
Sean sedang menemani istrinya yang sibuk membuka kotak hantaran lamaran dan Mas kawin yang belum sempat di buka. "Sebanyak ini. Bisa jadi toko perhiasan." Ucap Wanita itu membuat suaminya tersenyum. "Masa pemberian dari Daddy mau kamu jual Sayang?" Sabrina dengan cepat menggeleng. "Tidak. Tidak akan dijual." Jawabnya. "Sini Daddy pakaikan." Sean mengambil satu kalung berlian cantik kemudian memakaikan di leher sang istri. "Pas di leher kamu yang mulus." Ucap pria itu mengecup lembut leher jenjang Bri. "Lepas kembali Mas." Kata Sabrina. "Kenapa Sayang? Tidak suka ya?" Tanya Sean. "Jika tidak suka yang lain saja. Kamu mau seperti apa Daddy belikan." Lanjutnya. "Bukan. Di simpan saja. Nanti kalau rusak. Aku juga tidak terbiasa menggunakan perhiasan." Jawabnya. Sean mengangguk kemudian melepaskan kalung itu dan meletakkannya di dalam kotak.
Sabrina berlanjut membuka kotak selanjutnya yang berisi skincare lengkap dengan Make-up juga. "Aku tidak tau apa skincare kamu Sayang. Karena ternyata kamu tidak pakai apa apa. Makannya asal beli saja. Itu merk terbaik. Semoga cocok di kamu." Kata Sean masih dengan posisi duduk bersila memangku istri kecilnya. "Ayo di coba." Ucap Pria itu. "Hah?" Sabrina menoleh pada suaminya. Sean mengambil facial wash kemudian menggendong istrinya menuju kamar mandi.
__ADS_1
Pria itu mengikat rambut istrinya kemudian membasahi wajah Sabrina dengan air. "Aku bisa sendiri Mas." Keluh Bri. "Kamu lupa kalau setiap hari Daddy yang mandikan? Nanti kalau cuci muka sendiri akan pedih di mata." Ucap Sean menggoda. "Mandi itu kamu yang memaksa Mas." Sabrina cemberut kesal di buat suaminya. "Jangan cemberut begitu Baby. Istri Kecilku sangat menggemaskan sekali." Kata Sean mulai mengaplikasikan foam lembut di wajah istrinya.
Selesai mencuci wajah Sabrina Sean mendudukkan istrinya di sofa. Pria itu mengeringkan wajah putih mulus Bri dengan tissue. "Sekarang pejamkan mata. Daddy mau semprit toner dulu." Sabrina mengangguk kemudian memejamkan mata sesuai perintah suaminya. Sean tersenyum kemudian mengecup bibir istrinya. "Ih. Katanya mau di pakaikan itu." Ucap Bri protes dengan tingkah usil sang suami. "Iya. Kali ini benar benar." Kata Sean sambil tertawa. Sean menyemprotkan toner di wajah istrinya sambil meniup agar cepat kering. "Nah. Sekarang waktunya pakai serum." Sabrina tersenyum. Betapa hapalnya Sean dengan semua perawatan wajah ini. Maklum saja karena pria itu juga memakai skincare yang sama tapi khusus untuk pria. "Kenapa Sayang?" tanya Sean sambil mengaplikasikan serum dilanjut dengan krim malam di wajah istrinya. "Tidak. Hanya saja kamu tipe laki laki yang sangat perduli dengan penampilan." Jawab Sabrina jujur. "Harus. Istriku ini kan masih sangat muda dan cantik. Jadi harus terlihat muda juga untuk mengimbanginya." Sabrina mengangguk mendengar jawaban suaminya. "Mas pernah punya pacar atau menyukai seseorang?" Sean menggeleng cepat atas pertanyaan istrinya. "Satu satunya yang pernah singgah hati cuma kamu Sayang. Dan sampai kapanpun akan begitu." Kata Sean sambil membawa istrinya dalam pelukan.
__ADS_1
Sean bergegas menghampiri sang istri yang sudah ke kamar terlebih dahulu karena Ia tadi masih mengobrol dengan Ayah mertuanya. "Sayang." Panggilannya namun tak mendapat sahutan. Kamar juga tampak kosong. Hanya ada pintu balkon yang terbuka dan Sean bergegas kesana.
Pria itu tersenyum mendapati istrinya sedang sibuk dengan teropong bintang. "Sedang apa hm?" Tanya Pria itu memeluk tubuh ramping Sabrina dari belakang. "Sedang melihat bintang. Sangat cantik. Kamu mau melihatnya?" Tanya Sabrina dengan cepat suaminya menggeleng. "Masih cantik kamu." Jawab Sean sambil tersenyum. Pria itu membawa sang istri duduk dalam pangkuannya sambil memeluk erat. "Oh. Gerimis." Kata Bri melihat rintik hujan yang mulai turun. Tangan wanita itu terjulur ke pagar balkon menyentuh tetes air yang turun. "Kamu suka hujan sayang?" Tanya Sang lembut. "Suka. Tapi dari kecil tidak boleh main hujan. Pernah sekali dan aku demam selama seminggu. Jadi Ayah dan Bunda tidak memberi izin untuk hujan hujan lagi." Jawabnya. "Kalau begitu kita masuk dan tidur." Ucap Sean menggendong tubuh ringan istrinya. Pria itu meletakkan Sabrina di ranjang dengan hati hati kemudian menutup pintu pintu dan gorden. Sean melepas pakaiannya hanya menyisakan boxer saja kemudian ikut naik ke ranjang. Ia memeluk Sabrina membawa wanita itu untuk tidur di atas tubuhnya yang kekar. "Mas. Aku tidak nyaman begini." Keluh Bri. Sean tersenyum kemudian memiringkan posisi tidur dengan masih memeluk sang istri. Ia mencium bibir mungil itu dengan rakus kemudian mulai menepuk punggung Sabrina untuk tidur. Kata kata manis pria itu keluar hingga memejamkan mata mengikuti sang istri ke alam mimpi.
__ADS_1