Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Lebaran


__ADS_3

Sabrina dan keluarga sudah berkumpul setelah maaf maafan di hari raya. Tamara, suami dan juga anaknya turut datang untuk merayakan lebaran bersama di rumah Mertua Sean. Begitu juga Adrian dan Victor. Mereka juga merayakan lebaran bersama lengkap dengan anak anak. "Kapan kita belanja kebutuhan bayi?" Tanya Tamara begitu antusias. "Masih lama. Kakak ini." Jawab Sean sambil berdecak. "Mama. Kapan adiknya lahir?" Tanya Vi. "Masih lama sayang. Beberapa bulan lagi." Jawab Bri sambil tersenyum. "Cewek atau cowok Ma?" Tanya Andre. "Belum tau Sayang. Mama sengaja nggak lihat jenis kelaminnya biar jadi kejutan." Jawab Sabrina. "Aunty kalau beli baju gimana fong kalau nggak tau jenis kelaminnya?" Bri tersenyum. "Beli yang warnanya netral saja jadi cowok cewek bisa pakai." Sahut Bunda di angguki oleh Sabrina.


"Kue aunty enak." Kata Bella sibuk mengunyah. "Iya. Di rumah dia juga yang habisin. Aku nggak kebagian." Keluh Tamara membuat semuanya tertawa. "Hamil begini kamu repot repot bikin kue dan antar ke kita Bri." Ucap Victor. "Nggak repot Om. Daripada diam juga bosan." Jawabnya. "Masih banyak. Nanti pulang pada bawa ya. Sudah disiapkan Bri dari semalam." Mereka mengangguk menanggapi Ayah Sabrina.

__ADS_1


Siang hari setelah sholat berjamaah semuanya makan siang bersama. "Kenapa nggak mau opornya?" Tanya Bunda. "Eneg Bun." Jawab Bri. "Makan apa dong. Tadi sarapan juga nggak mau." Ayah jadi khawatir. "Masih kenyang Yah. Nanti kalau lapar Bri makan." Sean menghela napas. Napsu makan istrinya sempat membaik namun kembali menurun lagi akhir akhir ini. "Buah mau?" Tawar Sean hanya di jawab gelengan pelan.


Karena merasa khawatir Sean menyuruh Istrinya istirahat. Pria itu dengan setia menemani Bri. Mengusap kepala sang istri dengan lembut. "Masih mual ya?" Tanyanya karena Bri mengeluh seperti itu tadi. "Iya." Jawabnya lemah. "Daddy panggilkan dokter ya." Bujuknya lagi namun tetap mendapat jawaban sama. "Yasudah istirahat. Daddy temani." Ucapnya ikut berbaring.

__ADS_1


"Sudah enakan?" Tanya Bunda melihat kedatangan anak dan menantunya. "Lumayan Bun." Jawab Sabrina ikut duduk bergabung bersama kedua orang tuanya. "Kenapa makannya susah lagi? Perasaan kemarin kemarin nggak begini." Keluh Ayah Prihatin dengan kondisi putrinya yang lemas. "Kalau mau makan perut nggak enak Yah." Jawab Bri. "Gimana Ya. Kata dokter juga nggak papa." Bunda mengusap lembut kepala Bri yang tertutup jilbab. "Nanti juga baikan kok Bun." Bri tersenyum tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir. "Sean. Kamu libur berapa hari?" Tanya Ayah. "Seminggu Yah. Lebih juga boleh." Jawabnya sambil terkekeh. "Suka suka kamu. Yang punya perusahaan kamu." Pria itu menepuk bahu menantunya. "Sean. Kalau boleh bunda tanya, Istrinya Victor itu dimana? Kalau Adrian kan memang cerai. Kalau Victor?" Tanya wanita itu penasaran. "Dulu itu Victor nggak sengaja menghamili perempuan Bun waktu mabuk. Nah perempuan itu nggak ingin anak yang di kandungnya lahir makannya beberapa kali mencoba menggugurkan. Victor dengan segala cara mempertahankan bayi itu. Dia merasa bertanggung jawab. Dengan imbalan waktu itu kalau tidak salah 1M akhirnya wanita itu mau mempertahankan janinnya hingga lahir. Makannya Vi tidak pernah bertemu Ibunya sama sekali karena selesai melahirkan wanita itu pergi." Sean menceritakan kisah hidup sahabatnya. "Kasihan. Malang banget nasib Vi." Kata Bunda prihatin.


Sean menemani istrinya jalan jalan di taman belakang. "Duduk dulu ya." Kata Pria itu takut Sabrina kelelahan. "Iya." Jawabnya sambil duduk di bangku yang tak jauh dari sana. Sean merangkul pundak sang istri setelah mengecup bibir lembab itu beberapa kali. Ia kemudian menyenderkan kepala Sabrina di dadanya yang bidang. "Terimakasih." Ucap Sean tiba tiba. "Terimakasih untuk semua kebahagiaan yang kamu berikan sayang." Lanjutnya mengecup kening Bri dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2