Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Bayi Kecilku


__ADS_3

Sabrina membiarkan suaminya tidur. Pria itu masih terlelap sedangkan dirinya sudah bangun untuk melakukan sholat subuh. Sean kemarin bilang jika Ia tidak tau cara sholat dan akan belajar. Bri tidak mempermasalahkan. Ada niat suaminya belajar saja sudah menjadi kesenangan tersendiri baginya. Banyak yang bisa tidak mau sholat. Lebih baik tidak bisa tapi ada kemauan untuk belajar bukan? Pikirnya.


Selesai dengan kegiatan Ibadah Bri langung menyiapkan pakaian dan handuk kalau kalau nanti Sean ingin mandi. Ia meletakkannya di meja kemudian bergegas keluar untuk ke dapur membantu Bibi yang sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi.

__ADS_1


"Sayang." Bunda tersenyum melihat kedatangan putrinya. "Suami kamu mau sarapan pakai nasi kuning nggak?" Tanya Wanita itu. "Nggak tau Bun. Biar dia coba saja." jawabnya. "Kalau tidak mau nanti makan roti bakar juga bisa." Lanjutnya sambil terkekeh. "Kalau orang bule makannya apa sih Nduk?" Tanya Bibi. "Macam macam Bi. Kalau sarapan itu biasanya pakai pancake minumnya jus jeruk. Atau makan roti, telur sama bacon." Jawab Sabrina membuat wanita paruh baya itu malah bingung. "Nggak mudeng Nduk." Jawabnya membuat Bunda tersenyum.


Sean menggeliat. Pria itu terbangun dari tidur nyamannya karena merasa Istrinya sudah tidak ada. "Jam 6." Gumamnya mendudukkan diri kemudian bersandar di headboard ranjang. "Begitu bangun harusnya dapat morning kiss. Tapi istri sudah hilang entah kemana." Gumamnya sambil terkekeh. Sabrina memang bangun pagi sekali. Sean yang terbiasa bangun saat matahari muncul tak bisa mengimbanginya. Apalagi sekarang tidurnya lebih nyenyak dan nyaman saat memeluk Sabrina membuatnya enggan untuk membuka mata.

__ADS_1


Sean mendongak ketika pintu kamar terbuka. "Morning Dear." Ucapnya sambil tersenyum melihat kedatangan sang istri. "Morning too." Jawab Sabrina menghampiri suaminya. Sean langsung mencium bibir istrinya kemudian memeluk wanita itu dengan erat. "Mau mandi sekarang? Aku siapkan airnya." Tawar Bri. Sean mengangguk. Pria itu melepaskan pelukan kemudian melepas jilbab sang istri. "Ayo mandi bersama." Kata Sean kemudian menggendong tubuh ringan Sabrina menuju kamar mandi.


Sean menghampiri istrinya yang sedang duduk di depan meja rias sembari mengoleskan pelembab bibir. "Ini sangat manis ya." Ucapnya dengan usil mengecup bibir Sabrina. "Kenapa belum ganti baju." Kata Bri membalikkan badan menghadap suaminya yang masih menggunakan handuk di pinggang. "Ini kenapa?" Tanya Bri melihat bekas luka di perut bagian kanan Sean. "Bekas kecelakaan dulu." Jawabnya memejamkan mata merasakan sentuhan jemari istrinya yang begitu menggelitik membuatnya meremang. Menyadari itu Sabrina menarik tangannya dengan cepat. "Oh Mas. Kamu punya tato." Kata Bri baru menyadari. "Astaga Sayang. Kamu baru tau. Ada namamu disana." Ucapnya sembari membalikkan badan membiarkan Istrinya melihat. Bri mengangguk disana memang tercetak jelas namanya di antara tato lain. "Kapan membuat ini?" tanya Sabrina. "Sehari setelah mengenalmu." Jawabnya sambil tersenyum. "Tidak usah terkejut begitu." Ucap Sean berbalik kemudian menciumi wajah Istrinya dengan rakus.

__ADS_1


Sabrina dan Sean memasuki ruang makan. Sudah ada Ayah dan Bunda disana. " Selamat pagi Ayah. Bunda." Sapa Sean sembari menggeser bangku untuk istrinya duduk. "Pagi Sean." Jawab keduanya sambil tersenyum. "Ayah sudah bekerja hari ini?" Tanya Sabrina. "Iya Sayang. Kalau kamu kapan Sean? Pemindahan perusahaan berjalan lancar?" Tanya Mertuanya. "Lancar Ya. Lusa Sean sudah mulai bekerja." Jawabnya mendapat anggukan dari sang mertua. "Mau makan pakai apa?" Tanya Sabrina. Sean menelisik meja makan. "Sama seperti kamu saja Yang." Jawabnya sambil tersenyum. Sabrina mengangguk kemudian mengambilkan nasi kuning untuk suaminya beserta lauk yang lain. "Kamu tidak pernah makan seperti ini ya Sean?" Tanya Bunda. "Pernah Bun. Dulu sekali waktu masih kecil. Waktu masih belum pindah. Nenek yang buatkan." Jawabnya.


Sabrina mengajak Sean untuk jalan jalan di taman belakang rumah setelah kedua orang tuanya pergi untuk ke kantor dan ke butik. "Duduk dulu." Ajak Bri menuju gazebo terdekat. "Mas. Orang tua mas meninggal karena apa?" Tanya Sabrina. "Kecelakaan mobil. Waktu itu hujan deras. Papa dan Mama akan menjenguk Nenek yang sakit keras. Mobil Papa hilang kendali kemudian terperosok ke jurang." Jawabnya. Sabrina mengangguk. "Waktu itu Mas umur berapa?" Tanyanya "Umur 16 tahun. Semenjak itu Mas memutuskan untuk tinggal sendiri. Mas benar benar merasa terpukul dengan kehilangannya mereka. Namun Kak Tamara memaksa Mas untuk tinggal bersamanya. Yah.....Jadi Mas tinggal dengan dia. Tau sendiri kan Kakakku kalau sudah cerewet sangat menyebalkan." Jawabnya sambil terkekeh. "Kak Tamara menyayangi Mas." Sean mengangguk membenarkan apa yang dikatakan istrinya. "Seperti halnya Mas yang menyayangi kamu. Sangat." Ucap Pria itu kemudian mencium dan memeluk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2