Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Di Larang Bertemu


__ADS_3

"Mau kemana Bell?" Tanya Tamara. Kini mereka sedang sarapan bersama di rumah Sean. "Mau ke rumah Tante Ma." Jawabnya membuat Sean yang sedaritadi fokus membaca novel karangan calon istri seketika mengalikan pandangan menatap keponakannya itu. "Om antar Bell." Ucapnya langsung mendapat pukulan keras di lengan dari sang kakak. "Sudah kakak bilang. Sebelum SAH kalian di larang bertemu. Telingamu itu dimana Sean." Kesal Tamara karena menuturi adik satu satunya itu tak pernah di dengarkan. "Yah. Aturan macam apa itu. Biasanya belum nikah juga boleh tidur bareng." Kata Sean dengan enteng membandingkan budaya luar dengan budaya sini. "Beda budaya. Jangan di samakan. Kalau sana jangankan tidur bareng. Di bobol nggak jadi nikah juga banyak. Kalau di sini budayanya beda. Apalagi keluarga Sabrina keluarga yang taat agama. Jangan kamu samakan." Ucap Bill merasa harus ikut campur meluruskan iparnya yang dalam berpikir kadang suka belok arah. "Dengerin Om. Budayanya beda." Bella ikut ikutan membuat Sean memutar bola matanya malas.


"Em...Sean. Ada yang mau kakak bicarakan." Ucap Tamara sambil menyantap sarapannya. "Apa?" Tanya Sean sambil mengangkat satu alisnya. "Kamu tau kan jika Sabrina itu anak tunggal dan orang tuanya hanya punya dia seorang. Jadi kamu siap untuk tinggal bersama mertuanya?" Tamara memperhatikan ekspresi adiknya. Laki laki itu tampak biasa saja. "Siap. Orang tuanya baik kok." Jawabnya. "Bukan masalah baik atau tidak baik Sean. Tinggal bersama mertua bukanlah perkara yang mudah. Kamu harus menjaga sikap. Jangan samakan ketika kamu tinggal sendiri atau bersama kakak." Tamara menjelaskan pada adiknya itu. "Iya. Aku tau kak." Jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Bella sudah sampai di rumah Sabrina. "Permisi. Sabrina nya ada?" Tanyanya pada salah seorang penjaga di rumah. "Ada Nona. Silahkan masuk. Nduk Sabrina sudah menunggu di kamarnya." Ucap Pria itu sambil membuka pintu. Bella mengangguk kemudian segera masuk ke dalam hingga seorang asisten rumah tangga mengantarnya ke kamar Sabrina yang berada di lantai dua.


"Sabrina." Panggil Bella memasuki kamar gadis itu. "Bella. Kamu sudah datang." Ucap Sabrina sambil menutup laptopnya. "Iya." Jawab gadis itu memeluk calon istri Omnya. "Mulai sekarang aku akan membiasakan memanggil kamu Aunty." Ucapnya sambil terkekeh. "Ya. Biasakan itu." Jawab Sabrina mengajak Bella untuk duduk. "Om sama Tante mana?" Tanya Bella karena tidak menjumpai orang tua Sabrina. "Ayah sedang di kantor sedangkan Bunda di butik. Katanya sedang banyak pesanan." Jawabnya. "Aku ke dapur dulu sebentar ya." Bri berpamitan.

__ADS_1


Sabrina kembali ke kamar dengan minuman dan berbagai makanan pencuci mulut untuk di nikmati bersama Bella. "Terimakasih Bi." Ucapnya pada wanita yang telah membantunya membawa itu. "Sama sama Nduk." Jawabnya kemudian berpamitan untuk kembali ke dapur. "Nduk itu apa?" Tanya Bella bingung atas panggilan asisten rumah tangga itu pada Sabrina. "Nduk itu panggilan orang Jawa untuk anak perempuan. Yang bekerja di sini sudah lama bahkan dari aku belum lahir. Jadi memanggil seperti itu sudah biasa. Mereka menganggap aku seperti anaknya sendiri." Jalan Bri sambil tersenyum. "Oh. Banyak banget makanannya. Bisa gendut aku kalau tiap hari main kesini." Ucap Bella sambil tergelak. Gadis itu mencomot kudapan manis lalu memakannya dengan semangat.


Pukul 11 siang Bella sudah sampai di rumah. Gadi itu pulang ke rumah Sean karena Mama dan Papanya masih berada di sana. "Huft." Bella meletakkan semua bawaannya di atas meja. "Kamu belanja darimana?" Tanya Tamara. "Ini semua makanan dari Aunty Sabrina Ma. Aku dah makan banyak disana." Ucapnya sambil duduk. "Dari Bri?" Tanya Sean berbinar. "Iya." Jawabnya. "Oh dia telpon." Gadis itu mengangkat panggilan yang masuk. "Ya Aunty aku sudah sampai di rumah dengan selamat." Ucapnya memberi laporan. "Perhatian sekali." Gumam Sean mendengarkan percakapan keduanya. "Bell. Tanyakan yang ini namanya apa?" Kata Sean sambil makan kudapan manis dari calon istri. "Aunty. Om Sean tanya. Yang manis tadi kita makan itu apa?" Ucap Bella. "Yang ada kacangnya tadi namanya Baklava." Jawab Sabrina di dengarkan baik baik oleh Sean. "Bri. Terimakasih ya makanannya. Semua enak. Calon suamimu saja yang rewel soal makanan sedaritadi tak berhenti mengunyah." Ucap Tamara. "Sama sama Tante." Jawab Sabrina terdengar sambil tertawa. "Em..Sudah dulu ya Bell. Syukurlah kamu sampai di rumah dengan selamat. Sudah mau masuk waktu dhuhur. Aku matikan dulu ya. Salam untuk semuanya. Assalamualaikum." Ucap Sabrina mematikan panggilannya. "Jawab Waalaikumsalam. kamu ini malah diam saja." Mama menyenggol bahu putrinya. "Ah iya. Waalaikumsalam." Kata Gadis itu terkejut.

__ADS_1


Sean tersenyum menatap sepasang cincin mewah yang masih tersimpan di kotaknya. Ia tak sabar ingin menyematkan di jari manis Sabrina. Menjadikan gadis itu sebagai istri sahnya. Mengikat dan membuat Bri selalu berada di sisi untuk menemani sampai di hari tua.


__ADS_2