Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Hanya Permulaan


__ADS_3

Sabrina duduk di ayunan sendiri karena Ana yang menemaninya sedang masuk ke dalam sebentar untuk mengambil minuman hangat. Manik mata Bri menangkap bayangan hitam yang berada di lorong. Wanita itu beranjak kemudian melangkah menuju kesana. "Apa ada orang?" Tanyanya semakin mendekat. Saat membalikkan badan hendak kembali tiba tiba saja seseorang membekap mulutnya dari belakang hingga membuat semuanya menjadi gelap.


"Istri saya dimana?" Tanya Sean saat seorang pelayan mengantarkan minum untuknya dan Adrian. "Sedang di taman belakang Tuan." Jawab wanita itu sembari menunduk tak berani menatap wajah tegas sang Tuan. "Suruh masuk. Ini sudah malam dan dingin. Nanti sakit." Ucapnya langsung dilaksanankan.


Tidak ada Sabrina di halaman belakang. "Ana. Mana Nyonya? Tuan menyuruh Nyonya untuk masuk karena udara sedang dingin." Ucap Seorang wanita menghampiri Ana. "Nyonya tidak ada. Tadi aku meninggalkannya sendiri untuk mengambil minuman hangat. Tapi saat kembali Nyonya sudah tidak ada." Jawabnya panik. "Sudah cari di dalam?" Tanyanya. "Sudah. Tetapi tetap tidak ada." Jawab Ana.

__ADS_1


"Bodoh. Kenapa kau meninggalkan istriku sendiri." Bentak Sean. "Maaf Tuan." Ucap Ana takut campur bersalah. "Adrian. Suruh semuanya berkumpul. Cek CCTV dan lacak dimana keberadaan istriku." Perintah Pria itu dalam satu tarikan napas.


Rahang Sean mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya saat melihat rekaman CCTV. Disana terlihat jelas istrinya sedang di bekap kemudian di bawa pergi oleh seseorang. "Bajingan itu." Gumamnya penuh emosi. "Tuan. Saya menemukan titik lokasi Nyonya. Ada di tengah hutan sekitar 25 kilometer dari sini." Ucap Seorang Pria memberikan laporan.


Di sisi lain Sabrina terbangun di tempat yang begitu asing. Suasana gelap hanya sedikit cahaya rembulan yang membantunya mengenali tempat di sini. Ia sadar sekarang sedang berada di hutan. Kepalanya sangat pusing namun Ia berusaha berdiri. Sabrina mulai berjalan sembari merapalkan doa untuk di beri keselamatan. "Bunda, Ayah, Daddy. Aku takut." Lirihnya. "Akh." Wanita itu terjatuh saat menyandung akar pohon. "Lindungi hamba ya Allah." Ucapnya.

__ADS_1


Sean terus berlari menyusuri hutan di ikuti beberapa orang. Ia mengikuti penunjuk arah. "Semakin dekat, harusnya ada di sekitar sini." Gumam Adrian. "Dengar. Ada suara tangis di depan. Itu pasti istriku." Ucap Sean berlari lagi beberapa meter kemudian berhenti. "Sayang." Pria itu memeluk Sabrina dengan erat. "Kamu baik baik saja?" Tanyanya pada sang istri yang menangis sesenggukan. Wanita itu hanya mengangguk sembari memeluk suaminya dengan erat. "Dad. Aku takut." Lirihnya. "Maafkan Daddy lalai menjagamu Sayang. Mari kita pulang. Jangan takut lagi" Ia menggendong tubuh ringan Bri setelah memberikan kecupan lembut di kening.


Sabrina sampai di rumah langsung mencuci muka dan berganti baju di bantu oleh suaminya. Kini wanita itu sedang berbaring di ranjang membiarkan Sean mengobati luka luka kecil serta memar akibat terjatuh. "Sudah. Sekarang istirahat. Daddy temani." Ucap Sean meletakkan kotak obat di nakas kemudian ikut berbaring memeluk istrinya setelah memberikan ciuman di seluruh wajah Sabrina. "Dad. Kenapa orang itu menggangguku?" Tanya Bri yang berada dalam dekapan suaminya. "Karena kamu kelemahan terbesar Daddy. Dia ingin Daddy hancur lewat kamu." Jawab Sean. "Orang itu siapa?" Tanyanya lagi. "Seorang yang dulu merupakan sahabat Daddy. Adiknya jatuh cinta pada Daddy dan bunuh diri karena patah hati. Daddy yang di salahkan. Oleh karena itu Dia menaruh dendam pada Daddy sampai sekarang." Jelasnya.


Sean masih mengusap punggung istrinya pelan meskipun wanita itu sudah tertidur pulas. "Ayah, Bunda, Daddy. Bri takut." Ucap Sabrina dengan mata terpejam. "Jangan takut sayang." Pria itu memberikan kecupan di kening sang istri. Ia merasa terpukul melihat Sabrina seperti ini. Keadaan semakin membuat istrinya dalam bahaya. Victor tak akan berhenti. Sean tau betul tentang itu. Ini baru permulaan permainannya. "Akan aku layani. Lihat siapa yang akan menderita." Lirihnya.

__ADS_1


Sosok laki laki sedang duduk sambil menikmati sampanye nya. Ia tersenyum mendapati ternyata sosok yang diceritakan putrinya dan membuat gadis itu bersemangat sekitar seminggu ini adalah istri dari Sean. "Cantik dan baik. Bagaimana Sean bisa mendapatkannya?" Gumam Victor. Ia hanya penasaran dengan Sabrina oleh karena itu memutuskan untuk menculik dan meninggalkan wanita itu di hutan yang tentu saja dengan pengawasannya agar tidak terjadi sesuatu hal yang buruk. Cinta Sean sangat besar pada Sang istri. Ia melihatnya sendiri bagaimana pria itu memperlakukan Sabrina tadi. Begitu lembut, perhatian dan penuh cinta. Puluhan tahun bersahabat Ia tak pernah sekalipun melihat Sean seperti itu.


__ADS_2