
Sabrina sedang melakukan panggilan Video bersama Ayah dan Bundanya. " Kemana saja kamu akhir akhir ini hanya mengirimi Ayah dan Bunda chat saja." Kata Pria di sebrang sana. "Sibuk Yah. Restoran sedang ramai. Yang penting kan Ayah sama Bunda dapat kabar dari Bri." Jawabnya. "Cepatlah pulang Nak. Bunda sama Ayah kangen kamu." Bri hanya bisa mengangguk. "Sudah dulu ya. Kalian istirahat saja. Jangan terlalu memikirkan aku. Nanti juga pulang kalau waktunya. Dada....Kalian sehat sehat ya. Love you. Assalamualaikum." Ucap Sabrina mengakhiri panggilannya saat stop watch di depannya berbunyi menandakan waktu telah habis. "Om Puas?" Tanyanya. Sean hanya tersenyum. Pria itu berdiri dari duduk mendekati Sabrina. "Ayo berkunjung ke rumah kakakku. Dia bilang dia merindukanmu." Ucap Sean sembari membantu Bri untuk berdiri.
Keduanya sudah sampai di rumah Kakak Sean. Gadis itu langsung di sambut pelukan hangat oleh Tamara dan Bella. "Ouh...Kami kangen. Sering seringlah main kesini." Ucap Wanita itu membuat Sean memutar bola matanya malas. Padahal baru kemarin mereka berkunjung. Sudah kangen katanya. Lebay sekali. "Iya Tante." Jawab Sabrina sambil tersenyum. "Kamu pandai memasak ya Bri. Ajari anak dan istri Om. Minimal beri tahu keduanya cara memotong sayuran yang benar." Bill terkekeh mengingat istri dan anaknya tidak tau apa apa masalah dapur karna pelayan sudah menyiapkan semuanya. "Iya Om." Jawabnya.
__ADS_1
Sean sedang duduk di ruang tengah bersama Iparnya membiarkan Sabrina yang sibuk di dapur bersama kakak dan keponakannya agar membuat gadis itu merasa nyaman. "Sebenarnya kalian pacaran atau apa?" Tanya Bill. " Tidak pacaran." Jawabnya. "Lalu?" Pria itu mengernyitkan kening menatap sang adik ipar. "Proses pendekatan. Selama dia masih menolakku dan selama itu aku tahan." Jawabnya membuat Bill membelalakkan mata. "Kau gila?" Tanyanya. "Memang. Kau tau aku lah kak. Kalau aku sudah menginginkan sesuatu maka aku harus mendapatkannya." Ucap Sean. Bill hanya bisa diam. Ia tau Iparnya itu sangat keras kepala dan tidak ada yang bisa menghentikan apa yang menjadi kemauannya. Sean hanya menurut pada almarhumah Mama dan Papanya. Selepas kedua orang itu meninggal tidak ada lagi yang bisa mengatasi.
Di sisi lain Sabrina sedang mengajari dua orang itu cara memasak. "Goreng kentang dengan api sedang dan terus diaduk agar matang merata." Ucap Sabrina memberi tahu. "Wah. Kamu pandai sekali memasak ya. Tante saja yang setua ini tidak tau apa apa." Ucapnya sambil terkekeh. "Mama terlalu banyak ngobrol sama temannya sih. Makannya nggak tau apa apa." Ucap Bella membuat wanita itu mendengus.
__ADS_1
"Enak." Ucap Bill diangguki oleh semua orang. "Iya. Pantas saja restoran kamu ramai." Ucap Tamara setuju dengan suaminya. "Sabrina. Kalau boleh tau apa keyakinanmu? Maksud tante agama." Tanyanya dengan hati hati. "Muslim. Aku seorang Muslim Tan." Jawabnya membuat Wanita itu tersenyum. Ia senang Sean mengenal gadis seagama karena sulit menjumpai disini. "Syukurlah kita sama. Dulu Tante sangat sulit untuk bertemu dengan orang seiman hingga akhirnya Tante bertemu dengan Om Bill. Dia seorang muslim juga." Ucapnya. Sabrina menatap Sean. Ia pikir pria itu non muslim karena tidak pernah sholat seperti yang Ia lakukan. Meskipun mengurungnya namun Sabrina di beri kebebasan untuk beribadah. Bri memang bermulut pedas karena terbawa oleh teman temannya. Namun soal kewajibannya beragama Ia tak pernah melupakan walaupun masih belum mengenakan Jilbab padahal orang tuanya sudah memaksa. Gadis itu tetap sholat. Sebenarnya orang tuanya yang agamis dia sih....biasa saja.
"Kita pulang dulu." Ucap Sean berpamitan. Tamara dan Bella memeluk Sabrina sebelum berpisah. "Sering seringlah main." Ucap wanita itu. Bri hanya bisa mengangguk menanggapi. Gadis itu tersenyum kemudian segera melangkah mengimbangi Sean yang menggandeng tangannya.
__ADS_1
Sampai di rumah Sean, Sabrina langsung masuk ke kamar. Gadis itu membersihkan diri sebentar lalu mengganti pakaiannya sekalian sholat ashar di ruang ganti. "Kenapa disini?" Tanya Sabrina melihat Sean sedang duduk di sofa. Mereka kan tidur di kamar terpisah. Sabrina tidak tau saja jika Sean sering menyusulnya tidur setiap malam dan memeluk saat gadis itu sudah di alam bawah sadar. "Hanya ingin disini saja." Jawab laki laki itu tersenyum melihat Sabrina masih mengenakan mukenanya. "Keluar." Ucapnya tegas. Sean tak gentar lalu mendekati gadis itu dan memeluknya dengan erat. "Biarkan seperti ini dulu." Ucapnya menikmati kenyamanan.