kata Victor. "Nggak ada ketemu ketemu. Oh boleh, lebaran nanti." Jawab Sean sambil membuka berkasnya. "Tega banget kamu. Nggak berperikemanusiaan. Sahabat macam apa kamu." Kesal Adrian. "Heh. Bilang apa kamu?" Sean tidak terima. "Lagi puasa kan? Nggak boleh emosi. Lagian orang puasa itu harus baik. Kasih izin anak anak kita ketemu Bri." Adrian terus membujuk sahabatnya itu.
__ADS_1
Siang hari Sean pulang tapi tidak sendiri. Pria itu membawa kedua sahabatnya beserta masing masing anak mereka. "Mama." Adrian dan Vi langsung memeluk wanita yang sedang membaca Al quran itu. "Kita kangen Mama." Ucapnya. "Hey. Mama juga kangen. Sekarang ketemu kan. Jangan menangis." Kata Bri mengusap air mata Vi. "Kalian puasa?" Lanjut wanita itu bertanya. "Puasa Ma." Sabrina mengangguk sambil tersenyum. "Kalau Om?" Tanya Bri pada kedua sahabat suaminya. "Puasa dong Bri. Masa kalah sama anak anak." Adrian tertawa kecil baru kali ini Ia berpuasa karena anaknya juga mulai puasa.
Sabrina sedang tidur berdua di kamar dengan Vi dan juga Andre. "Pengganggu." Keluhnya ikut tidur sambil memeluk sang istri dari belakang. Sean tak mau diam. Ia perlahan menyingkirkan lengan Vi yang memeluk Istrinya. "Um." Sabrina menggeliat merasakan tidurnya terusik. "Daddy." Ucap wanita itu. "Pindah tidur yuk. Disini nggak nyaman." Kata Sean bangun lalu menggendong istrinya.
__ADS_1
Sore hari semuanya sedang berkumpul di taman belakang. Sean dan yang lain hanya mengawasi Bri yang berjalan jalan di gandeng dua anak anak sahabatnya itu. "Kalau punya dua anak enak kan kiri kanan ada yang gandeng." Celetuk Victor saat Sabrina datang. "Aku bagian yang mana kalau kanan kiri ada." Kesal Sean. "Yang tua ngalah." Jawab Victor sambil tertawa. Ia paham Sean yang cemburu dan tak mau berbagi bahkan dengan anaknya sendiri.
Buka puasa tampak ramai. Sabrina makan sambil menyuapi Andre dan Vi. Wanita itu tidak lagi menyuapi suaminya seperti kemarin kemarin karna kedatangan dua bocah pengacau itu. "Sudah puas ketemu Mama?" Tanya Ayah Sabrina. "Belum Opa. Boleh tidak Mama Vi bawa pulang?" Tanyanya. "Ya jangan dong. Om Sean uring uringan nanti." Jawab Bunda. "Istri Om mau kamu bawa pulang ya nggak boleh dong. Suruh Papa nikah lagi kalau kamu pengen Mama." Sean menyarankan. "Vi cuman mau sama Mama sabrina." Jawab Gadis kecil itu membuat Sean menghela napas. "Victor. Adrian. Apa kalian nggak pengen nikah lagi?" Tanya Bunda. "Kalau aku nggak pengen Kak. Entah kalau Adrian." Jawab Victor. "Hehe. Aku juga nggak pengen sih. Nyaman sama anak saja nggak banyak konflik. Sakit hati masih membekas. Enggan buat berumah tangga lagi." Kata Pria itu. "Iya. Senyaman nya gimana aja di jalani." Kata Ayah memberikan saran. Menurut pria itu kenyamanan dan kebahagiaan lebih penting daripada apa apa harus di paksakan.
__ADS_1