
Sabrina dan Sean sudah sampai di kediaman Alexander sementara Ayah, Bunda masih pulang nanti karena ada beberapa hal yang harus di urus. Sean menggenggam tangan istrinya dengan erat begitu turun dari mobil. Keduanya mulai berjalan menapaki tangga hingga mencapai pintu utama. "Assalamualaikum." Ucap Sabrina ketika memasuki rumah. "Waalaikumsalam. Nduk Bri. Sudah pulang." Ucap Mereka. "Iya Bi." Balas Sabrina dengan senyumnya. Sementara Sean hanya tersenyum tipis kemudian mendatarkan ekspresinya seperti semula.
Selesai mengobrol sebentar dengan para pekerja di rumah Sabrina langsung mengajak suaminya menuju kamar. Ia tau Pria itu pasti sangat mengantuk. Semalaman Sean tidak tidur karena setiap kali membuka mata Sabrina mendapati suaminya itu masih terjaga. Sean terkesima dengan kamar sang istri. Sebuah ranjang super besar, sofa dan beberapa rak yang penuh dengan buku dan piala. "Itu ruang baca?" Tunjuk Sean pada ruangan yang dibatasi sekat kaca transparan. "Iya." Jawab Bri. Pria itu menelisik lagi. Semua hantaran dan mas kawinnya masih tertata rapi di atas meja dan ada juga yang di bawah karena sangat banyak. Sabrina menyuruh suaminya untuk istirahat. "Kamu mau kemana sayang?" Tanya Pria itu tak rela untuk berpisah. "Mau ke dapur sebentar. Nanti kembali lagi. Aku mau ambil minum sebentar." Jawabnya. "Hm. Baiklah." Kata Sean mengecup bibir mungil istrinya kemudian membiarkan wanita itu pergi.
__ADS_1
"Nduk." Bibi terkejut dengan kedatangan Sabrina yang tiba tiba. "Bibi." Jawabnya sambil tersenyum. "Bikin kaget." Ucapnya sambil mengelus dada. "Maaf Bi." Wanita itu tampak tertawa kecil. "Mau apa Nduk. Biar Bibi yang siapkan." Sabrina menggeleng. "Mau ambil minum saja kok Bi." Jawabnya sambil membuka kulkas mengambil dua botol jus dari sana. "Bri ke atas dulu Bi." Ucapnya berpamitan. "Iya Nduk." Jawabnya cepat. Wanita itu menggelengkan kepala selepas kepergian anak majikannya. Ia tau bagaimana Sabrina menikah. Apalagi dengan orang berwajah datar seperti Sean. Dalam sekali pandang saja sudah dapat di nilai Sean bukan orang yang ramah dan lemah lembut.
Sabrina masuk kamar dikejutkan pelukan erat. "Minum dulu." Ucapnya. Sean melepaskan pelukan kemudian mencium bibir istrinya. Bri mengajak suaminya untuk duduk di balkon. Pria itu menyandarkan kepalanya sambil minum jus yang dibawakan sang istri. "Minum sambil duduk yang baik Mas." Tegurnya membuat pria itu mendongak. "Iya. Duduk yang baik jangan sambil bersandar." Lanjutnya lagi namun Sean tak menghiraukan. Pria itu meletakkan jusnya di atas meja kemudian menggenggam tangan Sabrina. "Mas tau pernikahan kita bukan atas dasar saling cinta melainkan karena sebuah paksaan. Tapi percayalah Mas mencintai kamu. Sangat." Ucap Sean bersungguh sungguh sembari mengecup punggung tangan Istrinya. "Kamu suamiku. Sudah sepantasnya aku mencintaimu. Meskipun belum ada rasa itu. Tapi aku berusaha." Jawab Bri membuat Sean menegapkan duduknya. "Terimakasih sayang." Ucapnya sambil memeluk Sabrina dengan erat.
__ADS_1
Sean tidur sambil memeluk istri tercinta. "Hantarannya tidak mau di buka?" Tanya Pria itu. "Katanya mau tidur. Kenapa masih belum tidur juga?" Sabrina balik bertanya. "Iya ini mau tidur." Jawabnya mengecup bibir Bri kemudian segera memejamkan mata.
"Ayah. Bunda." Kata Bri melihat dua orang itu baru saja pulang. Sabrina mencium tangan mereka bergantian. "Baru pulang?" Tanyanya di jawab anggukan. "Suami kamu mana?" Tanya Ayah. "Lagi tidur Yah." Jawab Bri dan kedua orang itu mengangguk. "Biarkan dia istirahat. Ayah sama Bunda bersih bersih sebentar ya. Kita makan sama sama." Ucap mereka langsung mendapat anggukan.
__ADS_1
Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Sean juga sudah bergabung karena terbangun karena merasa istrinya tidak ada dalam pelukan. "Sean. Kamu nyaman kan disini?" Tanya Ayah Sabrina memulai obrolan. Ia tau menantunya itu masih canggung. "Nyaman Yah." Jawabnya sambil tersenyum. "Sayang ini apa?" Tanya Pria itu menunjuk mangkuk kecil yang berada di dekatnya. "Itu sambal. Kalau kamu tidak suka pedas jangan di makan." Jawab Sabrina. Sean melihat istrinya makan begitu nikmat dengan sambal membuatnya penasaran ingin mencoba. Ia mengambil seujung sendok dan memakannya dengan nasi. "Ouh pedas." Ucap Pria itu dengan wajah yang sudah memerah. Sabrina cepat cepat memberinya susu uht agar menetralisir rasa pedas. "Sudah di kasih tau." Gumam Bri membuat kedua orang tuanya menahan tawa.
Sean dan Sabrina kembali ke kamar setelah mengobrol sebentar dengan Ayah dan Bunda. Pria itu langsung menggendong istrinya dan meletakkan di ranjang dengan perlahan. Ia menciumi wajah Bri dan memeluk wanita itu dengan erat. "Kamu mau kita bulan madu kemana sayang?" Tanya Sean menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. "Mas menginginkannya?" Sabrina balik bertanya. "Jika kamu ingin Mas juga ingin. Mas menuruti apa kata kamu." Jawab Sean. "Mungkin lain kali. Untuk saat ini aku ingin di rumah saja Mas." Jawab Bri lirih. "Tidak apa. Kita di rumah saja." Sean tersenyum kemudian mengecup pipi sang istri sambil memeluk wanita itu.
__ADS_1